Siapkah Indonesia Menghadapi Digitalisasi Dalam Dunia Pendidikan?

Siapkah Indonesia Menghadapi Digitalisasi Dalam Dunia Pendidikan?

Indonesia diproyeksikan menduduki posisi ketiga dalam susunan Top 5 Buyers of Mobile Learning Products and Services di semua dunia pada tahun 2017. Proyeksi ini mencerminkan bahwa Indonesia merespons baik pertumbuhan teknologi yang semakin menggerus cara konvensional.

Kehidupan masyarakat Indonesia ketika ini terutama di perkotaan telah semakin dimanjakan oleh sekian banyak  layanan berbasis aplikasi. Mulai dari sistem transportasi yang merambah dunia online dengan perusahaan Go-Jek atau Grab, kemudian perusahaan digital marketplace yang semakin tidak sedikit jumlahnya, sampai penggalangan dana secara online yang diangkat oleh Kitabisa.com

Di dunia edukasi pun enggan ketinggalan. Perkembangan sekian banyak  startup Indonesia semakin mendekatkan masyarakat dengan cara belajar e-learning. Startup yang bergerak di bidang edukasi di antaranya ialah 7Pagi dan BulletinBoard yang mendigitalisasi kegiatan komunikasi antara guru di sekolah dan orangtua siswa sehingga kegiatan anak lebih terpantau, HarukaEdu yang memungkinkan mendapat  gelar sarjana dengan cara e-learning, HomeworkHero dan Mejakita yang memungkinkan murid belajar dengan rekan sebaya guna memecahkan soal-soal latihan sekolah secara online, sampai Ruangguru, Quipper, dan Zenius yang adalah platform tuntunan belajar online dengan memanfaatkan fitur website pembeljaran interaktif, video tutorial, modul digital (e-book).

E-learning ditafsirkan sebagai cara pembelajaran jarak jauh secara online dan memanfaatkan pertumbuhan tekonologi. Menurut sekian banyak  penelitian, cara belajar e-learning bisa memberikan tidak sedikit manfaat khususnya pada level perguruan tinggi.

Penelitian yang dilaksanakan di pelajaran.id Carnegie Mellon University (CMU) di Amerika menunjukkan nilai ujian mahasiswa merasakan peningkatan sebagai hasil dari cara e-learning yang diterapkan (Scott, 2000). Pemanfaatan teknologi ini memperluas cakupan pendidikan, mulai dari lokasi, waktu, sampai usia murid yang menerima guna e-learning. Tak heran, cara e-learning kemudian disebutkan sebagai penyokong konsep, “Life Long Learning”.

Penerapan cara e-learning di level perguruan tinggi memungkinkan mahasiswa memilih ruang belajar yang mereka minati, dengan masa-masa yang sesuai untuk mereka guna belajar, dengan kecepatan, dan keterampilan belajar yang bisa disesuaikan dengan individu masing-masing. Penelitian lain pun menunjukkan bahwa cara e-learning yang diterapkan di perguruan tinggi menghasilkan alumni yang secara teoritis dan praktis siap guna bekerja di era informasi (Holey, 2002).

Merespons pertumbuhan yang terjadi ketika ini, Ketua Dewan Guru Besar FKM UI yang pun adalahAdjunct Professor di Department of Infectious Disease and Global Health, Cummings School of Veterinary Medicine,Tufts University, Massachusetts, USA, Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan bahwa institusi edukasi di Indonesia mesti mulai menawarkan edukasi yang berkualitas untuk mahasiswanya supaya tidak terlindas oleh pasar internasional.

“Salah satu teknik yang dapat dipakai untuk menambah kualitas edukasi Indonesia ialah dengan merealisasikan metode belajar e-learning,” ujar Prof Wiku Adisasmito.

Untuk tersebut Indonesia One Health University Network (INDOHUN) menginisiasi i-Learn, yakni dengan menciptakan platform edukasi kesehatan digital. Selain tersebut mengajak sekian banyak  institusi edukasi untuk bekerjasama dalam meluangkan ilmu pengetahuan yang bisa diakses sekian banyak  kalangan.

Topik pembelajaran yang ditawarkan utamanya berhubungan konsep “One health”, kesehatan masyarakat, dan kesehatan global yang merupakan konsentrasi utama pekerjaan INDOHUN. Peluncuran platform ini diinginkan dapat memperkuat sistem edukasi kesehatan di Indonesia dengan membina jejaring antar institusi. Platform i-Learn sekarang dapat diakses melewati tautan https://indohun.learnbook.com.au/ atau www.i-learn.id.