Influence Theory of Leadership

Influence Theory of Leadership

Influence Theory of Leadership

Influence Theory of Leadership
Influence Theory of Leadership

Teori ini berhubungan dengan bagaimana seorang pemimpin

memengaruhi sikap dan tindakan pengikutnya. Hal ini diperlukan dalam kepemimpinan agar pemimpin mampu mengarahkan para pengikut untuk bekerjasama dalam mengatur dan mencapai tujuan. Baik pemimpin maupun pengikut, keduanya memiliki keterkaitan yakni peran hubungan resiprokal (timbal balik). Peran tersebut yang membangun suatu kepemimpinan. Namun peran yang terbagi tidak berarti bahwa terjadi dominasi maupun pemakasaan dalam kepemimpinan. Jadi, pemimpin dapat dikatakan bertugas mengajak dan menginspirasi para anggota untuk mengikuti cara pandangnya dalam proses mencapai tujuan.

H.Situational Theories of Leadership

Terdapat empat teori situasional, diantaranya: The distributed-actions theory; Bales’ interaction-process analysis; Fiedler’s situational theory; dan Hersey and Blanchard’s situational theory.
·The Distributed-Actions Theory of Leadership

Dalam teori ini terdapat dua prinsip dasar. Prinsip pertama, banyak anggota dari suatu kelompok yang menjadi seorang pemimpin dengan melakukan tindakan yang saharusnya dilakukan pemimpin, yakni membantu kelompok mencapai tujuan dan mempertahankan relasi kerja secara efektif. Prinsip kedua, kepemimpinan bersifat spesifik untuk suatu kelompok khusus dalam sebuah situasi khusus.

Interaction-Process Analysis

Teori situasional ini menjelaskan tentang proses analisis yang terjadi melalui interaksi. Misalnya, beberapa orang yang tidak saling mengenal dikumpulkan dalam satu ruangan dan memberi mereka tugas yang mengajak mereka untuk bekerja sama maka akan terjadi suatu interaksi sosial yang menimbulkan berbagai pola dan kemudian memuncul suatu struktur kepemimpinan. Orang yang bicara lebih banyak sebagian besar merupakan pemimpin (Burke, 1974; Stein & Heller, 1979). Dasar dari teori proses interaksi:

1. Ketika suatu kelompok memiliki tugas yang perlu diselesaikan, anggotanya terlibat dalam tugas yang berhubungan dengan perilaku atas dasar kesetaraan.

2. Anggota yang memiliki task behavior yang tinggi cenderung menciptakan ketegangan dan permusuhan di antara anggota yang kurang berkomitmen untuk tugas. Misalnya, orang-orang yang cenderung suka mengerjakan tugas sampai selesai dan tidak menunda-nunda pekerjaan akan menganggap remeh anggota yang lainnya yang lebih sedikit mengerjakan tugas mereka dan akan mengucilkan mereka dengan tidak berelasi dengan orang-orang tersebut.

3. Ada kebutuhan untuk tindakan yang membantu mempertahankan hubungan kerja yang efektif antar anggota. Misalnya, setiap anggota diberikan tanggung jawab untuk bekerja diluar kota bersam-sama dan melakukan pekerjaan mereka bersama, sehingga akan terjadi hubungan dan komunikasi yang baik antara anggota.
4. Anggota lain yang memiliki task actions tinggi terlibat dalam tindakan sosial-emosional. Misalnya, anggota yang suka dengan kerja lapangan jelas harus bisa berkomunikasi dengan baik dan memiliki sikap yang terbuka juga hangat terhadap orang lain, hal inilah yang dimaksudkan dengan tindakan social-emosional, karena dia dapat bersosialisasi dan memiliki control emosional yang baik.

5. Peran-peran yang berbeda (tugas dan sosio-emosional) yang stabil dan disinkronkan dengan tugas dan sosio-emosional pemimpin dapat memperkuat dan mendukung satu sama lain. Misalnya, orang yang bisa persuasi diberikan tugas untuk turun lapangan mencari data dsb, sedangkan orang yang tipe pemikir tinggal untuk melakukan pekerjaan yang melibatkan ketekunan dan ketelitian seperti mengetik atau memikirkan cara mengurangi kerugian dari produk-produk yang baru saja dirancangkan.

Fiedler’s Situational Theory of Leadership

Fiedler cenderung menekankan kepemimpinan dan kinerja organisasi. Fiedler membagi tipe pemimpin yang pertama, pemimpin yang setiap tugas anggotanya diorientasikan. Contohnya, pemimpin dengan tipe ini selalu menentukan apa yang harus dikerjakan oleh anggotanya, kemana mereka harus pergi dan bagaimana cara mereka harus bekerja. Pemimpin dengan tipe seperti ini adalah pemimpin yang kekuatan dan otoritasnya sangat tinggi. Yang kedua, pemimpin yang berorientasi pada pemeliharaan hubungan. Contohnya, seorang pemimpin yang selalu memanggil para anggotanya apabila ada kesalahan dalam pengerjaan seorang anggota. Pemimpin dengan tipe ini selalu melibatkan anggotanya dalam pengambilan keputusan. Fiedler juga mengembangkan skala yang digunakan untuk mengukur sikap seorang pemimpin agar bisa melihat siapa yang paling bisa memimpin dengan baik yang disebut skala Least Preferred Co-worker (LPC).

Terdapat 3 variabel yang menurut Fiedler berpengaruh pada peran dan pengaruh seorang pemimpin, yaitu:

1. Hubungan pemimpin dan anggota: Keinginan anggota untuk mengikuti arahan pemimpin dan pemimpin pun disukai dan dipercaya oleh anggotanya.
2. Struktur tugas: Sejauh mana anggota dapat menyelesaikan tugas berdasarkan instruksi dan prosedur yang telah ditentukan.
3. Kekuasaan berdasar posisi: Pemimpin dapat mengatur otoritas dalam memberikan punishment dan reward.