Hari LH, “Momentum Perlindungan Satwa

Hari LH, “Momentum Perlindungan Satwa

Hari LH, “Momentum Perlindungan Satwa

Hari LH, “Momentum Perlindungan Satwa
Hari LH, “Momentum Perlindungan Satwa

BANDUNG-Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati menjadi salah satu target

utama dalam perdagangan satwa liar di dunia, baik untuk jenis mamalia, reptil, burung maupun ikan. Akibatnya, beberapa satwa liar seperti Harimau Sumatera, Gajah, Trenggiling, Burung Enggang dinyatakan terancam puna, bila tidak segera ada upaya serius untuk menurunkan tingkat perdagangan satwa dilindungi ini.

Upaya inilah yang menjadi tajuk diskusi yang digagas WWF-

Indonesia dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang pada tahun 2016 mengambil tema “Zero Tolerance for Illegal Wildlife Trade”.Diskusi Publik ini dihadiri beberapa ahli dan narasumber yang bergerak di bidang Perdagangan Ilegal Satwa Dilindungi, seperti Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PolAir Bali, Polda Metro Jaya serta publik figur seperti Davina, Nugie, Jessica Milla, Ricky Cuaca, dan Jamaica Café.

Dalam pantauan pemberitaan media, selama periode Januari-April 2016

terdapat 68 kasus penegakkan hukum kejahatan terhadap satwa berupa penyelundupan, penyitaan dan perdagangan satwa dilindungi, termasuk diantaranya harimau Sumatera (9 kasus), gajah (2 kasus), orangutan (4 kasus) dan penyu (9 kasus).

Temuan kematian Gajah di beberapa daerah selama ini misalnya ditengarai

juga merupakan bagian dari perdagangan satwa liar. Dari beberapa kasus yang berhasil menangkap pelaku kejahatan dan perdagangan satwa liar, vonis yang dijatuhkan kepada para pelaku dirasa belum setimpal guna memberi efek jera.

Direktur Konservasi WWF Indonesia, Dr. Arnold Sitompul dalam release yang diterima jabarprov.go.id menyatakan, “Masih maraknya perdagangan ilegal satwa liar termasuk di situs online membutuhkan partisipasi semua pihak untuk menghentikannya. WWF mengajak agar kita bersama aktif melaporkan kejahatan dan perdagangan satwa liar kepada pihak yang berwenang.”

Salah satu yang dinilai berkontribusi dalam maraknya perdagangan satwa dilindungi, ujar Arnold adalah masih tingginya permintaan dari masyarakat yang berminat memiliki bagian tubuh satwa liar, menjadikan sebagai hewan peliharaan di rumah,, atau mengoleksi satwa liar yang sudah diawetkan, sebagai bagian dari gengsi dan gaya hidup berkelas. (NR)

 

Baca Juga :