Sekolah Terakdreditasi “A” tapi Prestasi UN Rendah

Sekolah Terakdreditasi “A” tapi Prestasi UN Rendah

Tulisan ini semata-mata sebentuk pergulatan batin penulis sebagai guru. Hal ini mungkin dapat saja dinilai sebagai usaha menelanjangi diri sendiri, dalam makna mengulas kekurangan diri di sedang mayoritas orang yang enggan jujur bersama kenyataan. Atau mungkin aku bakal dinilai sok jujur, apalagi sok hebat di hadapan orang yang menghendaki cuci tangan atau apalagi cuek bersama kasus pendidikan di NTT khususnya. Namun, aku senantiasa berada pada batas kesadaran bahwa apa yang aku katakan masih sebagai asumsi sebab masih banyak orang yang tekun berjuang memajukan pendidikan di NTT.

Secara pribadi, aku tidak habis berpikir dan terus bertanya dalam diri. Mengapa ada begitu banyak sekolah di NTT yang telah terakreditasi A, atau B tapi prestasi UNnya merosot. Berdasarkan kenyataan ini, dapat ditarik suatu asumsi yakni nilai akreditasi tidak berbanding lurus bersama prestasi studi siswa. Padahal, sejatinya ada korelasi yang berimbang antara nilai akreditasi bersama output yang dihasilkan. cara menanam hidroponik sederhana

Sejujurnya untuk meraih nilai akrediatsi A atau B buikanlah perkara yang gampang. Ada delapan standar penilaian (standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, stnadar pendidik dan tenaga kependidikan, standar layanan dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian) bersama ratusan item penilaian yang mesti dijawab dan tentu saja sesuai bersama kenyataan yang sebenarnya.

Bila ditelusuri lebih dalam, sebuah sekolah yang telah terakreditasi A artinya sekolah itu telah memenuhi semua kriteria penilaian yang ada. Itu artinya semua komponen pembentuk yang sangat mungkin untuk membuahkan peserta didik berprestasi pasti terjamin. Ya, minimal prestasi UN. JIka itu tidak terjadi, irit aku memang ada sesuatu yang keliru dalam sistem pembelajaran pun penilaiannya.

Kecenderungan yang terjadi adalah pihak sekolah mulai bangga kalau sekolahnya terakreditrasi A dan tidak terlalu mempedulikan bagaimana menambah kompetensi guru, menciptakan metode dan pendekatan yang tepat untuk menambah mutu didik siswa. Rasa-rasanya guru lebih banyak berfokus untuk merampungkan adaminsitrasi manfaat memenuhi penilaian masing-masing standar. Inilah yang kadang luput berasal dari perhatian. Dan kadang senantiasa ada argumentasi untuk membetulkan diri.

Jika demikian, sipakah yang pantas untuk disalahkan? Jawabannya masih saja terperangkap pada perihal sama yakni kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orangtua, lingkungan sosial kemasyarakatan maupun pemerintah merupakan komponen yang harusnya saling bersinergi.