Pilih Sekolah Dekat Rumah, Fawwaz Bisa Nabung Uang Jajan

Pilih Sekolah Dekat Rumah, Fawwaz Bisa Nabung Uang Jajan

Pilih Sekolah Dekat Rumah, Fawwaz Bisa Nabung Uang Jajan

Pilih Sekolah Dekat Rumah, Fawwaz Bisa Nabung Uang Jajan
Pilih Sekolah Dekat Rumah, Fawwaz Bisa Nabung Uang Jajan

Meski berusia 12 tahun Fawwaz Atha Ayman terbilang dewasa. Saat ini Fawwaz baru lulus SDN dan hendak melanjutkan ke jenjang SMPN. Fawwaz bertekad tidak membebankan orang tua dengan memilih SMPN.

“Saya ingin lebih mandiri dan tidak ingin menyusahkan orang tua,” kata Fawwaz saat ditemui di SMPN 1 Palembang, Kamis (26/7).

Sejak di bangku SD, dia rela mengurangi bermain dan terus belajar agar dapat masuk ke sekolah negeri di dekat rumahnya. Alasannya, saat pergi maupun pulang dia dapat berjalan kaki.

“Kalau jalan kaki kan bisa ngurangin ongkos sehingga biaya ongkos bisa digunakan untuk yang lain,” terang Fawwaz.

Ia bersyukur setelah melewati proses panjang akhirnya mampu masuk ke SMPN 1 Palembang. Meski, saingan untuk masuk sangat banyak dan dari berbagai tempat di Palembang. Karena memang SMPN 1 merupakan salah satu unggulan di Palembang.

“Jarak SMP dengan rumah saya itu hanya sekitar 500 meter,” ujarnya.

Ia berharap setelah berhasil masuk ke SMPN bisa mendapatkan beasiswa. Supaya dapat mengurangi beban orang tua. “Target saya dapat juara kelas dan juga dapat beasiswa,” tutupnya.

Sementara itu, Orang tua siswa, Sofuan, 40, mengaku tidak menyangka anaknya masuk sekolah tersebut. Sebab, sekolah tersebut merupakan sekolah unggulan yang tentunya banyak saingan yang harus dilewatinya.

Ia juga mengaku sejak kelas 6 SD, anaknya mengurangi waktu bermain dan memperbanyak belajar. “Alhamdulillah ini berhasil dicapainya,” katanya yang bekerja sebagai honorer di salah satu perusahaan daerah.

Ia menambahkan, dengan masuk ke SMPN dekat rumah ia juga mampu mengontrol

waktu anaknya agar lebih efektif baik dalam belajar dan juga bermain. “Saya harap ke depan juga anak saya mampu masuk ke SMA Negeri dekat rumah,” tutupnya.

Sementara itu, Salah satu orang tua Siswa SD, Adi Norman, 40, mengatakan jika ia sengaja memasukkan anaknya ke sekolah SD rumahnya. Karena lebih mudah aksesnya dan lebih efektif mengontrolnya sehingga anaknya dapat belajar optimal serta bermain.

“Dan yang pasti hemat ongkos,” ujarnya sambil tersenyum.

Meskipun sekolah berada didekat rumah. Namun, ia tidak serta merta

memasukkan anaknya tapi memperhatikan juga kualitas biar ke depan anaknya mampu bersaing dengan sekolah lain.

“Alhamdulillah sekolah anak saya ini cukup baik dan berkualitas,” tutup orang tua Chlaista Hasya Divia siswa SD Negeri 89 Palembang.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa sistem zonasi adalah kebijakan yang sesuai dengan arah pemerintah.

“Bukan terpisah. Ini rangkaian kebijakan yang utuh, terintegrasi, dan sistemik

dari upaya kita melakukan restorasi di sektor pendidikan, khususnya di sistem persekolahan,” ujar dia lewat siaran pers yang diterima JawaPos.com.

“Kebijakan ini bukan merupakan kebijakan yang terlepas dari rangkaian kebijakan sebelumnya maupun yang akan datang,” lanjut Muhadjir.

Mendikbud juga menegaskan bahwa sistem zonasi juga merupakan upaya mencegah penumpukan sumber daya manusia yang berkualitas dalam suatu wilayah tertentu. Dan mendorong pemerintah daerah serta peran serta masyarakat dalam pemerataan kualitas pendidikan sesuai amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

 

Sumber :

https://yaplog.jp/ojelhtcmandiri/archive/4