Nogogeni, Andalan D-3 Teknik Mesin Industri ITS di Kontes Mobil

Nogogeni, Andalan D-3 Teknik Mesin Industri ITS di Kontes Mobil

Nogogeni, Andalan D-3 Teknik Mesin Industri ITS di Kontes Mobil

Nogogeni, Andalan D-3 Teknik Mesin Industri ITS di Kontes Mobil
Nogogeni, Andalan D-3 Teknik Mesin Industri ITS di Kontes Mobil

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memang menyimpan banyak inovator muda.

Tak terkecuali di bidang transportasi. Salah satunya, tim Nogogeni ITS bentukan mahasiswa D-3 teknik mesin industri. Selama enam tahun berkiprah, Nogogeni tak henti berprestasi dan menghasilkan inovasi.

Ketua Nogogeni ITS Muhammad Adietya Nugraha menuturkan, tim mobil hemat energi itu terbentuk sejak 2011. Anggotanya para mahasiswa D-3 teknik mesin industri. Saat ini jumlah anggotanya mencapai 42 orang. Terdiri atas angkatan 2015 dan 2016.

Pembentukan tim tersebut sebenarnya tercetus dari tugas akhir (TA) salah seorang mahasiswa angkatan 2009–2010. Sebagai syarat kelulusan, dia menulis rancang bangun mobil listrik. Kemudian, tugas akhir itu diterjemahkan adik kelasnya sebagai sebuah tim.

Awal berdiri 2011, tim tersebut bernama Nagageni. Satu tahun berikutnya diganti Pancasona.

Kemudian beralih menjadi Nogogeni sejak 2013 hingga sekarang. Dalam bahasa Jawa, nogo berarti naga, sedangkan geni berarti api. Kalau digabung menjadi naga api. ”Naga itu makhluk besar dan api adalah simbol semangat. Jadi, artinya semangat yang besar,” jelas Adiet.

Setiap tahun, Nogogeni dikembangkan sebagai mobil listrik sesuai regulasi lomba. Karena itu, mereka tak henti mendapatkan apresiasi dan juara. Khususnya dalam Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) dan Indonesia Energy Marathon Challenge (IEMC). Juga pada Shell Eco-marathon (SEM) Asia.

Tim Nogogeni kali pertama mengikuti kejuaraan SEM Asia pada 2015 di Filipina.

Satu tahun kemudian, mereka berhasil menjadi juara saat perhelatan SEM Asia di Singapura. Kala itu mereka berhasil menduduki posisi ketiga.

Inovasi yang dilakukan biasanya membangun kembali sasis mobil. Lalu memasang baterai baru. Namun, tahun ini ada perubahan cukup besar dalam mobil buatan tim Nogogeni. Yakni, mengganti bahan bakar Nogogeni 3 Evo dari listrik ke etanol. ”Ini hal baru sekaligus tantangan bagi kami, senang mengemban tugas ini,” katanya.

Etanol merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan. Untuk mengembangkan bahan bakar baru tersebut, tim menggunakan mesin dan mekanik baru. Hingga saat ini, mereka bisa mendapatkan perolehan angka 150 kilometer per liter.

Sementara itu, pengembangan mobil listrik dilanjutkan dalam mobil terbaru mereka. Yakni, Nogogeni 5. Mereka melakukan sejumlah pembaruan. Bahan serat karbon disematkan pada tubuh mobil agar lebih ringan. Mobil pun kian lebih aerodinamis. Hingga saat ini, perolehannya mencapai 96 kilometer per kWh.

Perjuangan tim Nogogeni tidak lepas dari bimbingan para dosen. Untuk mobil listrik, mereka mendapatkan arahan dari dosen D-3 Teknik Mesin Industri ITS Dody Zulhidayat Noor, sedangkan pengembangan mobil etanol dibimbing Ir Joko Sarsetiyanto. ”Selain itu, kami minta bimbingan dosen desain produk untuk membuat desain bodi mobil,” imbuhnya.

Adiet berharap tim Nogogeni bisa terus mengembangkan inovasi sehingga menghasilkan prestasi. Penelitian yang dilakukan pun berguna menciptakan mobil hemat energi di masa depan.

 

Baca Juga :