Hermeneutika untuk Globalisasi

Hermeneutika untuk Globalisasi

Hermeneutika untuk Globalisasi

Hermeneutika untuk Globalisasi
Hermeneutika untuk Globalisasi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hermeneutika berasal dari bahasa Yunani

hermeneuein (kata kerja) yang artinya menafsirkan atau hermeneia yang artinya penafsiran. Istilah hermeneutika diturunkan dari dewa Hermes, yang tugasnya adalah menurunkan pesan dari dewa kepada manusia. Hermeneutika adalah metode untuk menurunkan pesan tersebut. Dari sini kita bisa menemukan kata-kata kunci dari hermeneutika yaitu dari subyek pemberi pesan kepada subyek penerima pesan dan antara keduanya ada perbedaan bahasa, cara berpikir, perasaan dan budaya[5]. Itu kenapa kata “menafsirkan” dijabarkan menjadi tiga fungsi yaitu untuk mengekspresikan realitas dalam kata-kata (to say), menjelaskan sebuah situasi (to explain) dan menerjemahkan realitas dalam bahasa lain (to translate). Ketiganya biasa dikenal dengan fondasi

 

“Hermes’ process”

Hermeneutika sendiri mengalami evolusi setidaknya sebanyak enam kali, yaitu sebagai teori penjelasan Injil (biblical exegesis), sebagai metodologi filsafat secara umum, sebagai ilmu tentang pemahaman bahasa, sebagai dasar metodologis bagi ilmu sosial, sebagai fenomenologi atas eksistensi dan sebagai sistem penafsiran yang digunakan untuk mencari makna di balik mitos dan simbol[7]. Artinya perubahan hermeneutika bukan isu yang ahistoris. Reformasi hermeneutika semakin menemukan urgensinya dalam konteks dunia global, yang ditandai dengan perkembangan hermenetis.

 

Dalam situasi global, hermeneutika

bukan hanya menyampaikan pesan dari dewa kepada manusia, tetapi dari satu orang ke orang lain, dari penulis teks kepada pembaca, dari leluhur ke generasi berikutnya, dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain, dsb. Komunikasi juga berkembang, bukan hanya proses lalu linta kata, data, informasi tentang obyek tertentu, melainkan sebuah proses dialektika yang memungkinkan subyek masuk dalam satu kesadaran yang lebih dalam tentang nilai dan budaya sehingga komunitas yang dihidupi itu dijalani secara bermartabat[8]. Metode berkomunikasipun juga semakin berkembang dengan adanya teknologi internet.

Kondisi yang demikian, tidak bisa lagi didekati dengan cara berpikir rasionalisme (Cartesian) yang memisah-misahkan komponen-komponen kemudian merangkai kembali. Dalam dunia global, beings memiliki makna dan potensi pada dirinya sendiri, bukan makhluk asing (alien) dari beings yang lain. Cara berpikir modern yang mengedepankan rasio justru melahirkan “krisis rasio”, yaitu sebuah kondisi dimana kemampuan rasio manusia direduksi sehingga hanya bersifat empiris[9], eksternal[10], instrumental[11], utilitarian[12] dan eksploitatif[13]. Cara berpikir demikian mengakibatkan hilangnya kesatuan antara yang fisik dan metafisik.

 

Untuk itu, McLean merujuk pada pemikiran Nicholas Cusa

tentang intellection,[14] yaitu cara berpikir yang dimulai dari pengintuisian terhadap yang partikular. Disini kita berpikir secara global dan abstrak terhadap karakter unik dari sertiap orang dan masyarakat. Yang partikular bukan lawan dari yang global melainkan bagian. Intellection itu seperti matematika tetapi obyeknya adalah kehidupan manusia. Setiap hal dipertimbangkan sebagai konstituen dari yang keseluruhan. Intellection bekerja bersama imajinasi dan argumentasi, sehingga bisa membedakan mana kemungkinan, mana aktual dan mana fakta. Berbeda dengan argumentasi, intellection terlibat dengan pengalaman manusia, flora-fauna, sungai, lembah, dst. Sedangkan argumentasi memandang obyek dari ketinggian.

Heidegger juga menyumbangkan reformasi hermeneutika terhadap globalisasi dengan mengkritik cara pendekatan yang dilakukan oleh filsuf modern dalam memahami dunia. Menurutnya memahami dunia bukan dengan teknologi (astronot dan teleskop) melainkan dengan konsep kemenghunian, dalam arti bahwa dunia tidak berjarak dengan manusia, oleh karenanya ada hubungan emosional antara manusia dan dunia. Heidegger juga menolak pandangan sains modern yang melalui pendekatan matematika dan fisika mendefinisikan dunia sebagai potret atau sesuatu yang sudah ada sebelum manusia dan serial obyek-obyek kalkulasi. Menurutnya cara pandang seperti itu mengakibatkan dunia menjadi suatu sistem yang beku, mati dan final yang secara filosofis tidak bisa dipahami.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia