Menghidupi “Komunitas Global”

Menghidupi “Komunitas Global”

Menghidupi “Komunitas Global”

Menghidupi “Komunitas Global”

Bukan manusia jika hidup hanya sekedar fisik.

Iya, manusia selalu mengejar kehidupan metafisik, kehidupan yang bermartabat. Pertanyaan bagaimana menghidupi “komunitas global”, persis diletakkan dalam konteks etis ini, yang penjelasannya dimulai dari bagaimana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, bagaimana manusia berhadapan dengan beings yang lain dan bagaimana manusia bersama beings yang lain mewujudkan kehidupan yang beradab itu.

 

McLean memberikan fondasi metafisik dan religi

dalam isu globalisasi dengan merujuk pada pemikiran Nicholas Cusa yang melihat kehidupan global sebagai “unity in the whole”, dimana ada empat level unity. Pertama, individual unity dimana setiap being ada secara berbeda dengan yang lain. Kedua, individual within the whole beings unity, yaitu setiap being ada sebagai warga dari komunitas global. Ketiga, unity of the universe, yaitu beings itu bereksistensi dalam keberagaman bukan seperti satu gundukan batu. Keempat, absolute unity atau the One, God or Being, yaitu beings yang hidup dalam kepenuhannya[15]. Dengan demikian, ada dua prinsip yang menggerakkan “komunitas global”, yaitu prinsip individualitas dan prinsip komunitas. Prinsip individualitas maksudnya setiap individu berkontraksi secara unik dengan nilai-nilai yang melekat padanya. Prinsip komunitas maksudnya kontraksi individu yang unik itu saling berelasi dengan gerak unik individu lain, membentuk komunitas yang saling terhubung dalam level ontologis[16]. Komunitas global ini juga dilihat sebagai keberagaman dalam kesatuan (diversity and unity), maksudnya gerak unik setiap individu tidak selalu setara dengan individu yang lain, karena karakter dan kondisinya berbeda-beda.

 

Individu yang unik itu menurut McLain adalah

yang memiliki “subyektifitas” dan “realisasi diri”[17]. Subyektifitas adalah posisi manusia sebagai subyek yang memiliki keunikan sebagai pribadi, makhluk sadar, makhluk eksistensial yang memiliki kebebasan dan martabat. Manusia adalah pusat dan bukan obyek yang bisa diukur dengan ilmu sosiologi maupun psikologi. Manusia lebih kaya dari ukuran yang dikenakan padanya. Sedangkan “realisasi diri” maksudnya mengajak manusia untuk berpikir tentang masa depannya sendiri. Manusia menjadi penentu bagi perkembangan dirinya sendiri. Manusia selalu berada dalam proses “menjadi”, yang itu mengandaikan adanya tujuan, kebebasan dan tanggungjawab. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan eksistensial[18] yang melampaui kebebasan empiris[19]. “Kebebasan eksistensial” dalam proses “menjadi” ini memiliki beberapa makna. Pertama, sebagai tujuan yang memungkinkan dirinya dapat menyadari hidup sebagai sesuatu yang rasional dan bebas. Kedua, sebagai sumber kreatifitas yang memampukan manusia untuk berimajinasi dan melaksanakan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas. Ketiga, sebagai perwujudan atau manifestasi kesadaran manusia yang berusaha menjawab tantangan hidup sesuai dengan kapasitasnya. Keempat, sebagai kriteria bagi manusia untuk mempertimbangkan aksi macam apa yang akan dieksekusi. Kelima, sebagai penentu dan dasar bagi manusia dalam melakukan pilihan, persetujuan/penolakan akal segala hal.

 

Sedangkan Nietzsche menggunakan istilah

“ubermensch” atau manusia otentik. Menurutnya manusia otentik adalah yang menempatkan kepercayaan secara bijaksana, tidak menjadi ketergantungan. Dia berani membuang apapun yang menghalangi keotentikan manusia, membuat manusia terasing dari dirinya sendiri, menjatuhkan manusia dan mematahkan manusia. Dia berani melepas pujaan-pujaannya (mengingat manusia adalah binatang pemuja). Dia juga berani menghidupi tegangan kehidupan (yang mengerikan sekaligus indah). Manusia baru adalah “roh bebas” yang tidak lagi butuh percaya. Dia tahu bahwa kepercayaan itu tetap ada sekaligus ia tahu bahwa ia sedang bermain dengan permukaan-permukaan yang kadang memikat dan kadang mengecewakan[20].

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi