Ruth Indiah Rahayu

Ruth Indiah Rahayu

Ruth Indiah Rahayu

Ruth Indiah Rahayu
Ruth Indiah Rahayu

The German Ideology

merupakan karya Karl Heinrich Marx (1818-1883) bersama Friedrich Engels (1820-1895) yang ditulis antara 1845-1846, ketika Marx berada di dalam pengungsiannya di Brussels. Menurut Magnis-Suseno, dalam Pemikiran Karl Marx[2], karya The German Ideology ini tergolong pada fase menuju “Marx tua”. Komunitas Marxian telah membuat penggolongan pemikiran Marx ke dalam kategori “muda” ialah untuk pemikirannya sebelum 1846 yang disebut humanis[3], sementara kategori “tua” ialah untuk pemikirannya pasca-1845 yang disebut anti-humanis atau ilmiah[4]. Maka The German Ideology tergolong sebagai karya humanis menuju ilmiah, barangkali dapat disebut sebagai karya peralihan dari humanis menuju anti-humanis. Magnis-Suseno menegaskan bahwa fase “Marx muda” menuju “Marx tua” merupakan perkembangan yang berjalan berkesinambungan. Maka pengertian humanis menuju anti-humanis bukan merupakan pemikiran yang terpenggal, melainkan perkembangan yang berkelanjutan. Di dalam naskah The German Ideology ini perihal mendasar yang dipersoalkan Marx ialah, pertama, mengapa masyarakat yang nyata, masyarakat Prussia, kebalikan dari masyarakat rasional dan bebas seperti yang dipikirkan oleh Hegel? Persoalan yang kedua ialah bagaimana agar filsafat dapat mendorong perubahan sosial?

 

Konteks Hegelian Muda Kanan dan Naskah The German Ideology

Menurut Phil Gasper[6], naskah The German Ideology tidak diterbitkan sepanjang Marx masih hidup, karena dikhawatirkan bakal terancam keamananya. Realitas Prussia pada masa itu didominasi oleh kaum “Hegelian Muda Kanan” yang idealis –dalam arti menggunakan filsafat idealisme Hegel, tetapi mereka pendukung agama (Protestan) agama negara, agama penguasa totaliter Prusia.

 

“Hegelian Muda Kanan”

Siapa yang dimaksud kaum “Hegelian Muda Kanan”, Magniz-Suseno menjabarkan konteks tumbuhnya kelompok Hegelian ini[7]. Dalam situasi politik Prusia yang kolot dan otoriter, di Berlim tumbuh kelompok muda yang kritis dan radikal yang mulanya menamakan diri Klub Para Doktor. Marx yang kala itu studi doktoral di Univesitas Berlin bergabung dalam klub tersebut dan segera menjadi anggota paling radikal. Kelompok ini menggunakan filsafat Hegel sebagai alat kritik terhadap situasi politik Prusia. Hegel diartikan sebagai guru revolusi, karena filsafatnya menekankan pada rasionalitas, kebebasan dan sedikit ateistik. Maka klub para doktor itu kemudian disebut kaum Hegelian Muda. Tetapi kaum Hegelian Muda ini segera pecah, ketika sebagian dari mereka juga menentang pengaruh dominansi agama (Protestan) dan para penentang ini disebut “Hegelian Kiri”. Marx termasuk Hegelian Kiri, sehingga berseberangan dengan Hegelian Kanan. Marx terkesan oleh Hegel tetapi pada perkembangannya melihat adanya inkonsistensi pada filsafat Hegel. Dalam disertasinya, Marx telah menulis kritiknya terhadap Hegel, bahwa Hegel hanya merumuskan pikiran. Terpenting bagi Marx adalah bagaimana pikiran itu menjadi kenyataan. Marx katakan:[8] “orang Jerman berpolitik di dalam pikirannya, sementara orang dari negara lain telah menjadi tindakan”.

 

Setelah mendapat pengaruh dari filsafat Feuerbach, Marx

dan Engels mulai berani melancarkan kritik kepada kaum Hegelian Muda Kanan tersebut[9]. Feuerbach mengkritik idealisme Hegel dan menawarkan analisis materialis terhadap agama. Kritik Feurbach yang mengesankan Marx ialah bahwa Tuhan hanyalah proyeksi manusia, maka teologi dan akal budi harus turun ke ranah manusia (antropologi). Berfilsafat adalah memahami yang konkrit atau inderawi dan yang konkrit adalah manusia. Maka, ide tentang Allah berasal dari keinginan ideal manusia akan ketidakterbatasan dan keabadian. Tesis Feuerbach ini kemudian bagai anak panah yang diterbangkan Marx ke jantung kaum Hegelian Muda Kanan.

Demikianlah, anak panah tadi bertebaran di dalam naskah The German Ideology yang terdiri dari Prakata, dan dua tesis tentang Materialisme dan Tahap Perkembangan Sejarah menuju Komunisme. Pada halaman “prakata”[10], Marx menulis orasi yang tandas menghunjam ke jantung kaum Hegelian Muda Kanan, dan mengajak orang untuk membunuh isi kepala mereka (dead head). Marx menulis praragraf pertama dengan pernyataan: Selama ini manusia menciptakan konsepsi yang salah mengenai diri mereka sendiri, mengenai apa yang mereka lakukan dan apa yang seharusnya mereka jalankan…..”. Kaum Hegelian Muda Kanan terlampau sibuk mengurus dirinya dalam berhubungan dengan ide Tuhan. Mereka mengeluarkan “hantu-hantu” dari dalam otaknya ke tangan mereka dan menyembah sujud ke hadapan Tuhan sebelum mencipta. Mereka sungguh kekanak-kanakan, yang ide-idenya tak hanya diterima oleh masyarakat Jerman dengan perasaan ngeri bercampur kagum, tetapi mereka dinyatakan sebagai pahlawan filsafat yang memperkukuh posisi kelas menengah Jerman. Marx hendak menelanjangi embikan palsu domba-domba Hegelian Muda tersebut. Ajakan Marx yang sungguh provokatif: Mari katakan, satu, gantikanlah imaginasi pemikiran yang berhubungan dengan esensi manusia. Mari katakan, dua, kritik sikap mereka (Hegelian Muda). Mari katakan yang ketiga, pukul mereka keluar dari kepalanya….maka realitas mereka akan runtuh. Prakata ini sungguh mengungkapkan semangat Marx yang membara.

Baca Juga :