Negara-negara Tradisional Hindu-Budha Di Indonesia

Negara-negara Tradisional Hindu-Budha Di Indonesia

Sistem Negara Kerajaan Hindu-Buddha
Interaksi Indonesia-India sudah berjalan sejak tahun 1000 Sebelum Masehi dan makin lama intensif sejak abad II M. Kedua bangsa sudah bertemu di dalam perdagangan internasional. Komoditas yang diperdagangkan antara lain logam mulia, perhiasan, kerajinan, wangi- wangian, dan obat-obatan. Dari Indonesia bagian timur muncul komoditas kayu cendana, kapur barus, dan cengkih. Interaksi ke-2 bangsa di dalam bidang perdagangan itu membuka jalur bagi masuknya agama dan kebudayaan India ke Indonesia.

Info Tambahan;
Pengaruh India di Bali
Pengaruh India di Bali kebanyakan dihubungkan bersama dengan kelahiran dan berkembangnya bermacam sekte, menjadi dari sekte Sambu, Brahma, Indra, Wisnu (Waesnawa), Bayu dan Kala. Sekte-sekte tersebut mengalami hubungan bersama dengan keyakinan lokal di Bali. Interaksi antara bermacam sekte bersama dengan keyakinan lokal memicu tahu keagamaan yang terbangun tidak seutuhnya bertahan di dalam wujud aslinya (autentisitas) melainkan mengalami proses silang budaya bersama dengan keyakinan lokal.
Selain menghadapi pengalaman bersama dengan keyakinan lokal, tahu keagamaan yang bersendikan pada sekte hidup di dalam pluralitas yang bisa saja berakhir bersama dengan benturan-benturan tahu keagamaan. Keberagaman sekte-sekte itu lantas diakomodasi di dalam konsep Tri Kahyangan oleh Mpu Kuturan ( Senapati Pakiran-kiran I Jero Makabehan) sekitar 923 Saka.
Selain kehadiran sekte-sekte, pengaruh India juga muncul dari beberapa konsep sebagai berikut.
1.Konsep Pakraman
Konsep pakraman pada dasarnya adalah sebuah tatanan penduduk yang hidup di dalam tradisi India. Tatanan itu disebut bersama dengan Grama yang artinya tatanan (sekarang di India disebut Grama Penchayat). Di Bali, arti grama ini diterima jadi krama dan sesudah itu jadi pakraman. Dengan demikian, proses sosial Bali Kuno merupakan reproduksi tatanan sosial di India.
2.Legenda dan Mitologi
Ada beberapa legenda dan mitologi yang berkembang secara historis pada masa Jawa/ Bali Kuno.
a.Legenda Aji Saka, yang mengisahkan bagaimana seorang keturunanBrahmana dari India dan menetap di Medang Kemulan. Aji Saka lantas dikisahkan bisa membangun ketertiban dan peradaban sehabis mengalahkan Prabu Baka yang berwatak raksasa (tidakberadab).
b.Kisah ke-2 dicantumkan di dalam kitab Tantu Pagelaran yang menceritakan asal mula Batara Guru yang pergi bersemadi di Gunung Dieng untuk berharap kepada Brahma dan Wisnu supaya Pulau Jawa diberi penghuni. Akhirnya, Brahma menciptakan kaum laki-laki dan Wisnu menciptakan kaum perempuan. Selain itu dikisahkan juga semua dewa menetap di bumi baru itu dan memindahkan Gunung Meru dari Jambhu Dwipa. Sejak itu gunung yang disebut pinkalalingganingbhuwana itu tertanam di Pulau Jawa.
c.Kisah legenda ketiga adalah kehadiran Dinasti Warmadewa yang lebih dihubungkan bersama dengan India dibandingkan bersama dengan Jawa. Walaupun hubungan bersama dengan Jawa selanjutnya terbangun kala putra Udayana, yang bernama Airlangga jadi menantu Raja Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama di Pulau Jawa dan lantas memegang kekuasaan atas Pulau Jawa.
(Sumber: www.balipost.co.id)

Setelah bangsa kami berinteraksi bersama dengan bangsa India, banyak perubahan berjalan di dalam kehidupan bangsa kita. Selain bisa punyai kebolehan menulis, kami juga mengenal proses pemerintahan kerajaan dan bisa mengembangkan kebudayaan secara lebih maju.

Salah satu pengaruh India yang sampai kini tetap bisa kami rasakan adalah dikenalnya proses pemerintahan kerajaan. Sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, kami belum mengenal proses pemerintahan kerajaan. Waktu itu, kehidupan sosial kami meliputi klan-klan yang yang dipimpin oleh seseorang yang dianggap tertua atau paling berpengaruh di antara mereka. Klan-klan itu tersebar di bermacam pulau di Indonesia bersama dengan corak yang beragam. Kehidupan layaknya itu sudah berjalan sejak purba sampai awal abad Masehi.

Setelah pengaruh India masuk, tipe sosial kemasyarakatan itu pelan-pelan mengalami perubahan. Beragam nilai dan proses kehidupan yang berlaku dan berkembang di India, menjadi menukar nilai dan tradisi lokal yang tersedia di Indonesia. Sistem pemerintahan kerajaan pun menjadi diterapkan di bermacam daerah di Indonesia.

1. Negara Kerajaan Kutai
Prasasti yang bersifat yupa atau tiang batu berjumlah tujuh buah ditulis bersama dengan memakai huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Para ahli epigrafi sukses membaca isikan prasasti itu supaya kami beroleh berita tentang Kerajaan Kutai yang perihal bersama dengan kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Kerajaan itu diperkirakan muncul pada abad V M atau sekitar tahun 400 Masehi.

a. Kehidupan Politik
Menurut prasasti tersebut, raja Kerajaan Kutai yang terbesar adalah Mulawarman. Ia adalah putra Aswawarman, sedang Aswawarman adalah putra Kundunga. Ditilik dari nama sebutannya, para ahli berpendapat bahwa nama Mulawarman dan Aswawarman beroleh pengaruh dari India. Karena, di India juga ditemukan nama-nama serupa. Sebaliknya, para ahli mengatakan bahwa nama Kundungga yang merupakan kepala suku itu adalah nama asli Indonesia. Selain itu, prasasti Yupa juga menyebut Aswawarman sebagai Dewa Ansuman atau dewa Matahari dan dianggap sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja.
Raja Mulawarman sendiri sudah menganut agama Hindu. Bahkan di dalam prasasti itu ditulis bahwa ia sudah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para brahmana. Ia merupakan pendiri dinasti di dalam agama Hindu.

b. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial di dalam Kerajaan Kutai bisa dicermati dari pelaksanaaan upacara penyembelihan kurban. Salah satu yupa mengatakan bahwa Raja Mulawarman mengimbuhkan sedekah bersifat 20.000 ekor lembu kepada kaum brahmana. Sedekah itu sendiri dijalankan di tanah suci yang bernama Waprakeswara,yaitu daerah suci untuk memuja Dewa Syiwa. Dari momen itu, kami bisa lihat bahwa hubungan yang berjalan antara Raja Mulawarman bersama dengan kaum brahmana terkait secara erat dan harmonis.

c. Kehidupan Ekonomi
Ketujuh Yupa yang ditemukan di sekitar Muarakaman tidak mengatakan secara spesifik kehidupan ekonomi Kerajaan Kutai. Hanya tidak benar satu Yupa mengatakan bahwa Raja Mulawarman sudah mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan brahmana. Tidak tersedia sumber yang pasti tentang asal usul emas dan sapi yang biasa digunakan untuk upacara-upacara kerajaan. Tetapi dari situ kami bisa menduga bahwa Kerajaan Kutai sudah melakukan kesibukan perdagangan.

d. Kehidupan Budaya
Karena Kerajaan Kutai sudah mendapat pengaruh agama Hindu, maka kehidupan agamanya sudah lebih maju. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan upacara penghinduan atau pemberkatan seseorang yang memeluk agama Hindu yang disebut Vratyastoma.
Upacara tersebut dijalankan sejak pemerintahan Aswawarman dan dipimpin oleh para pendeta atau brahmana dari India. Baru pada masa pemerintahan Mulawarman, upacara tersebut dipimpin oleh kaum brahmana dari Indonesia. Dari situ kami bisa lihat bahwa kaum brahmana dari Indonesia ternyata sudah punyai tingkat intelektual yang tinggi dikarenakan bisa menguasai bahasa Sanskerta. Karena, bahasa ini bukanlah bahasa yang dipakai sehari-hari oleh rakyat India melainkan bahasa resmi kaum brahmana untuk kasus keagamaan.

2 Negara Kerajaan Tarumanegara
Sejarah Kerajaan Tarumanegara terungkap lewat serangkaian prasasti-prasasti yang sukses ditemukan di bermacam daerah. Salah satu dari prasasti yang perihal bersama dengan keberadaan Kerajaan Tarumanegara. Namanya adalah prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea. Bahasa yang digunakan di di dalam prasasti itu adalah bahasa Sanskerta bersama dengan huruf Pallawa terdiri atas empat baris syair. Dari beberapa prasasti yang sukses ditemukan, kami bisa mengartikan beberapa segi di dalam kehidupan Kerajaan Tarumanegara.

a. Kehidupan Politik
Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M di pinggir Sungai Gomati. Pada tahun 397 M, Purnawarman membangun ibu kota kerajaan baru di Sundapura. Raja Purnawarman adalah raja ketiga yang punyai kekuasaan besar, sangat berpengaruh, dan punyai beragam kebijakan. Kekuasaan raja dilambangkan bersama dengan cap telapak kaki layaknya yang terkandung pada prasasti Ciaruteun, Jambu, dan Cianteun. Sebagai perbandingan, di India cap telapak kaki itu melambangkan kekuasaan. Dalam interpretasi yang lain, Purnawarman dilambangkan sebagai Dewa Wisnu yang merupakan penguasa dan pelindung rakyat. Purnawarman diketahui banyak menundukkan daerah musuh-musuhnya.

Pada masa pemerintahan Suryawarman, kekuasaan raja-raja daerah dikembalikan sebagai hadiah kesetiaannya pada Tarumanegara. Pengembalian kekuasaan diberikan kepada Rakeyan Juru Pengembat, yang merupakan wakil raja di daerah tersebut. Menurut Pustaka Nusantara , kekuasaan Purnawarman meliputi 48 raja daerah yang membentang dari Salanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai Purwalingga (sekarang Purbalingga). Hingga akhir kekuasaannya, Tarumanegara cuma punyai dua belas orang raja. Kedua belas raja itu adalah: Jayasingawarman (358–382), Dharmayawarman (382–395), Purnawarman (395–434), Wisnuwarman (434–455), Indrawarman (455–515), Candra- warman (515–535), Suryawarman (535-561), Kertawarman (561–628), Sudhawarman (628–639), Hariwangsawarman (639–640),Nagajayawarman (640–666), dan Linggawarman (666–669).

Info tambahan;
Prasasti Bukit Koleangkak
shriman knowledge kertajnyo narapatir-asmo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatammo tasyedam- pada-vimbadavyam arnagarotsadane nityadksham bhaktanam yangdripanam -bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
Terjemahan menurut Prof. Vogel:
Yang termasyur serta setia kepada tugasnya yaitu raja yang tidak ada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak bisa ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah ke-2 jejak telapak kaki ini, yang selamanya sukses menghancurkan benteng musuh, selamanya menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.
Sumber: www. id.wikipedia.org

b. Kehidupan Sosial
Sebagai kerajaan Hindu yang beraliran Wisnu, Tarumanegara juga menggerakkan upacara sedekah bersama dengan menyembelih 1.000 ekorsapi yang diserahkan kepada kaum brahmana. Upacara tersebut dijalankan pada tahun 417 M sehabis penggalian Sungai Gomatidan Candrabhaga selesai dilaksanakan. Saluran air tersebut punyai panjang 6.112 tombak atau sekitar 11 km. Menuru prasasti Tugu, saluran tersebut dibikin untuk menghadapi bencana banjir dan merawat petani. Proyek ini dijalankan secara gotongroyong dan melibatkan semua rakyat di dalam kala 21 hari.

c. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi Kerajaan Tarumanegara didasarkan pada bidang pertanian. Menurut catatan Fa Hien pada abad V M, segi kehidupan itu meliputi pertanian, peternakan, perburuanbinatang, dan perdagangan. Komoditas yang diperdagangkan antara lain bersifat cula badak, perak, dan kulit penyu. Dari prasasti Tugu,kita bisa tahu bahwa Raja Purnawarman sangat menyimak bidang pertanian.

d. Kehidupan Budaya
Masuknya pengaruh agama dan kebudayaan Hindu, pengaruhi kehidupan budaya Kerajaan Tarumanegara. Pengaruh itu bersifat proses dewa dewi, bahasa dan sastra, mitologi, dan upacara. Mitologi Hindu yang banyak ditemukan di dalam prasasti-prasasti Tarumanegara adalah Airawata. Misalnya yang terkandung pada prasasti Telapak Gajah. Gajah tunggangan Batara Indra itu dijadikan nama gajah perang milik Purnawarman. Bahkan, bendera Kerajaan Tarumanegara berlukiskan alur bunga teratai di atas kepala gajah.

Selain dari sejumlah prasasti di atas, berita tentang keberadaan Kerajaan Tarumanegara juga bisa ditemukan di luar negeri. Pada tahun 414 M, Fa Hien memicu buku yang berjudul Fa-Kao-Chi . Isinya antara lain menceritakan bahwa di Ye-po-ti cuma sedikit orang-orang yang beragama Buddha. Menurut berita dari Dinasti Sui, pada tahun 528 dan 535 sudah mampir utusan dari To – l o – m o yang terdapat di selatan. Sedangkan berita dari Dinasti Tang, mengisahkan datangnya utusan dari To – l o – m o pada tahun 666 dan 669. Secara fonetis, To – l o – m o adalah sebutan untuk Taruma(negara).

3. Negara Kerajaan Mataram Kuno
Dari beberapa negara kerajaan Hindu yang tersedia di Indonesia, bisa jadi cuma Kerajaan Mataram Kuno yang punyai sumber histori paling lengkap. Karena, tak sekedar ditemukannya prasasti juga di dukung bersama dengan penemuan beragam wujud candi. Dari bermacam sumber histori tersebut, kami bisa mengartikan bagaimana kehidupan Kerajaan Mataram Kuno.

a. Kehidupan Politik
Menurut prasasti Canggal, raja yang awal mulanya memegang kekuasaan Kerajaan Mataram adalah Sanna, lantas digantikan oleh Raja Sanjaya. Sementara itu, silsilah raja-raja Mataram dimuat di di dalam prasasti Mantyasih, yang ditemukan di daerah Kedu. Menurut prasasti yang berangka tahun 907 M itu, raja Mataram secara urut adalah Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah Balitung. Raja-raja tersebut berasal dari wangsa Sanjaya.

Kerajaan Mataram diperintah oleh dua dinasti yaitu wangsa Sanjaya (Hindu Syiwa) dan wangsa Syailendra (Buddha). Raja- raja yang berasal dari wangsa Syailendra antara lain Bhanu, Wisnu, Indra, dan Samaratungga atau Samagrawira. Kedua dinasti itu selanjutnya menyatu sehabis berjalan pernikahan antara Rakai Pikatan bersama dengan Pramodwawardhani (putri dari Samaratungga).

Sementara itu, putra Samaratungga yang lain yaitu Balaputradewa menyingkir ke Sriwijaya sehabis gagal merebut kekuasaan Mataram. Kekuasaan Mataram lantas dipegang oleh dinasti Sanjaya sampai abad X di bawah Raja Wawa. Inilah kala Mataram mengalami masa surut dan ubah ke Jawa Timur di bawah Mpu Sendok.

b. Kehidupan Sosial Budaya
Prasasti Canggal yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir itu juga menceritakan pendirian lingga (lambang Syiwa) di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Sementara itu, menurut prasasti Kalasan, Raja Panangkaran mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara dan biara untuk pendeta. Raja Panangkaran juga menghadiahkan desa Kalasan untuk para sanggha. Bangunan yang tertera di di dalam prasasti Kalasan itu adalah Candi Kalasan. Sementara itu, menurut prasasti Klurak yang ditemukan di Prambanan, Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya memicu arca Manjusri (candi Sewu).

Keberadaan Kerajaan Mataram juga di dukung oleh sejumlah bukti bersifat candi. Misalnya, kompleks candi di Pegunungan Dieng, Candi Gedong Songo (Jawa Tengah bagian utara), Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sambisari (Jawa Tengah bagian selatan).

c. Kehidupan Ekonomi
Dalam kehidupan bidang perekonomian, tidak disebutkan di dalam bermacam prasasti yang sukses ditemukan. Hanya saja, ditilik dari posisinya, Kerajaan Mataram terdapat di pedalaman. Daerahnya dikelilingi oleh sungai-sungai besar layaknya Progo, Elo, Bogowonto, dan Bengawan Solo. Letak itu memicu tanahnya subur dan padat penduduknya. Dalam perkembangannya, Raja Balitung mengembangkan kehidupan pelayaran bersama dengan memakai Sungai Bengawan Solo.

Info Tambahan;
Pengaruh Seni Arsitektur India
Sebagai akibat dari dikenalnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha maka kebudayaan bangsa Indonesia (terutama Jawa) juga mengalami perkembangan. Hal itu bisa dicermati dari seni arca dan seni bangunan (arsitektur). Sebelum kehadiran pengaruh Hindu-Buddha, bangsa kami punyai tradisi memicu bangunan megalitikum untuk menghormati arwah leluhur.
Saat pengaruh India yang memuja tempat-tempat tinggi masuk Indonesia, bangsa Indonesia juga mengikutinya. Apabila dicermati perkembangannya, maka bangunan-bangunan awal cuma bersifat bangunan batur ( soubasement) yang terbuka. Belum tersedia atap supaya arca atau lingga dan yoni bisa muncul dari luar. Mulai abad IX M, berjalan perubahan besar di di dalam seni arsitektur. Misalnya bersama dengan penambahan dinding, relung-relung, dan susunan atap yang terbuat dari batu. Bangunan ini muncul pada candi di Jawa Tengah layaknya Candi Bima di Dieng, Candi Lumbung di Prambanan, dan Candi Pervara di kompleks Candi Sewu. Semakin tinggi pengaruh Hindu-Buddha yang masuk maka wujud bangunannya makin lama cocok bersama dengan kaidah ajaran Hindu-Buddha atau kuil- kuil pemujaan dewa yang tersedia di India. Misalnya beberapa candi di Dieng serupa bersama dengan Arjuna Ratha, Draupadi Ratha, dan Dharmaraja Ratha dari Dinasti Pallava di Mabalipuram. Atau Candi Bima yang serupa bersama dengan bangunan suci Orissa di India. Atap Candi Bima yang dihiasi sikhara serupa bersama dengan atap kuil pemujaan dewa pada bangunan Parasurameswara di Bhuvaneswara.
Setelah keahlian memicu bangunan itu diterima oleh penduduk maka sesudah itu dikembangkan cocok bersama dengan kebudayaan lokal yang sudah berkembang sebelumnya. Ciri-ciri keindiaan cuma tinggal seni arca dan ornamennya dan makin lama pudar sejalan bersama dengan makin lama menguatnya kreasi lokal. Misalnya pada Candi Barong dan Candi Ijo yang halamannya dibikin bertingkat layaknya punden berundak di dalam bangunan prasejarah.
Mulai abad XIII–XV M seni arsitektur bangunan suci sudah punyai jenis dan wujud sendiri. Bentuk arsitekturnya bisa dicermati dari candi-candi bergaya Singasari, jenis Candi Ijo, jenis Candi Brahu, dan jenis punden berundak. Dalam keempat jenis tersebut, pengaruh India sudah menipis dan tinggal sedikit. Bahkan kompleks bangunan Candi Panataran tidak lagi menampilkan corak bangunan suci layaknya di Jawa Tengah tapi sudah mengakomodasi seni bangunan Bali. Apalagi jenis punden berundak, tahu merupakan tipe asli pribumi yang dikembangkan kembali. Akhirnya pengaruh India cuma tinggal konsep-konsep keagamaan, kedewataan, dan cerita-cerita epik saja.

4.Negara Kerajaan Kediri
Keberadaan Kerajaan Kediri tidak bisa dilepaskan dari sejarahKerajaan Mataram. Karena, sehabis dinasti terakhir Kerajaan Mataram, muncul dinasti baru bersama dengan nama Isyana di Medang Mataram. Dinasti ini berkuasa antara 947 M sampai 1016. Sayangnya, kerajaan ini di serang oleh Sriwijaya dan Wurawari sampai mengalami kehancuran.

Satu-satunya keluarga yang selamat adalah Airlangga. Pada akhir pemerintahannya, ia diperintahkan oleh Mpu Bharada untuk membagi kerajaan jadi dua, yaitu Jenggala dan Panjalu. Salah satu alasan pembagian adalah untuk jauhi peperangan dan konflik. Wilayah kekuasaan ke-2 kerajaan tersebut dibatasi oleh Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Daerah Jenggala meliputi kawasan Malang dan delta Sungai Brantas, bersama dengan ibu kota Kahuripan. Pelabuhannya yang kondang adalah Surabaya, Rembang, dan Pasuruan. Sedangkan Panjalu meliputi kawasan Kediri dan Madiun bersama dengan ibu kota Daha.

Meskipun sudah dibagi jadi dua, ternyata konflik dan peperangan memperebutkan keutuhan wilayah justru tidak bisa dihindari.
a. Kehidupan Politik
Semenjak Airlangga membagi kerajaan jadi dua, konflik antara Jenggala dan Panjalu selamanya terjadi. Prasasti Banjaran (1052 M) mengatakan kemenangan Panjalu atas Jenggala. Demikian juga bersama dengan kakawin Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, mengumumkan bahwa Panjalu memenangkan peperangan dan menguasai takhta Kediri. Masing-masing raja Kediri punyai lencana sendiri-sendiri. Misalnya Raja Kameswara (1115–1130 M) membawa lencana Candrakapale yaitu tengkorak bertaring. Selanjutnya, Raja Jayabaya (1130–1160) memakai lencana Narasingha yaitu manusia setengah singa. Periode Jayabaya merupakan puncak kejayaan Kediri. Pada masa pemerintahan Raja Gandra, nama-nama orang memakai nama binatang. Misalnya, Kebo Salawah, Manjangan Puguh, Macan Putih, Gajah Kuning, dan lain-lain. Raja sesudah itu yang memerintah adalah Kertajaya bersama dengan memakai lencana Garudamuka. Sikap kurang bijaksana dari raja ini memicu ia tidak disukai oleh rakyat dan kaum brahmana, sampai Kediri memasuki masa kehancuran.

b. Kehidupan Sosial Budaya
Pada masa Kerajaan Kediri, berkembang beragam wujud kesenian. Salah satu yang paling menonjol adalah kesusastraan. Secara lebih lengkap dapat dibahas pada pembelajaran berikutnya. Hanya saja, dari beberapa kakawin dan prasasti bisa ditemukan Info bahwa penduduk di Kerajaan Kediri hidup di dalam kesejahteraan. Ketenteraman kehidupan sosial penduduk Kerajaan Kediri bahkan tertera di di dalam bermacam kitab yang berasal dari Cina.
Misalnya kitab Ling-mai-tai-ta yang ditulis oleh Cho-Ku-Fei tahun 1178 M dan kitab Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau-Ju-Kua tahun 1225 M.

c. Kehidupan Ekonomi
Ditilik dari letaknya yang berada di pinggir Sungai Brantas bersama dengan sejumlah pelabuhan besar, kami bisa tahu bahwa kehidupan perekonomian Kerajaan Kediri didominasi oleh kesibukan perdagangan. Meskipun begitu, penduduk Kediri juga mengenal peternakan dan pertanian. Hasil Kerajaan Kediri antara lain beras, kapas, dan ulat sutra. Dari hasil itulah, pendapatan para pegawainya dibayar bersama dengan memakai hasil bumi.

5. Negara Kerajaan Sriwijaya
Bisa jadi, inilah kerajaan maritim terbesar di kawasan Asia Tenggara kala itu. Kerajaan Sriwijaya menguasai perairan barat Nusantara sejak abad VII sampai XV M. Keberadaan Kerajaan Sriwijaya banyak diungkap lewat beragam prasasti dan berita. Misalnya, prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang ditemukan di pinggir Sungai Talang. Isinya antara lain menceritakan perjalanan suci atau sidayatra yang dijalankan oleh Dapunta Hyang. Ia berangkat dari Minangatamwan bersama dengan membawa 20.000 tentara untuk menaklukkan bermacam daerah. Sementara itu prasasti Talang Tuo (684 M) menceritakan pembuatan Taman Sriksetra. Selain ke-2 prasasti tersebut, tetap tersedia prasasti yang lain yaitu prasasti Kota Kapur, Karang Berahi. dan Palas Pasemah. Keempat prasasti ini memuat kutukan kepada siapa pun yang tidak tunduk kepada raja Sriwijaya.
Info Tambahan;
Menurut Muh. Yamin, Kerajaan Sriwijaya disebut sebagai Negara Kesatuan I. Dengan demikianlah cikal dapat persatu-an sudah tersedia sejak lama. Oleh dikarenakan itu, mari kami per- tahankan persatuan tersebut.

Sebuah sumber yang ditemukan di Ligor bersifat prasasti yang berangka tahun 775 M mengatakan pendirian sebuah pangkalan di Semenanjung Melayu. Sedangkan prasasti Nalanda yang berasal dari abad IX M mengatakan tentang pendirian wihara oleh Balaputradewa. Selain itu, keberadaan Kerajaan Sriwijaya juga banyak ditulis oleh para pengelana yang berasal dari Cina dan Arab. Menurut literatur Cina, nama Sriwijaya ditulis Shih-lo-fo-shih atau Fo-shih, sedang literatur Arab menyebut Zabag atau Zabay atau Sribuza.

a. Kehidupan Politik
Hingga kini tetap berjalan perbincangan tentang pusat Kerajaan Sriwijaya. Ada yang berpendapat di Palembang yang terdapat di pinggir Sungai Musi. Pendapat lain mengatakan bahwa pusat kerajaan berada di Minagatamwan yang terdapat di pertemuan Sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan di kawasan Jambi. Hanya saja, tersedia kesepakatan bahwa urat nadi kerajaan bertumpu pada kesibukan perdagangan. Raja yang pertama bernama Dapunta Hyang Sri Jayanaga.

Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya makin lama luas kala sukses mengembangkan politik ekspansinya. Sasarannya adalah daerah-daerah yang strategis bagi dunia perdagangan. Perluasan wilayah kekuasaan ini tertera di di dalam prasasti yang ditemukan di Lampung, Bangka, dan Ligor. Bahkan, beberapa sumber Cina juga mengatakan keberhasilan Kerajaan Sriwijaya di di dalam memperluas wilayah kekuasaan sampai ke Semenanjung Malaka. Tidak aneh apabila Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai negara antarnusa

b. Kehidupan Sosial Budaya
Salah satu kebesaran Kerajaan Sriwijaya adalah kedudukannya sebagai pusat pendidikan pengembangan agama Buddha di kawasan Asia Tenggara. Kedudukan ini pengaruhi kehidupan sosial masyarakatnya. Bahkan, menurut I-Tshing pada abad VIII M di Kerajaan Sriwijaya sudah terkandung 1.000 orang pendeta yang belajar di bawah bimbingan Sakyakirti.

Menurut prasasti Nalanda, banyak pemuda-pemudi dari Kerajaan Sriwijaya yang pergi ke India untuk belajar agama Buddha. Perhatian raja pada pertumbuhan agama Buddha juga besar, muncul bersama dengan dukungan sebidang tanah yang hendak dipergunakan sebagai asrama pelajar. Bahkan, Balaputradewa membawa hubungan erat bersama dengan raja Dewa Paladewa dari India.

c. Kehidupan Ekonomi
Sebagai sebuah kerajaan maritim, Sriwijaya menggantungkan kehidupannya pada kesibukan kelautan. Apalagi letaknya yang strategis di pinggir jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Dari situlah, Sriwijaya berkembang jadi pusat perdagangan dan pelabuhan transito. Banyak pedagang dari luar kawasan yang mampir ke Sriwijaya untuk menyita beragam komoditas.

Kedudukan Sriwijaya di dalam perdagangan itu di dukung oleh dua hal yang saling melengkapi, yaitu pemerintahan raja yang cakap dan bijaksana serta armada laut yang tangguh. Pedagang yang mampir ke Sriwijaya menjadi safe dari problem bajak laut dan nyaman untuk tinggal di lingkungan Kerajaan Sriwijaya. Meningkatnya kesibukan perdagangan itu pengaruhi pendapatan kerajaan. Pemasukan itu berasal dari pembayaran upeti, pajak, dan keuntungan dari perdagangan. Selama berabad- abad, Sriwijaya tampil sebagai kerajaan yang kuat, makmur, dan luas jangkauan pengaruhnya.

6. Negara Kerajaan Singasari
Kisah tentang Kerajaan Sriwijaya bisa diungkap sehabis serangkaian candi dan karya sastra bisa kami temukan. Di daerah Singasari sampai Malang banyak ditemukan candi peninggalan Kerajaan Singasari. Sementara itu, kitab yang banyak mengutarakan kerajaan ini adalah Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang mengatakan raja-raja yang memerintah Singasari dan kitab Pararaton yang menceritakan misteri Ken Arok.
Ken Arok jadi akuwu (bupati) Tumapel sehabis membunuh Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes. Dalam per-kembangannya, ia sukses melepas Tumapel dari kekuasaan Kediri berkat dukungan kaum brahmana. Dalam pertempuran di desa Ganter tahun 1222 M, Kertajaya perlu menyerahkan kekuasaan Kediri kepada Ken Arok dan merajakan diri di Singasari bersama dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Mulailah Dinasti Rajasa atau Dinasti Girindra mendominasi kekuasaan di tanah Jawa. Hanya saja, drama Negara-Negara Tradisional di Indonesia pembunuhan bersama dengan aroma perebutan kekuasaan dikarenakan balas dendam menyelimuti Kerajaan Singasari. Tercatat, cuma Kertanegara yang merupakan raja terbesar Singasari.

a. Kehidupan Politik
Sri Maharaja Sri Kertanegara sukses jadi besar wilayah kekuasaan Singasari bersama dengan beragam cara. Dalam bidang pemerintahan, ia mengganti beberapa pejabat kerajaan dan pelihara keamanan bersama dengan melakukan perkawinan politik. Kedua langkah itu ditempuh untuk menciptakan pemerintahan yang solid, kuat, dan stabil. Untuk memperluas kekuasaannya, Kertanegara menggerakkan ekspedisi Pamalayu ke Kerajaan Melayu, Sunda, Bali, dan Pahang. Selain itu, ia juga menggalang kerja serupa bersama dengan Kerajaan Campa.

Ekspansi yang dijalankan Kertanegara ternyata justru mengundang ancaman dari luar. Ketidakmauan Kertanegara untuk tunduk kepada Kubilai Khan memicu Singasari berada di di dalam bahaya. Apalagi dari di dalam negeri muncul pula ancaman Jayakatwang (Kediri) yang bekerja serupa bersama dengan Arya Wiraraja (Sumenep). Pada tahun 1292, Kertanegara tewas di dalam sebuah peperangan dan didarmakan di dalam wujud candi Syiwa Buddha.

b. Kehidupan Sosial Budaya
Menurut kitab Pararaton dan Negarakertagama, kehidupan sosial penduduk Singasari diliputi suasana yang safe dan damai. Bahkan, kehidupan religius mereka sudah maju sejak zaman Ken Arok. Hal ini dikarenakan di Kerajaan Singasari berkembang ajaran Tantrayana (Syiwa Buddha) bersama dengan kitab suci Tantra. Ajaran ini berkembang sejak periode pemerintahan Wisnuwardhana sampai Kertanegara. Bahkan, kala Jayakatwang menyerang Singasari, tengah dijalankan upacara Tantrayana bersama dengan mahamantri bersama dengan para pendeta.

c. Kehidupan Ekonomi
Meskipun tidak banyak sumber yang mengutarakan kehidupan perekonomian penduduk Singasari, tapi tersedia dugaan bahwa kehidupannya didikung oleh kesibukan pertanian. Seperti diketahui, Singasari menempati daerah yang subur di sekitar sungai Brantas dan Bengawan Solo. Kedua sungai itulah yang jadi fasilitas lalu lintas perdagangan dan pelayaran.

Baca Juga :

Ruth Indiah Rahayu
Menghidupi “Komunitas Global”