Faiz Zawahir: Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba

Faiz Zawahir Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba

Faiz Zawahir: Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba

Faiz Zawahir Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba
Faiz Zawahir Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba

Tokoh muda Jawa Barat Faiz Zawahir menyebut revolusi digital 4.0 menjadi tantangan baru

dalam kehidupan masyarakat termasuk dunia pendidikan.

Bagi mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia yang juga ketua dari Institute of Indonesian Civil Society (ICISOC) ini, proses pendidikan di universitas harus berorientasi pada penemuan inovasi yang berguna untuk masyarakat.

Hal tersebut dipaparkannya saat mengisi materi perihal Mahasiswa 4.0. dalam rangkaian acara orientasi mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 2018 dii Villa Karuhun Ciwidey Kabupaten Bandung, Jumat (18/10).

“Jika Universitas atau lembaga pendidikan tinggi hanya berorientasi pada metode kuliah

yang hanya teoritis dan hapalan itu kampus zaman purba,” tegasnya.

Faiz menuturkan, ilmu dan teknologi yang dipelajari dan diteliti oleh mahasiswa tidak boleh terpisah dengan masyarakat.

“Dengan demikian apa yang diteliti dan dipelajari mahasiswa akan menghasilkan penemuan dan inovasi yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan dan masalah yang ada dalam kehidupan,” katanya

Di forum tersebut Faiz mengutip teori Quadruple Helix”, Quadruple Helix adalah teori yang memang digunakan dalam merumuskan,

menganalisis dan menilai inovasi agar berjalan secara efektif dan efisien.

 

“Teori Quadruple Helix mengharuskan adanya katerlibatan empat elemen

dalam sebuah inovasi yaitu: Pertama Elemen Universitas atau lembaga pendidikan tinggi, kedua, pihak swasta, ketiga pihak pemerintah dan keempat adalah masyarakat,” paparnya.

Faiz berpendapat bahwa di Indonesia masing-masing pihak sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri. Dosen dan mahasiswa hanya sibuk diskusi dan meneliti tapi penelitiannya hanya menjadi tumpukan berkas yang minim gunanya

“Ya paling-paling penelitian mahasiswa dan dosen hanya jadi syarat lulus kalau untuk mahasiswa dan menjadi syarat kenaikan pangkat kalau untuk dosen,” ujarnya.

Ia mengatakan, harusnya penelitian yang dihasilkan oleh mahasiswa dan dosen menjadi rekomendasi bagi pemerintah, pihak swasta dan menjadi referensi bagi masyarakat. Dengan demikian kontribusi lembaga pendidikan tinggi akan terasa bagi masyarakat.”

Diakhir sesi Faiz mengajak mahasiswa baru Pendidikan Agama Islam untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri supaya siap bersaing.

Faiz memaparkan, pada era Revolusi Industri 4.0 Mahasiswa harus memiliki skill ‘Complex Problem Solving’ ia tidak hanya mampu memecahkan masalah yang biasa melainkan ia harus terbiasa untuk merumuskan solusi untuk masalah yang sangat kompleks.

“Oleh sebab itu mahasiswa tidak hanya sibuk belajar apa yang menjadi ilmu kejurusanannya. Melainkan mahasiswa harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan yang lain seperti System Skill (Kemampuan untuk dapat melakukan judgement dan keputusan dengan pertimbangan cost-benefit serta kemampuan untuk mengetahui bagaimana sebuah sistem dibuat dan dijalankan), Cognitive Abilities (Skill yang terdiri dari antara lain: Cognitive Flexibility, Creativity, Logical Reasoning, Problem Sensitivity, Mathematical Reasoning, dan Visualization ), Process Skill (Kemampuan terdiri dari: active listening, logical thinking, dan monitoring self and the others) dan Social Skill (Kemampuan untuk melakukan koordinasi, negosiasi, persuasi, mentoring, kepekaan dalam memberikan bantuan hingga emotional intelligence,” ujarnya.

 

Baca Juga :