Masuknya Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia

Masuknya Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia

Masuknya Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia
Agama Hindu dan Buddha berasal berasal dari India sesudah itu menyebar ke Asia Timur. Asia Tenggara terhitung Indonesia. Indonesia sebagai negara kepulauan letaknya sangat strategis, yakni terletak satu diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Indonesia dan Pasifik) yang merupakan area persimpangan selanjutnya lintas perdagangan dunia.

Awal abad Masehi, jalur perdagangan tidak lagi lewat jalur darat (jalur sutera) tapi berubah ke jalur laut, agar secara tidak segera perdagangan pada Tiongkok dan India melewatii selat Malaka. Untuk itu Indonesia iku berperan aktif di dalam perdagangan itu. Akibatnya, terjadilah kontak atau jalinan pada Indonesia bersama India, dan Indonesia bersama Tiongkok. Hal inilah yang jadi keliru satu penyebab masuknya budaya India ataupun budaya Tiongkok ke Indonesia.

Mengenai siapa yang membawa / menyebarkan agama Hindu-Buddha ke Indonesia, tidak dapat diketahui secara pasti, meskipun demikianlah para pakar beri tambahan pendapat perihal proses masuknya agama Hindu-Buddha atau kebudayaan India ke Indonesia. Untuk penyebaran Agama Hindu ke Indonesia terdapat lebih dari satu pendapat atau teori, pada lain;
Teori Ksatria oleh Prof. Dr. Ir. J.L. Moens, berpendapat bahwa yang membawa agama Hindu ke Indonesia adalah kaum Ksatria atau golongan prajurit, gara-gara tersedia kekacauan politik atau peperangan di India abad ke 4-5 M, maka prajurit yang kalah perang terdesak dan menyingkir ke Indonesia, bahkan diduga mendirikan kerajaan di Indonesia.
Teori Waisya oleh Dr. N.J.Krom, berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang yang singgah untuk berdagang ke Indonesia, bahkan diduga tersedia yang menetap gara-gara menikah bersama orang Indonesia.
Teori Brahmana oleh J. C. Vanleur, berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum Brahmana gara-gara sebatas kaum Brahmana yang berhak mempelajari dan mengerti isi kitab Suci Weda. kehadiran Kaum Brahmana itu diduga gara-gara undangan Penguasa atau Kepala Suku di Indonesia atau sengaja singgah untuk menyebarkan agama Hindu ke Indonesia.
Pada dasarnya ketiga teori itu punyai kelemahan, yakni golongan ksatria dan waisya tidak menguasai bhs Sanskerta. Sedangakan bhs Sanskerta adalah bhs sastra tertinggi yang dipakai di dalam Kitab Suci Weda. Dan golongan Brahmana meskipun menguasai bhs Sanskerta tapi menurut keyakinan Hindu tidak boleh menyeberangi laut. Di samping pendapat atau teori itu, terdapat pendapat yang lebih mengedepankan terhadap guna Bangsa Indonesia sendiri, untuk penjelasannya review ulasan berikut.

Teori Arus Balik dikembalikan oleh FD. K. Bosh. Teori ini mengedepankan guna bangsa Indonesia di dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu dan Buddha di Indonesia. Menurutnya penyebaran budaya India di Indonesia dikerjakan oleh para cendikiawan atau golongan terdidik. Golongan ini di dalam penyebaran budayanya melakukan proses penyebaran yang terjadi di dalam dua step yakni sebagai berikut;
Pertama, proses penyebaran dikerjakan oleh golongan pendeta Buddha (para biksu), yang menyebarkan agama Buddha ke Asia terhitung Indonesia melalui jalur dagang, agar di Indonesia terbentuk penduduk Sangha, selanjutnya orang-orang Indonesia yang sudah jadi biksu, mengusahakan belajar agama Buddha di India. Sekembalinya berasal dari India mereka membawa kitab Suci, bhs Sansekerta, kapabilitas menulis, dan juga kebudayaan India. Dengan demikian, peran aktif penyebaran budaya India, tidak cuma orang India tapi terhitung orang-orang Indonesia yakni para biksu Indonesia itu. Hal ini dibuktikan melalui karya seni Indonesia yang sudah mendapat efek India masih membuktikan tanda-tanda Indonesia.
Kedua, proses penyebaran ke-2 dikerjakan oleh golongan Brahmana terlebih aliran Saiva-siddharta. Menurut aliran ini seseorang yang dicalonkan untuk mendiami golongan Brahmana wajib mempelajari kitab agama Hindu bertahun-tahun sampai dapat ditasbihkan jadi Brahmana. Setelah ditasbihkan,ia diakui sudah disucikan oleh Siva dan dapat melakukan upacara Vratyastome / penyucian diri untuk menghindukan seseorang.
Jadi jalinan dagang sudah memicu terjadinya proses masuknya penganut Hindu-Buddha ke Indonesia. Beberapa Hipotesis di atas menunjukan bahwa masuknya efek Hindu-Buddha merupakan satu proses tersendiri yang terpisah tapi selamanya di dukung oleh proses perdagangan.

Untuk agama Buddha diduga terdapatnya misi penyiar agama Buddha yang disebut bersama Dharmaduta, dan diperkirakan abad 2 Masehi agama Buddha masuk ke Indonesia. Hali ini dibuktikan bersama terdapatnya penemuan arca Buddha yang terbuat berasal dari perunggu diberbagai area di Indonesia pada lain Sempaga (Sulawesi Selatan), Jember (Jawa Timur), Bukit Siguntang (Sumatera Selatan). Dilihat berasal dari ciri-cirinya, arca itu berasal berasal dari langgam Amarawati (India Selatan) berasal dari abad 2-5 Masehi. Dan disamping itu terhitung ditemukan arca perunggu berlanggam Gandhara (India Utara) di Kota Bangun, Kutai (Kalimantan Timur).

Demikianlah ulasan perihal Masuknya Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia, yang terhadap peluang kali ini, dapat dibahas bersama lancar dan semoga ulasan yang anda review bermanfaat. Kiranya memadai sekian, kurang lebihnya mohon maaf dan sampai jumpa. contoh teks eksplanasi

baca juga :

Perilaku Toleransi pada Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antaranggota

Perilaku Toleransi pada Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antaranggota

Perilaku Toleransi pada Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antaranggota
Supaya keberagaman bangsa Indonesia menjadi sebuah kekuatan, maka kita wajib membangun keberagaman bangsa Indonesia bersama dengan dilandasi persatuan & kesatuan negara RI. Persatuan & kesatuan di sebuah negara yang banyak ragam dapat diciptakan salah satunya bersama dengan prilaku penduduk yang menghormati keberagaman bangsa di dalam bentuk prilaku toleran pada keberagaman itu.

Sikap toleransi artinya mencegah diri, bersikap sabar, berikan peluang orang berpendapat lain, & berhati lapang pada orang-orang yang meniliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasari sikap hormat pada martabat manusia, hati nurani, & keyakinan, dan juga keikhlasan sesama apa pun agama, suku, golongan, ideologi /pandangannya.

Persatuan & kesatuan di sebuah negara yang banyak ragam dapat diciptakan, salah satunya bersama dengan prilaku penduduk yang menghormati keberagaman bangsa di dalam bentuk prilaku toleran pada keberagaman itu.

Sikap toleransi wajib nampak di dalam penduduk yang beragam/plural. Oleh gara-gara itu, sangat wajib tiap-tiap individu mengaplikasikan toleransi pada individu lainnya supaya bangsa Indonesia yang banyak ragam suku, agama, ras & antargolongan dapat menjadi bangsa yang satu & utuh.

1. Perilaku Toleran pada Keberagaman Agama di Indonesia
Orang-orang Indonesia pasti menyakini salah satu agama / keyakinan yang ada di Indonesia. Pemerintah Indonesia mengakui enam agama yang ada di Indonesia. Agama itu adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Buddha, & Khonghucu.

Negara menjamin warga negaranya untuk menganut & mengamalkan ajaran agamanya masing-masing. Jaminan negara pada warga negara untuk memeluk & beribadah diatur di dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 29 ayat (2) yang berbunyi, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya tiap-tiap & untuk beribadat menurut agamanya & kepercayaannya itu”.

Dalam kehidupan berbangsa, kita wajib paham semuanya bahwa keberagaman di dalam agama itu sangat terjadi. Agama tidak mengajarkan untuk memaksakan keyakinan kita kepada orang lain. Oleh gara-gara itu, bentuk prilaku kehidupan di dalam keberagaman agama di antaranya diwujudkan di dalam bentuk sebagai berikut;
Melaksanakan ajaran agama yang dianutnya bersama dengan baik & benar
Tidak memaksa keyakinan agama yang dianutnya kepada orang lain
Menghormati agama yang diyakini orang lain
Toleransi pada pelaksanaan ibadah yang dianut pemeluk agama lain

Perilaku baik di dalam kehidupan keberagaman itu wajib kita laksanakan. Tidak hanya dilingkungan keluarga, tapi juga di sekolah, penduduk dan juga di dalam kehidupan berbangsa & bernegara.

2. Perilaku Toleran pada Keberagaman Suku & Ras di Indonesia
Perbedaan suku & ras pada manusia yang satu bersama dengan manusia yang lain hendaknya tidak menjadi kendala di dalam membangun persatuan & kesatuan bangsa Indonesia ataupun di dalam pergaulan dunia. menjadi kita wajib menghormati harkat & martabat manusia lainnya. Kita juga wajib mengembangkan stimulan persaudaraan bersama dengan sesama manusia bersama dengan menghormati nilai-nilai kemanusian.

Perbedaan kita bersama dengan orang lain tidak artinya bahwa orang lain lebih baik berasal dari kita /kita lebih baik berasal dari orang lain. Baik & buruknya penilaian orang lain kepada kita bukan gara-gara warna kulit, rupa wajah, & bentuk tubuh melainkan gara-gara baik & buruknya di dalam berperilaku. Oleh gara-gara itu, sebaiknya kita berperilaku baik kepada semua orang tanpa menyaksikan bermacam perbedaan itu.

3. Perilaku Toleran pada keberagaman Sosial Budaya di Indonesia
Kehidupan sosial & keberagaman kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia pasti menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Maka kita wajib bersemangat untuk pelihara & memelihara kebudayaan bangsa Indonesia.

Bagis seorang pelajar/mahasiswa, prilaku & stimulan kebangsaan di dalam mempertahankan keberagaman budaya bangsa dapat ditunaikan bersama dengan cara;
Mempelajari & menguasai salah satu seni budaya sesuai bersama dengan minat & kesenangannya
Mengetahui keanekaragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia
Menyaring budaya asing yang masuk ke di dalam bangsa Indonesia
Merasa bangga pada budaya bangsa sendiri.

Sikap toleransi yang wajib dikembangkan untuk mewujudkan persatuan di dalam keanekaragaman pada lain sebagai berikut;
Tidak menyaksikan rendah suku/budaya yang lain
Tidak menganggap suku & budayanya paling tinggi & paling baik
Lebih menekankan negara berasal dari pada keperluan daerah/suku masing-masing.
Menerima keragaman suku bangsa & budaya sebagai kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Sikap toleransi di dalam penduduk pada keragaman dapat ditunaikan di dalam bermacam lingkungan. Berikut ini uraiannya;
1. Lingkungan sekolah
Sama halnya bersama dengan kehidupan keluarga, kehidupan sekolah pun diperlukan terdapatnya toleransi baik pada kepala sekolah bersama dengan guru, guru bersama dengan guru, kepala sekolah bersama dengan murid, guru bersama dengan murid maupun murid bersama dengan murid. Toleransi itu sangat diperlukan untuk terciptanya sistem pembelajaran yang kondusif, supaya obyek berasal dari pendidikan persekolahan dapat tercapai.

Contoh-contoh sikap toleransi di dalam kehidupan sekolah pada lain;
Mematuhi tata tertib sekolah
Berkata yang sopan, tidak bicara kotor/menyinggung perasaan orang lain
Saling menyayangi & menghormati sesama pelajar.

2. Lingkungan masyarakat
Perlu diketahui bahwa terjadinya moment seperti tawuran antarpelajar, tawuran antarwarga, peristiwa/pertikaian antaragama & antaretnis dll. Peristiwa-peristiwa itu merupakan cerminan berasal dari kurangnya toleransi di dalam kehidupan bermasyarakat.

Berikut ini, sikap toleransi di dalam kehidupan masyarakat;
Tidak membeda-bedakan suku, ras maupun golongan
Adanya sikap saling menghormati & menghormati pada pemeluk agama

3. Lingkungan Berbangsa & Bernegara
Kehidupan berbangsa & bernegara pada hakikatnya merupakan kehidupan penduduk bangsa. Di di dalam terdapat kehidupan bermacam macam pemeluk agama & penganut keyakinan yang berbeda-beda. Tetapi perbedaan-perbedaan kehidupan itu menjadi kemajemukan kehidupan sebagai suatu bangsa & negara Indonesia. Oleh gara-gara itu, kehidupan berbangsa & bernegara wajib senantiasa dipelihara supaya tidak berjalan disintergrasi bangsa.

Toleransi di dalam kehidupan berbangsa & bernegara pada lain;
Mengakui & menghormati HAM
Merasa senasib sepenanggungan
Menciptakan persatuan & kesatuan, rasa kebangsaan/nasionalisme.

Semua manusia pada dasarnya sama, yang membeda-bedakan pada sesama manusia gara-gara warna kulit/bentuk fisik lainnya adalah sebuah kesalahan. Tuhan menciptakan manusia tidak sama & beragam, perbedaan itu adalah anugerah yang wajib disyukuri. Perbedaan kita bersama dengan orang lain tidak artinya bahwa orang lain lebih baik berasal dari kita/kita lebih baik berasal dari orang lain. Baik & buruknya penilaian orang lain kepada kita bukan gara-gara warna kulit, rupa wajah, & bentuk tubuh melainkan gara-gara baik & buruknya di dalam berperilaku. Oleh gara-gara itu, sebaiknya kita berperilaku baik kepada semua orang tanpa menyaksikan bermacam perbedaan itu.

Demikianlah ulasan tentang Perilaku Toleransi pada Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antaranggota, yang pada peluang kali ini dapat dibahas bersama dengan lancar. Semoga ulasan di atas bermanfaat, & untuk tidak cukup lebihnya mohon maaf. Terima kasih udah meluangkan diri untuk membaca maupun berkunjung.

baca juga :

Bupati Keerom : Guru Malas Mengajar, PECAT !!!

Bupati Keerom Guru Malas Mengajar, PECAT !!!

Bupati Keerom : Guru Malas Mengajar, PECAT !!!

Bupati Keerom Guru Malas Mengajar, PECAT !!!
Bupati Keerom Guru Malas Mengajar, PECAT !!!

Disinyalir masih banyak guru di Kabupaten Keerom yang malas mengajar,

Pemerintah Kabupaten Keerom akan melakukan tindakan tegas dalam menangani hal ini. Seperti yang ditegaskan oleh Bupati Keerom Drs. Celsius Watae, MH saat dirinya melakukan kunjungan di Towe beberapa waktu lalu.

“Semua guru yang bertugas mengajar di Kabupaten Keerom harus bisa selalu ada di tempat tugas dan jika masih ada guru di wilayah Kabupaten Keerom tidak melaksanakan tugasnya dalam mengajar di sekolah, maka konsekuensinya adalah guru tersebut gajinya ditahan. Artinya gajinya tidak akan diberikan, jika setelah guru tersebut dipanggil dan mau mengajar lagi baru gajinya akan diberikan”, Ungkap Bupati.

Beliau juga menambahkan juga bahwa hal ini harus dilakukan agar guru-guru

yang mengajar di semua sekolah walaupun di pedalaman Keerom harus tetap menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan janjinya.

“Kita berkomitmen bahwa mendidikan di Keerom harus maju dan berkembang seperti pada daerah Kabupaten lain pada umumnya. Namun jika guru sebagai penggerak majunya pendidikan ini tidak bisa menjalankan tugasnya tentunya ini sangat menjadi masalah untuk kita, sehingga harus ada aturan tegas yang kita buat”, Lanjutnya.

Bupati juga menerangkan bahwa dunia pendidikan di wilayah pembangunan III

saat ini terus dipacu, dimana untuk distrik Waris Pemda sudah membuatkan sekolah asrama (sekolah satu atap) untuk siswa SD dan SMP, supaya anak-anak di daerah distrik Waris bisa masuk sekolah di sana dengan serius semua kebutuhan hidup akan dibantu Pemda.

Tidak hanya itu selain anak-anak mendapatkan ilmu pelajaran disekolah, anak-anak juga diberikan bekal kemandirian melalui skill bercocok tanam, beternak dll.

Sehingga jika sudah lulus dari sana ada skill yang bisa dikembangkan dan setidaknya ini untuk melatih mandiri anak-anak. “ini wujud komitmen kita dalam memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Keerom, sehingga kita harap peran orang tua, guru dalam memberikan semangat untuk anak-anaknya dalam bersekolah bisa dilakukan dengan maksimal”, Jelasnya

 

Baca Juga :

 

 

Pemda Mappi Respon Keluhan Para Mahasiswa Mappi

Pemda Mappi Respon Keluhan Para Mahasiswa Mappi

Pemda Mappi Respon Keluhan Para Mahasiswa Mappi

Pemda Mappi Respon Keluhan Para Mahasiswa Mappi
Pemda Mappi Respon Keluhan Para Mahasiswa Mappi

Sekda Kabupaten Mappi, Drs Simon Siwoya saat datang untuk melakukan kunjungan

langsung ke asrama Mappi tepatnya di belakang Korem 172/PWY sekaligus untuk menanyakan keluhan apa saja yang sedang dialami.

“Saya setelah baca salah satu koran, saya merasa kaget dan sedih, ini anak-anak Mappi yang kuliah di Jayapura kok kondisinya seperti ini akhirnya saya coba datang dan melihat langsung,” kata Simon.

Simon juga mengatakan hal-hal yang menjadi prioritasnya dalam pembenahan nantinya

ialah terkait air dan listrik yang akan diselesaikan duluan. Kemudian setelah itu beberapa perlengkapan funiture seperti meja atau kursi untuk dipakai belajar termasuk komputer.

simon mengungkapkan apabila didalam dunia pendidikan ada banyak kesulitan pihak pemerintah akan menjawabnya dan pihaknya juga akan mensinkronkan kembali waktu pemberian bantuan studi dengan kurikulum yang ada. sebab antara APBD dan kurikulum pendidikan ternyata berbeda sehingga waktu yang digunakan untuk mengkucurkannya juga tidak tepat.
Baca juga : HUT RI KE 72 : 1.006 narapidana di Papua dapat remisi Kemerdekaan RI

“Kami coba memprogramkan apa yang sudah direncanakan dan ternyata disini sudah

banyak yang berubah. Dan terkait bantuan studi akhir juga harus direvisi sebab kadang pencairannya tidak sesuai dengan waktu yang dibutuhkan sehingga dengan sendirinya mengganggu persiapan penyusunan bahkan kelulusan dan ada lokasi di Merauke yang sedang kami coba untuk membeli guna dibangun lembaga pendidikan,” ujarnya. (red.dt)

 

Sumber :

https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/negara-yang-menjajah-indonesia/

Dispendasbud Mimika Programkan Les Gratis Bagi Siswa Papua

Dispendasbud Mimika Programkan Les Gratis Bagi Siswa Papua

Dispendasbud Mimika Programkan Les Gratis Bagi Siswa Papua

Dispendasbud Mimika Programkan Les Gratis Bagi Siswa Papua
Dispendasbud Mimika Programkan Les Gratis Bagi Siswa Papua

Dalam rangka pengembangan SDM siswa-siswi asli Papua, maka Dinas Pendidikan Dasar

dan Kebudayaan (Dispendasbud) Mimika, Provinsi Papua, memprogramkan SD dan SMP Negeri di wilayah itu untuk memberikan les di luar jam pelajaran reguler tanpa memungut biaya dari siswa.

“Ini adalah program baru yang saya coba gagas tahun ini dan sudah mulai dijalankan di beberapa SMP Negeri di dalam kota,” kata Kepala Dispendasbud Mimika, Jenny O. Usmany di Timika, Selasa, usai mengunjungi kegiatan les bahasa Inggris kepada 34 siswa-siswi asli Papua di SMP Negeri 2 Mimika.

Ia mengatakan les tambahan dimaksud bukan semata-mata untuk mempersiapkan siswa

dalam menghadapi ujian akhir melainkan mempersiapkan siswa untuk menunjang masa depannya yang lebih baik dengan memiliki pengetahuan yang lebih integral dengan situasi global dan regional serta untuk mengisi waktu luang agar lebih bermanfaat untuk menghindari generasi muda terpengaruh oleh informasi-informasi yang negatif.

Untuk mendukung program tersebut, Jenny mengharapkan agar metode yang digunakan para guru agar lebih kontekstual sehingga siswa mampu memahami apa yang diajarkan guru. Lebih dari pada itu guru juga harus terus berinovasi untuk mencari metode yang tepat agar para siswa dapat dengan mudah menangkap apa yang diajarkan.
Baca juga : PLN Timika Jamin Listrik Aman Saat UNBK Pada 3-6 April 2017

Mata pelajaran yang di ajarkan dalam les tersebut diharapkan lebih bervariasi

dan bukan saja bahasa Inggris melainkan juga sains dan mata pelajaran lain termasuk Pelajaran Kwarganegaraan dan Seni Budaya. Untuk membiayai program les di masing-masing sekolah tersebut kata Jenny itu merupakan tanggungjawab sekolah masing-masing. Sehingga sekolah dilarang untuk memungut biaya les dari siswa atau orang tua siswa.

“Ini yang kita maksud dengan keberpihakan pemerintah untuk mengembangkan SDM khusus siswa-siswi orang asli Papua dan itu wajib hukumnya sesuai dengan amanat UU nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus,” tuturnya.

Selain menerapkan program tersebut di sekolah-sekolah negeri, Dispendasbud juga sementara ini melakukan kajian-kajian kemungkinan penerapannya di semua sekolah swasta yang ada di wilayah itu. “Sementara ini kita berjalan dulu di sekolah negeri dan dapat dikatakan baru karena diterapkan Januari ini. Untuk sekolah swasta kita akan kaji dulu,” kata Jenny.
Baca juga : Papuan Observer: Papuans are already aware of KNPB was only destroyer of peace in Papua

Ia juga berpesan kepada siswa-siswi asli Papua untuk dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik. Les tambahan yang diadakan merupakan hak siswa-siswi asli Papua, untuk itu jangan disia-siakan. “Kalian harus ikuti dengan baik. Jangan pernah takut untuk mencoba karena dengan mencoba kita bisa,” ucapnya.

“Belajar merupakan hak para siswa yang harus diperoleh, jangan merasa belajar adalah kemauan orang tua. Pendidikan akan dirasakan manfaatnya oleh kita sendiri kelak. Berdayakan diri kalian sehingga kalian menjadi lebih baik. Kalian harus sadar bahwa masa depan kita ditentukan oleh diri kita sendiri saat ini,” ujarnya lagi.

Ia juga mengimbau agar intensitas pertemuan dalam les tambahan di sekolah-sekolah agar lebih ditingkatkan lagi, minimal les dilakukan dua kali dalam satu pekan. Ia juga berharap agar para orangtua dapat mendukung program yang di canangkan oleh Dispendasbud ini yang merupakan upaya pemerintah dalam mensejahterakan rakyat Papua melalui bidang pendidikan formal. (red, Cs)

 

Sumber :

https://41914110003.blog.mercubuana.ac.id/sejarah-bandung-jawa-barat/

Faiz Zawahir: Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba

Faiz Zawahir Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba

Faiz Zawahir: Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba

Faiz Zawahir Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba
Faiz Zawahir Jika Perguruan Tinggi Hanya Berorientasi Pada Metode Kuliah Teoritis, Itu Kampus Zaman Purba

Tokoh muda Jawa Barat Faiz Zawahir menyebut revolusi digital 4.0 menjadi tantangan baru

dalam kehidupan masyarakat termasuk dunia pendidikan.

Bagi mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia yang juga ketua dari Institute of Indonesian Civil Society (ICISOC) ini, proses pendidikan di universitas harus berorientasi pada penemuan inovasi yang berguna untuk masyarakat.

Hal tersebut dipaparkannya saat mengisi materi perihal Mahasiswa 4.0. dalam rangkaian acara orientasi mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 2018 dii Villa Karuhun Ciwidey Kabupaten Bandung, Jumat (18/10).

“Jika Universitas atau lembaga pendidikan tinggi hanya berorientasi pada metode kuliah

yang hanya teoritis dan hapalan itu kampus zaman purba,” tegasnya.

Faiz menuturkan, ilmu dan teknologi yang dipelajari dan diteliti oleh mahasiswa tidak boleh terpisah dengan masyarakat.

“Dengan demikian apa yang diteliti dan dipelajari mahasiswa akan menghasilkan penemuan dan inovasi yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan dan masalah yang ada dalam kehidupan,” katanya

Di forum tersebut Faiz mengutip teori Quadruple Helix”, Quadruple Helix adalah teori yang memang digunakan dalam merumuskan,

menganalisis dan menilai inovasi agar berjalan secara efektif dan efisien.

 

“Teori Quadruple Helix mengharuskan adanya katerlibatan empat elemen

dalam sebuah inovasi yaitu: Pertama Elemen Universitas atau lembaga pendidikan tinggi, kedua, pihak swasta, ketiga pihak pemerintah dan keempat adalah masyarakat,” paparnya.

Faiz berpendapat bahwa di Indonesia masing-masing pihak sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri. Dosen dan mahasiswa hanya sibuk diskusi dan meneliti tapi penelitiannya hanya menjadi tumpukan berkas yang minim gunanya

“Ya paling-paling penelitian mahasiswa dan dosen hanya jadi syarat lulus kalau untuk mahasiswa dan menjadi syarat kenaikan pangkat kalau untuk dosen,” ujarnya.

Ia mengatakan, harusnya penelitian yang dihasilkan oleh mahasiswa dan dosen menjadi rekomendasi bagi pemerintah, pihak swasta dan menjadi referensi bagi masyarakat. Dengan demikian kontribusi lembaga pendidikan tinggi akan terasa bagi masyarakat.”

Diakhir sesi Faiz mengajak mahasiswa baru Pendidikan Agama Islam untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri supaya siap bersaing.

Faiz memaparkan, pada era Revolusi Industri 4.0 Mahasiswa harus memiliki skill ‘Complex Problem Solving’ ia tidak hanya mampu memecahkan masalah yang biasa melainkan ia harus terbiasa untuk merumuskan solusi untuk masalah yang sangat kompleks.

“Oleh sebab itu mahasiswa tidak hanya sibuk belajar apa yang menjadi ilmu kejurusanannya. Melainkan mahasiswa harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan yang lain seperti System Skill (Kemampuan untuk dapat melakukan judgement dan keputusan dengan pertimbangan cost-benefit serta kemampuan untuk mengetahui bagaimana sebuah sistem dibuat dan dijalankan), Cognitive Abilities (Skill yang terdiri dari antara lain: Cognitive Flexibility, Creativity, Logical Reasoning, Problem Sensitivity, Mathematical Reasoning, dan Visualization ), Process Skill (Kemampuan terdiri dari: active listening, logical thinking, dan monitoring self and the others) dan Social Skill (Kemampuan untuk melakukan koordinasi, negosiasi, persuasi, mentoring, kepekaan dalam memberikan bantuan hingga emotional intelligence,” ujarnya.

 

Baca Juga :

 

 

ITB Career Day Peluang Kerja Di Bidang Digital

ITB Career Day Peluang Kerja Di Bidang Digital

ITB Career Day Peluang Kerja Di Bidang Digital

ITB Career Day Peluang Kerja Di Bidang Digital
ITB Career Day Peluang Kerja Di Bidang Digital

Sedikitnya 40 perusahaan nasional dan multinasional di bidang digital,

mengikuti gelaran Institut Teknologi Bandung (ITB) Career Day 27-28 Oktober 2018.

Rata-rata dari perusahaan mencari para pencari kerja yang kompeten dalam bidang digital.

Direktur ITB Career Center Bambang Seti Budi mengatakan bahwa SDM yang di butuhkan oleh perusahaan saat ini mengarah kepada peningkatan digitalisasi, terlihat dari perusahaan yang bergabung adalah perusahaan yang berkaitan dengan teknologi.

“Kali ini, lulusan dengan latar belakang Teknik bisa menjadi raja di ITB Career Days kali ini namun untuk memaksimal pelamar yang kompeten kami selalu mengarahkan agar lulusan tetap pada jalurnya atau pada desk yang sesuai,” jelas Bambang kepada wartawan di Campus Center Timur ITB,Jumat(26/10).

Selain dari ITB, pelamar yang saat ini bergabung berasal dari lulusan UPI, Polban,

Unpas, Unpad dan masih banyak lagi.

“Melihat daya saing dalam mencari kerja semakin meningkat disetiap tahunnya, saya menyarankan untuk para pelamar meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terutama dalam bidang IT karena perkembangannya sangatlah cepat,”papar Bambang.

Salah satu perusahaan yang selalu solid di acara ini adalah PT Astra Internasional Tbk dan Shopee

Indonesia dengan misi mendapatkan SDM yang siap kerja dalam bidang Teknologi dan Digital.

Employer Branding Shopee Indonesia Egtheasilvia Artella mengatakan bahwa para pelamar yang ada di ITB Career Days sesuai dengan yang diinginkan perusahaannya, setiap tahunnya kami konsisten mengikuti acara yang diselenggarakan oleh ITB ini.

“Rata-rata karyawan diperusahaan kami memang muda-muda, jadi kami memprioritaskan para ‘Freshgraduated’ melamar sehingga ide-ide akan fresh dalam membangun industri ekonomi,”jelas Egtheasilvia.

Selain Shopee, Human Capital Analyst PT Astra Internasional Rizkika Iskandar mengatakan bahwa generasi millenial yang berkompeten sangat diperlukan oleh perusahaan yang kali ini berkiblat pada perkembangan digital.

 

Sumber :

https://solopellico3p.com/penemu-fotografi-dan-kamera/

Tri Sentra, Penguatan Pendidikan Berkarakter

Tri Sentra, Penguatan Pendidikan Berkarakter

Tri Sentra, Penguatan Pendidikan Berkarakter

Tri Sentra, Penguatan Pendidikan Berkarakter
Tri Sentra, Penguatan Pendidikan Berkarakter

Guna penguatan pendidikan berkarakter Tri Sentra, Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta

jalin kerjasama dengan Kantor Kementerian Agama setempat.

Kerjasama ini bertujuan untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah yg lebih baik bagi siswa melalui harmonisasi olah etik (olah hati), olah estetik (olah rasa), olah literasi (olah pikir) dan olah kinestetik (olah raga) sesuai dengan falsafah Pancasila,” ujar Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta, Tedi Ahmad Junaedi, belum lama ini.

Menurutnya, hal ini juga menjadi pondasi bagi siswa-siswi untuk membentengi diri dari segala sikap

dan perilaku yang menyimpang dari aturan sosial (tata krama), adat istiadat (peradaban), hukum dan agama.

“Perilaku menyimpang tersebut bisa LGBT, narkoba dan lainnya. Karena kenakalan itu biasanya dikaitkan dengan remaja, yaitu mereka yang berusia di antara 13 tahun ke atas dan 21 tahun ke bawah, atau anak SMP dan SMA,” kata Tedi.

Kerjasama ini, tambah Tedi, untuk mempersiapkan para remaja khususnya siswa-siswi SMP dengan bekal ilmu, pengetahuan dan pengalaman, serta kecakapan dan keterampilan sebagai jenjang masuk ke dalam masa dewasa atau berumah tangga.

“Kami juga mendorong para remaja untuk memanfaatkan masa remajanya di dalam aktivitas dan kreativitas positif

atau terpuji. Jadi tiap SMP bisa meminta bantuan untuk mengadakan kegiatan keagamaan di sekolah dengan meminta bantuan dari DKM, Pondok Pesantren dan MUI Kabupaten Purwakarta,” tuturnya.

Karena menurut Tedi, Remaja adalah suatu masa dari umur manusia, yang paling banyak mengalami perubahan, sehingga membawanya pindah dari masa anak-anak menuju kepada masa dewasa.

“Perubahan-perubahan yang terjadi itu meliputi segala segi kehidupan manusia, yaitu jasmani, rohani, pikiran, perasaan dan sosial. Jadi kalau tidak diberikan pondasi maka tumbuhna akan menyimpang,” ujarnya.

Sementara, Kadisdik Purwakarta, Purwanto mengatakan, segala upaya untuk memaksimalkan keberhasilan program pendidikan berkarakter terus dilakukan oleh Pemkab Purwakarta.

“Peran serta semua pihak sangat diperlukan demi keberhasilan, program pendidikan di Kabupaten Purwakarta,” demikian Purwanto.

 

Sumber :

https://weareglory.com/sejarah-laut-jawa/

Program Gizi Anak Sekolah (Progas) Utamakan Bahan Makanan Lokal

Program Gizi Anak Sekolah (Progas) Utamakan Bahan Makanan Lokal

Program Gizi Anak Sekolah (Progas) Utamakan Bahan Makanan Lokal

Program Gizi Anak Sekolah (Progas) Utamakan Bahan Makanan Lokal
Program Gizi Anak Sekolah (Progas) Utamakan Bahan Makanan Lokal

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melantik 135 pejabat tinggi pratama,

pengawas, administrator, dan fungsional di Plaza Insan Berprestasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta, Selasa (25/09/2018).

Mendikbud berharap, pejabat yang dilantik tidak berhenti belajar dan mampu memberikan pengabdian yang terbaik bagi bangsa dan negara. “Kita harus terus membangkitkan kegelisahan kita untuk selalu belajar, selalu merasa kurang, selalu tidak puas dan tidak sempurna dengan apa yang telah kita lakukan, sehingga kita akan terus berusaha lebih keras untuk memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara,” tutur Muhadjir.

Pejabat yang baru dilantik didorong agar dapat segera melakukan konsolidasi internal,

menyusun langkah-langkah strategis sebagai upaya peningkatan kerja di masing-masing unit yang mereka pimpin. Bagi Pejabat Fungsional, Pranata Humas, Pengembang Teknologi Pembelajaran, dan Peneliti, Mendikbud menekankan pentingnya berpikir lebih kreatif dan inovatif untuk memajukan unit kerja masing-masing.

Dalam acara tersebut, Mendikbud melantik satu orang pejabat eselon I, Muchlis Rantoni Luddin, sebagai Pejabat Tinggi Madya Inspektur Jenderal (Irjen). Serah terima jabatan pun berlangsung antara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang) Totok Suprayitno selaku Pelaksana Tugas Irjen kepada Muchlis Rantoni Luddin.

Di penghujung sambutan, Mendikbud mengajak semua pejabat yang baru dilantik

untuk membangun birokrasi yang sehat. “Kita bisa membangun sistem birokrasi yang sehat, yang kita harapkan, oleh karena itu birokrasi yang sehat Insya Allah juga bisa melaksanakan kinerja yang sehat kita dan juga bisa mencapai target juga secara optimal. Harus bersyukur dengan jabatan yang baru itu,” tutup Muhadjir. (Jeremy Krisnugroho/Prani Pramudita)

 

Baca Juga :

 

 

PPDB 2019: Tanpa SKTM, Zonasi 90 Persen Termasuk Siswa Miskin

PPDB 2019 Tanpa SKTM, Zonasi 90 Persen Termasuk Siswa Miskin

PPDB 2019: Tanpa SKTM, Zonasi 90 Persen Termasuk Siswa Miskin

PPDB 2019 Tanpa SKTM, Zonasi 90 Persen Termasuk Siswa Miskin
PPDB 2019 Tanpa SKTM, Zonasi 90 Persen Termasuk Siswa Miskin

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, pada pelaksanaan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) pada tahun 2018, belum semua sekolah menggunakan seleksi jarak dalam menerima peserta didik baru. Tahun lalu masih ditemukan oknum masyarakat yang melakukan penyimpangan dengan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk mendaftarkan anaknya di sekolah tujuan. Karena itu mulai tahun ini Kemendikbud menerapkan kebijakan baru yang menetapkan bahwa SKTM tidak bisa lagi digunakan sebagai syarat dalam seleksi PPDB.

“Banyak orang mengaku jadi keluarga miskin, yang dipilih adalah sekolah idaman,”

ujar Mendikbud saat Taklimat Media tentang PPDB, Selasa (15/1/2019). Menurutnya, hal tersebut bertentangan dengan aturan yang berlaku sehingga tujuan dari kebijakan zonasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Senada dengan Mendikbud, Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan, Chatarina Muliana Girsang mengatakan bahwa seleksi ditentukan dari jarak. “Sekolah wajib menerapkan kuota zonasi minimal 90% termasuk di dalamnya bagi anak-anak tidak mampu.” Ia menjelaskan, seiring dengan tidak berlakunya lagi SKTM dalam proses PPDB, siswa yang tidak mampu dapat melampirkan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) maupun kartu lain yang sejenis seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) sebagai penanda keluarga miskin.

Berdasarkan Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB, pada pasal 19 disebutkan, kuota paling sedikit 90 persen dalam jalur zonasi termasuk kuota bagi peserta didik tidak mampu dan/atau anak penyandang disabilitas pada sekolah yang menyelenggarakan layanan inklusif. Peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu dibuktikan dengan bukti keikutsertaan peserta didik dalam program penanganan keluarga tidak mampu dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

Mendikbud juga menekankan bahwa basis data keluarga miskin cukup dari penerima KIP

atau kartu sejenis baik yang menjadi program pemerintah pusat maupun daerah. Selain itu, bagi keluarga miskin yang belum memiliki kartu-kartu tersebut, dapat meminta sekolah untuk membuat rekomendasi. Caranya, sekolah pada jenjang sebelumnya melampirkan surat rekomendasi berisi data historis yang menyatakan bahwa benar siswa yang bersangkutan terdaftar sebagai siswa miskin. Dengan begitu, kebijakan zonasi dapat diterapkan lebih optimal. “Saya berharap terjadi perubahan pola melalui kebijakan PPDB tahun ini. Jika dulu siswa mendaftar ke sekolah, sekarang sekolah yang proaktif mendaftar peserta didiknya,” tutur Mendikbud.

Peraturan mengenai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2019

merupakan bentuk peneguhan atas kebijakan zonasi yang sudah diterapkan sebelumnya. Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB sekaligus menjadi cetak biru yang akan digunakan Kemendikbud dalam memecahkan masalah yang teridentifikasi ada di sektor formal maupun informal pendidikan agar dapat dicarikan solusinya secara terintegrasi dan menyeluruh.

Mendikbud mengakui banyak polemik yang terjadi di tengah masyarakat dalam menyikapi kebijakan zonasi pada tahun lalu, karena itu Kemendikbud terbuka dengan saran dan kritik, sehingga melakukan penyempurnaan atas pelaksanaan PPDB sebelumnya. Upaya penyempurnaan tersebut salah satunya dilakukan dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan di awal tahun 2019.

“Kita punya waktu lima bulan untuk sosialisasi dan (kita butuh) support dari masyarakat. Kita mengharapkan proses dalam PPDB tahun ini lebih mulus,” ujar Mendiknbud.

 

Sumber :

https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21237/sejarah-teks-proklamasi