Melalui Puisi Esai Bangun Karakter Siswa di Sekolah

Melalui Puisi Esai Bangun Karakter Siswa di Sekolah – Guru dan murid di sekolah mempunyai persoalan karakter yang menggambarkan keberagaman, kesetaraan dan kemerdekaan warga negara. Riset survei LSI Denny JA (2018) mengejar semakin tingginya tingkat intoleransi di kalangan murid dan semua guru.

Di luar penelitian itu, diketahui luas isu soal narkoba, pernikahan dini, apatisme atas isu lingkungan, family yang patah (broken home), dan penelusuran identitas diri di kalangan siswa.

Dalam penjelasan yang diterima, Sabtu (17/11/2018), komunitas puisi esai menyerahkan ikhtiar. Disamping edukasi karakter melewati agama dan Pancasila, bagaimana andai digalakkan pula pengajaran puisi esai.

Ini jenis puisi yang panjang, dengan daftar kaki, yang memberi ruang untuk drama moral yang menyentuh. Lima dosen dan guru, dari lima pulau yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua, bareng menyusun kitab panduan soal puisi esai guna sekolah.

“Sastra tidak saja belajar karya baku semua sastrawan. Sastra juga ialah ekspresi semua siswa dan mahasiswa atas lingkungan sosialnya sendiri, kemarahannya, ketakutannya, kegembiraanya, harapannya,” ujar Denny JA dalam penjelasan tertulis.

Berdasarkan keterangan dari Denny dengan tidak banyak riset, kenyataan dan data di lingkungan sosial oleh semua siswa bisa dituliskan dalam daftar kaki. Mereka menambahkan rekaan sehingga cerita nyata tersebut menjadi drama, menjadi cerpen yang dipuisikan.

“Detail soal puisi esai bisa dipelajari semua guru dan dosen melalui kitab di atas: mengenal puisi esai. Pembaca bisa pula membacanya secara daring,” sambungnya.

Sebelumnya, 176 penyair dari 34 provinsi telah menyebutkan kebijaksanaan lokal di provinsinya masing masing dalam 34 kitab puisi esai. Kisah kebiasaan Indonesia di 34 provinsi tersaji di sana.

12 penyair Malaysia dan Indonesia telah pula menyebutkan riwayat hubungan dua negara dalam puisi esai. Mempelajari Hubungan kultural dan batin Indonesia malah lebih terasa dalam format sastra.

“Kini penyair dari Brunei, Thailand, Singapura menyebutkan riwayat kulturnya sendiri, pun dalam puisi esai,” ucap Denny.

Di Malaysia, bahkan dikenalkan lomba mencatat puisi esai di tingkat Asean. Dan sekarang anak anak SMA di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mulai pula mengerjakan riset soal dunia mereka sendiri. Riset tersebut ditambahkan rekaan menjadi puisi esai.

Sumber: sekolahan.co.id