ANTI ANARKIS ATAU ANIAYA MASSAL

ANTI ANARKIS ATAU ANIAYA MASSAL

Istilah anarkis kalau ditinjau dari etimologi sebetulnya bukan arti sebuah tindakan sekelompok manusia yang bringas, menebarkan keonaran, kekacauan, kehancuran, malapetaka dan menakutkan bagi korbannya. Pengertian isitilah anarkis di penduduk sudah keliru kaprah gara-gara arti anarki itu adalah perindu kebebasan martabat individu yang menolak segala bentuk penindasan, sebetulnya sudah terdefinisi arti anarkis mempunyai pengertian tersendiri. Kita mungkin setuju menolak tindakan sekelompok manusia yang bringas, menebarkan keonaran sekaligus juga menghendaki kemerdekaan martabat individu. Jadi perlu diterbitkan sebuah arti yang tepat untuk sebuah tindakan sekelompok manusia yang berbuat keonaran, umpamanya ANIAYA MASSAL. Dalam tulisan ini kami mohon maaf penulis untuk pas masih pakai kata ‘anarkis’ sebagaimana yang terlanjur penduduk dipahami, supaya tidak berjalan mis komunikasi.

Demo Anarkis Dimana-mana

Beberapa pas ini kondisi kamtibmas ( keamanan, ketertiban penduduk ) jadi tidak menentu. Banyak berjalan demo di mana – mana yang tidak jarang berakhir bentrok antara Polri bersama dengan pendemo, Pendemo bersama dengan pendemo maupun pendemo bersama dengan masyarakat. Tidak jarang bentrokan yang berjalan mengundang rusaknya dan kerugian besar salah satu ke-2 belah pihak dan penduduk pada umumnya.

Aksi memblokir jalan, mengakibatkan kerusakan sarana umum, dan tindakan anarkis lainnya adalah sikap tindakan yang mengganggu ketertiban juga meresahkan masyarakat. Aksi yang demikian tidak sekali atau dua-kali apalagi aksi-aksi kerap dan menuju tren. Mereka mengklaim membela rakyat, bakal namun tambah melakukan perusakan, mengganggu hak-hak individu. Apakah murni mahasiswa2 tersebut membela rakyat, saya kira kalim tersebut kami pertanyakan.

Berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang mengatasnamakan agama. Dua peristiwa beruntun, penyerangan jamaah Ahmadiyah di Banten dan pembakaran tiga gereja di Temanggung.
Pemerintah tidak pernah tegas dalam menindak pelaku anarkis yang mengatasnamakan agama. Dari ratusan masalah umumnya yang diproses hukum hanya aktor lapangan. Sementara para dalang atau aktor intelektual tidak pernah tersedia yang terungkap dan bebas berleha-leha.

Perilaku Anarkis Kolektif
Tindakan anarkis entah itu bersifat perusakan, pengeroyokan, pembakaran tersangka, penjarahan dan lain-lain pada dasarnya adalah hasil dari suatu tingkah laku kolektif (collective behavior). Bila dinamakan tingkah laku kolektif, bukanlah sebatas itu merupakan tingkah laku grup melainkan tingkah laku khas yang dilaksanakan sekelompok orang yang anggotanya pada umumnya tidak saling kenal, bersifat spontan dan ringan cair (dalam makna menghentikan perilakunya). Kelompok yang lantas disebut entah itu crowd, craze dan mob itu, pada dasarnya serupa pula secara kondisional yaitu sudah mengalami deindividuasi. Deindividuasi tersebut terlalu mungkin seseorang atau sekelompok orang melakukan tindakan-tindakan destruktif dan sadis di luar rasionalitas individual dari para pelakunya.

Secara logis sebetulnya mampu dikatakan, bahwa tindakan anarkis bakal mengalami penurunan drastis bila frekuensi kemunculan tingkah laku kolektif juga ditekan habis-habisan. Dalam perihal ini, yang paling efisien melakukan tekanan itu sebetulnya anggota penduduk sendiri, dan bukan polisi, mengingat tingkah laku kolektif mampu terlihat di mana saja kapan saja secara tak terduga padahal polisi tidak mungkin berada dimana-mana. Terlebih kembali bila diingat bahwa penduduk Indonesia juga model penduduk yang ringan terbawa atau hanyut dalam tingkah laku kolektif.

Permasalahannya mengapa yang selalu terlihat adalah kondisi anarkis dan tingkah laku a-sosial? Mengapa pada pas tersedia seseorang yang menganjurkan untuk anarkis, ternyata tidak tersedia (atau sedikit sekali) orang yang sedikitnya berkata ”jangan” ? Padahal, di pihak lain, mampu dikira bahwa beberapa kecil atau beberapa besar peserta dari grup anarkis itu adalah orang-orang yang juga terdidik, punya sopan-santun, singgah dari keluarga kelas menengah, menggerakkan ibadah agama, sudah menikah dan punya anak sampai juga mendiami status sosial khusus di masyarakat.

Redam dan Hentikan Demo Anarkis
Demo Anarkis anggota produk negatif dari penduduk yang merugikan penduduk yang lain, sudah barang pasti tersedia permohonan dari penduduk untuk dilaksanakan peredaman atau penghentian melakukan. Masyarakat mampu melakukan perlawanan yaitu bersama dengan tidak ringan kehilangan rasionalitas, dan selanjutnya mengadakan penolakan berbasis individual pada semangat itu.
Terhadap kecenderungan ajakan tingkah laku kolektif tersebut kami mampu perlu berusaha antisipasi bersama dengan perhitungan sebagai berikut:

Bila kondisi anarkis adalah titik ekstrim dari tingkah laku kolektif, maka kondisi pasifis (situasi aman dan tenang) adalah alternatif titik ekstrim yang lain.

Bila tingkah laku a-sosial (perilaku menyimpang dan melanggar) adalah titik ekstrim, maka seharusnyalah tingkah laku pro-sosial (seperti tingkah laku menopang tanpa pamrih atau mengorbankan diri untuk orang lain) adalah ekstrim lainnya dari tingkah laku kolektif. Baik kondisi pasifis dan tingkah laku pro-sosial, bersama dengan demikian, selayaknya serupa potensialnya untuk terlihat dibanding kondisi anarkis dan tingkah laku a-sosial.

Bila penduduk sendiri yang perlu mencegah anarki oleh massa spontan, maka hanya polisilah yang mampu (dan diperbolehkan oleh undang-undang) untuk mencegah dan menindak anarki model ke-2 tadi cocok fungsinya sebagai pemelihara ketertiban lazim (public-order policing). Intelijen kepolisian yang kuat pasti mampu mendeteksi niat para perancang unjuk rasa, misalnya, untuk “menabrak” siapapun yang mencegah ulah brutal mereka.

Detasemen Anti-Anarki
Mabes Polri bakal membentuk Detasemen Anti Anarki yang lantas nama instansi tersebut diralatnya jadi jadi lebih nyaman terbaca bersama dengan nama Satuan Penanggulangan Anarki. Satuan ini bakal ditaruh dalam kondisi yang sifatnya eskalatif, mampu juga yang sifatnya sporadic. Eskalatif itu rencananya di mulai bersama dengan beragam kegiatan-kegiatan masyarakat. Kemudian satuan ini bakal diterjunkan pada kondisi yang sifatnya sporadis, pasti dari kondisi yang sebetulnya ternyata tersedia perbuatan anarkis atau destruktif yang dilaksanakan secara tiba-tiba. Jadi diinginkan pasti Polda ataupun Polres diinginkan mampu memberdayakan.

Menghadapi kondisi anarki merupakan kewajiban dari kepolisian. Kepolisian punya kewajiban untuk menanggulangi kondisi anarki, dan memberi tambahan hukuman secara tegas dan terukur, cocok bersama dengan arahan yang dipedomani oleh tim ini. Artinya, kondisi anarki itu adalah suatu kewajiban yang mampu diatasi pihak kepolisian. Untuk mampu berhasil, kondisi yang demikian maka penanggulangan anarki kami mengharapkan mampu lebih efisien menghadapi tindakan-tindakan destruktif.

baca juga :