Kasus Kasus Cyber Crime

Kasus Kasus Cyber Crime

Kasus Kasus Cyber Crime

Kasus Kasus Cyber Crime
Kasus Kasus Cyber Crime

KEAMANAN KARTU KREDIT DAN SISTEM PEMBAYARAN ELEKTRONIK (E-PAYMENT)

Kasus Penipuan Kartu Kredit pada Sistem Pembayaran Elektronik

Kemudahan dalam transaksi perdagangan secara elektronik ternyata membawa beberapa masalah serius sehubungan dengan masalah keamanan dalam pembayaran secara elektronik yang diterapkan. Sistem pembayaran secara elektronik telah begitu mendominasi dalam era teknologi seperti sekarang dan banyak menarik minat para pemodal, pebisnis, perusahaan jasa pembayaran elektronik, perusahaan kartu kredit. Namun demikian kemudahan ini diiringi pula oleh resiko yang harus ditanggung dalam menggunakan sistem transaksi perdagangan seperti ini. Masalah utama yang dihadapi adalah begitu banyak penyalahgunaan teknologi untuk kejahatan, mengingat transaksi elektronik umumnya mengandalkan teknologi internet, maka kasus-kasus kejahatan internet secara langsung berhubungan dengan kerentanan transaksi dan pembayaran elektronik yang dilakukan melalui internet ini.  Mengingat transaksi elektronik umumnya dilakukan dengan menggunakan pembayaran melalui kartu kredit sebagai aktivasi atau otentifikasi transaksi, maka tentu saja kejahatan teknologi internet berhubungan pula dengan sistem pembayaran yang dilakukan dengan menggunakan kartu kredit, sehingga muncullah apa yang dinamakan dengan tindak penipuan atau penyalahgunaan kartu kredit (credit card fraud). Kejahatan penyalahgunaan kartu kredit ini muncul dengan berbagai versi. Kasus yang umum terjadi adalah kasus pemalsuan kartu kredit dengan berbagai tehnik terbaru, misalnya dengan teknik “Cardholder-Not-Present / CNP (Si Pemilik Kartu tidak Hadir saat transaksi) yang banyak terjadi di banyak negara akhir-akhir ini. Dengan semakin banyaknya jasa perbankan dan situs dagang yang menawarkan kemudahan jasa pembayaran dan finansial secara elektronik seperti internet banking, phone banking, dan e-commerce diiringi dengan penggunaan kartu kredit sebagai otorisasi transaksi maka para pelaku kejahatan yang mulanya bertindak secara fisik (begal, perampok, pencopet, dsb) kini mulai beralih ke dunia maya dengan harapan memperoleh target sasaran yang lebih besar, lebih menguntungkan dan resiko yang lebih kecil. Dengan berbagai cara mereka berusaha untuk mencari celah dan jalan yang bisa mereka susupi untuk menjalankan aksi-aksi kejahatan mereka.

Ide pembayaran transaksi perdagangan secara elektronik bukanlah hal yang baru. Bahkan sejak tahun 1970-an dan awal 1980-an, berbagai metode dan tehnik pembayaran melalui jaringan komputer dan kartu kredit sudah mulai diperkenalkan, terutama di negara-negara maju. Semakin tidak mengherankan lagi bahwa beberapa tahun terakhir ini para pengguna internet dunia meningkat dengan pesat hingga mencapai 930 juta pengguna dan jumlah ini terus meningkat secara eksponensial dari waktu ke waktu. Sistem pembayaran secara elektronik baru benar-benar mendunia sekitar akhir tahun 1996 dan awal tahun 1997, dimana begitu banyak lembaga komersial maupun lembaga pendidikan mulai berlomba-lomba mengembangkan sistem pembayaran baru ini dengan berbagai cara dan variasi yang unik pula. Beberapa banyak pula yang gagal dalam menerapkan sistem pembayaran elektronik ini. Misalnya sistem cyber cash dan Digi cash yang mengalami kerugian saat memperkenalkan cara pembayaran elektronik dan kemudahan penarikan uang tunai. Sistem pembayaran elektronik (E-Payment) mengandalkan pada sistem pentransferan nilai mata uang melalui jaringan internet dan teknologi komunikasi sebagai sarana lalu lintas data finansial sehubungan dengan sistem perdagangan elektronik yang diberlakukan (e-commerce). Sistem pembayaran elektronik (E-Payment) yang umum dilakukan ada beberapa jenis, yaitu menurut kategori Business to Business (B2B), Business to Consumer (B2C), Consumer to Business (C2B) dan Consumer to Consumer (C2C).

Masalah keamanan masih saja menjadi isyu utama dalam hal sistem pembayaran seperti ini karena resiko penipuan dan pemalsuan data elektronik masih saja ditemui sebagai kendala utama dalam sistem pembayaran elektronik ini. Bahkan dari tahun ke tahun jumlah kejahatan elektronik ini bukannya menurun malah semakin bertambah. Hal ini terutama terjadi karena semakin bertambahnya penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran secara luas, dimana celah ini dimanfaatkan oleh berbagai pelaku kejahatan terorganisir (baca= mafia) yang semakin merajalela melibatkan diri dalam berbagai aksi. Sebagai contoh, lebih dari satu dekade yang lalu kejahatan penipuan dan pemalsuan kartu kredit yang terjadi di Inggris mencapai jumlah kerugian sekitar 96.8 juta poundsterling. Dewasa ini angka itu meledak berkali lipat mencapai 402.4 juta poundsterling per tahun. Ini baru nilai nyata kerugian yang terlihat, belum nilai lain yang tidak langsung tampak seperti biaya yang harus ditanggung untuk pemulihan reputasi suatu lembaga finansial atau perusahaan, juga ongkos yang harus dikeluarkan untuk membiayai berbagai proses hukum sehubungan dengan kasus kejahatan yang menimpa suatu lembaga jasa finansial pembayaran atau perusahaan dagang yang menggunakan jasa pembayaran elektronik dalam transaksinya.

Sistem pembayaran dengan kartu kredit merupakan sistem pembayaran populer yang banyak diterapkan di jasa perdagangan online di internet. Penggunaan sistem pembayaran dengan kartu kredit pertama kali diperkenalkan sekitar antara tahun 1949 (kartu kredit Diner’s Club) dan tahun 1958 (kartu kredit American Express). Kedua kartu kredit ini menggunakan strip atau pita magnetik dengan data yang tidak terenkripsi serta berbagai informasi yang hanya bisa dibaca (read-only information). Namun seiring dengan perkembangan teknologi, jenis-jenis kartu kredit yang ada sekarang merupakan jenis “kartu kredit berteknologi pintar” yang dilengkapi dengan ekripsi data dan kapasitas penampungan data yang lebih besar daripada jenis-jenis pendahulunya.

Pada tahun 1996 Visa dan Master Card mengumumkan bahwa mereka telah bekerjasama mengembangkan sebuah protokol tertentu yang menjamin keamanan transaksi perbankan di internet. Proses ini melibatkan penggunaan teknologi enkripsi digital signature tingkat tinggi, juga sertifikat keamanan yang menyatu dengan proses transaksi itu sendiri sehingga tidak bisa diotak-atik oleh si pengguna sendiri atau bahkan orang lain yang berniat jahat. Biaya keamanan yang harus ditanggung oleh pengguna kartu kredit tentu saja tidak murah akibat adanya penggunaan teknologi yang berbasis keamanan ini, ini tercermin dari biaya transaksi yang tidak kecil setiap kali kartu kredit itu digunakan untuk transaksi.

Setiap kali akan bertransaksi di internet, seorang pengguna kartu kredit haruslah menyediakan data detil pribadinya sebagai salah satu otorisasi transaksi baik untuk layanan jasa maupun jual beli barang yang diaksesnya di internet. Celah keamanan saat pengisian data pribadi yang berisi detil data si pemilik kartu kredit ini tampaknya menjadi semacam senjata makan tuan. Celah inilah yang banyak digunakan oleh para pelaku kejahatan internet untuk memalsukan otorisasi transaksi sehingga seakan-akan transaksi tersebut benar-benar telah valid disetujui oleh si pemilik kartu kredit.

Namun demikian selain berbagai resiko keamanan, penggunaan kartu kredit masih mempunyai beberapa keunggulan seperti antara lain:

Ø  kartu kredit memungkinkan Anda untuk membeli barang atau jasa tanpa harus membawa sejumlah uang secara tunai.

Ø  Setiap transaksi pembelian atau pengeluaran dana akan selalu tercatat dengan baik.

Ø  Anda bisa memesan suatu barang melalui surat (mail-order) dan kemudian dibayar dengan menggunakan kartu kredit.

Ø  Kartu kredit memungkinkan Anda membeli barang berharga mahal dengan cara mencicil setiap bulannya.

Ø  Pada suatu kasus tertentu, Anda bisa menangguhkan pembayaran terhadap suatu barang yang sudah Anda beli bila Anda meragukan keamanan pembayaran yang akan Anda lakukan.

Ø  Memiliki kartu kredit berarti Anda tidak perlu merasa khawatir bepergian dan berbelanja ke luar negeri tanpa membawa mata uang lokal.

Ø  Dengan memiliki kartu kredit akan memudahkan Anda untuk pembayaran tagihan bulanan atau pun tagihan pajak secara otomatis.

Dengan kehadiran cara pembayaran online menggunakan kartu kredit, kemudahan belanja jarak jauh semakin mungkin untuk dilakukan. Anda tidak perlu keluar negeri hanya untuk membeli barang produk buatan luar negeri. Cukup berbelanja melalui internet, dan melakukan pembayaran dengan kartu kredit, maka barang akan diantarkan sampai ke alamat Anda dengan selamat

.Upaya-upaya pendeteksian dan pencegahan terhadap tindak penipuan dan penyalahgunaan kartu kredit semakin perlu dipertimbangkan dalam hal manajemen resiko yang diterapkan di berbagai industri kartu kredit dan perusahaan jasa layanan e-commerce.

Menurut sebuah studi mengenai profitabilitas layanan kartu kredit oleh bank sehubungan dengan aspek Manajemen Kartu Kredit, industri perdagangan online dan jasa pembayaran online mengalami kerugian mencapai satu milyar dolar setiap tahunnya akibat adanya tindak penipuan dan penyalahgunaan kartu kredit. Ini baru dihitung dari besarnya kerugian akibat adanya kartu-kartu kredit yang kebobolan, belum dihitung berapa besar kerugian yang dibebankan kepada para merchant (pedagang) akibat tindak penipuan melalui mail-order atau telephone order ; biasa disebut MOTO (layanan jual beli melalui transaksi surat menyurat; semacam katalog dan jual beli melalui telepon ; biasa dilakukan di negara-negara maju).

Tingkat kerugian ini meningkat dengan drastis dalam beberapa tahun terakhir ini, dimana tindak penipuan dan pemalsuan kartu kredit biasanya menggunakan tehnik terbaru yaitu dengan mengakali sistem pembayaran Cardholder-Not-Present (CNP) yang biasa diterapkan dalam sistem pembayaran transaksi online di internet, kemudian dikenal dengan istilah CNP Fraud. Di Inggris sendiri pada tahun 2004,kejahatan CNP fraud sendiri telah menyebabkan kerugian senilai 116.4 juta poundsterling, sementara itu di Amerika hal yang sama menyebabkan kerugian sebesar 428.2 juta dolar, sementara di Perancis menyebabkan kerugian sekitar 126.3 juta frank dalam periode yang sama. (Financial Times, January 2005; UN World Report on Electronic Fraud, December 2004).

Baca Juga

Jenis Jenis Ancaman Threat melalui IT

Jenis Jenis Ancaman Threat melalui IT

Jenis Jenis Ancaman Threat melalui IT

Jenis Jenis Ancaman Threat melalui IT
Jenis Jenis Ancaman Threat melalui IT

Kejahatan yang berhubungan erat dengan penggunaan teknologi yang berbasis komputer dan jaringan telekomunikasi ini dikelompokkan dalam beberapa bentuk ancaman threat melalui IT diantaranya adalah :

  1. Unauthorized Access to Computer System and Service : Kejahatan yang dilakukan dengan memasuki/menyusup ke dalam suatusistem jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin atau tanpa sepengetahuan dari pemilik sistem jaringan komputer yang dimasukinya. Biasanya pelaku kejahatan (hacker) melakukannya dengan maksud sabotase ataupun pencurian informasi penting dan rahasia. Namun begitu, ada juga yang melakukannya hanya karena merasa tertantang untuk mencoba keahliannya menembus suatu sistem yang memiliki tingkat proteksi tinggi. Kejahatan ini semakin marak dengan berkembangnya teknologi Internet/intranet. Kita tentu belum lupa ketika masalah Timor Timur sedang hangat-hangatnya dibicarakan di tingkat internasional, beberapa website milik pemerintah RI dirusak oleh hacker (Kompas, 11/08/1999). Beberapa waktu lalu, hacker juga telah berhasil menembus masuk ke dalam data base berisi data para pengguna jasa America Online (AOL), sebuah perusahaan Amerika Serikat yang bergerak dibidang ecommerce yang memiliki tingkat kerahasiaan tinggi (Indonesian Observer, 26/06/2000). Situs Federal Bureau of Investigation (FBI) juga tidak luput dari serangan para hacker, yang mengakibatkan tidak berfungsinya situs ini beberapa waktu lamanya (http://www.fbi.org).
  1. Illegal Contents : Merupakan kejahatan dengan memasukkan data atau informasi ke Internet tentang sesuatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau mengganggu ketertiban umum. Sebagai contohnya, pemuatan suatu berita bohong atau fitnah yang akan menghancurkan martabat atau harga diri pihak lain, hal-hal yang berhubungan dengan pornografi atau pemuatan suatu informasi yang merupakan rahasia negara, agitasi dan propaganda untuk melawan pemerintahan yang sah dan sebagainya.
  2. Data Forgery : Merupakan kejahatan dengan memalsukan data pada dokumen-dokumen penting yang tersimpan sebagai scripless document melalui Internet. Kejahatan ini biasanya ditujukan pada dokumen-dokumen e-commerce dengan membuat seolah-olah terjadi “salah ketik” yang pada akhirnya akan menguntungkan pelaku karena korban akan memasukkan data pribadi dan nomor kartu kredit yang dapat saja disalah gunakan.
  3. Cyber Espionage : Merupakan kejahatan yang memanfaatkan jaringan Internet untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap pihak lain, dengan memasuki sistem jaringan komputer (computer network system) pihak sasaran. Kejahatan ini biasanya ditujukan terhadap saingan bisnis yang dokumen ataupun data pentingnya (data base) tersimpan dalam suatu sistem yang computerized (tersambung dalam jaringan komputer)
  4. Cyber Sabotage and Extortion : Kejahatan ini dilakukan dengan membuat gangguan, perusakan atau penghancuran terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer yang terhubung dengan Internet. Biasanya kejahatan ini dilakukan dengan menyusupkan suatu logic bomb, virus komputer ataupun suatu program tertentu, sehingga data, program komputer atau sistem jaringan komputer tidak dapat digunakan, tidak berjalan sebagaimana mestinya, atau berjalan sebagaimana yang dikehendaki oleh pelaku.
  5. Offense against Intellectual Property : Kejahatan ini ditujukan terhadap hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki pihak lain di Internet. Sebagai contoh, peniruan tampilan pada web page suatu situs milik orang lain secara ilegal, penyiaran suatu informasi di Internet yang ternyata merupakan rahasia dagang orang lain, dan sebagainya.
  6. Infringements of Privacy : Kejahatan ini biasanya ditujukan terhadap keterangan pribadi seseorang yang tersimpan pada formulir data pribadi yang tersimpan secara computerized, yang apabila diketahui oleh orang lain maka dapat merugikan korban secara materil maupun immateril, seperti nomor kartu kredit, nomor PIN ATM, cacat atau penyakit tersembunyi dan sebagainya.

Sumber : https://earlraytomblin.com/

IT Forensic

IT Forensic

IT Forensic

IT Forensic
IT Forensic

IT Forensik adalah cabang dari ilmu komputer tetapi menjurus ke bagian forensik yaitu berkaitan dengan bukti hukum yang ditemukan di komputer dan media penyimpanan digital. Komputer forensik juga dikenal sebagai Digital Forensik yang terdiri dari aplikasi dari ilmu pengetahuan kepada indetifikasi, koleksi, analisa, dan pengujian dari bukti digital.

IT Forensik adalah penggunaan sekumpulan prosedur untuk melakukan pengujian secara menyeluruh suatu sistem komputer dengan mempergunakan software dan tool untuk memelihara barang bukti tindakan kriminal. IT forensik dapat menjelaskan keadaan artefak digital terkini. Artefak Digital dapat mencakup sistem komputer, media penyimpanan (seperti hard disk atau CD-ROM, dokumen elektronik (misalnya pesan email atau gambar JPEG) atau bahkan paket-paket yang secara berurutan bergerak melalui jaringan.

Bidang IT Forensik juga memiliki cabang-cabang di dalamnya seperti firewall forensik, forensik jaringan , database forensik, dan forensik perangkat mobile.

o    Menurut Noblett, yaitu berperan untuk mengambil, menjaga, mengembalikan, dan menyajikan data yang telah diproses secara elektronik dan disimpan di media komputer.

o    Menurut Judd Robin, yaitu penerapan secara sederhana dari penyidikan komputer dan teknik analisisnya untuk menentukan bukti-bukti hukum yang mungkin.

o    Menurut Ruby Alamsyah (salah seorang ahli forensik IT Indonesia), digital forensik atau terkadang disebut komputer forensik adalah ilmu yang menganalisa barang bukti digital sehingga dapat dipertanggungjawabkan di pengadilan.

 Barang bukti digital tersebut termasuk handphone, notebook, server, alat teknologi apapun yang mempunyai media penyimpanan dan bisa dianalisa. Alasan mengapa menggunakan IT forensik, antara lain: -Dalam kasus hukum, teknik digital forensik sering digunakan untuk meneliti sistem komputer milik terdakwa (dalam perkara pidana) atau tergugat (dalam perkara perdata).

o    Memulihkan data dalam hal suatu hardware atau software mengalami kegagalan/kerusakan (failure).

o    Meneliti suatu sistem komputer setelah suatu pembongkaran/ pembobolan, sebagai contoh untuk menentukan bagaimana penyerang memperoleh akses dan serangan apa yang dilakukan.

o    Mengumpulkan bukti menindak seorang karyawan yang ingin diberhentikan oleh suatu organisasi.

o    Memperoleh informasi tentang bagaimana sistem komputer bekerja untuk tujuan debugging, optimisasi kinerja, atau membalikkan rancang-bangun. Siapa yang menggunakan IT forensic ? Network Administrator merupakan sosok pertama yang umumnya mengetahui keberadaan cybercrime sebelum sebuah kasus cybercrime diusut oleh pihak yang berwenang. Ketika pihak yang berwenang telah dilibatkan dalam sebuah kasus, maka juga akan melibatkan elemenelemen vital lainnya, antara lain:

  1. Petugas Keamanan (Officer/as a First Responder), Memiliki kewenangan tugas antara lain : mengidentifikasi peristiwa,mengamankan bukti, pemeliharaan bukti yang temporer dan rawan kerusakan.
  2. Penelaah Bukti (Investigator), adalah sosok yang paling berwenang dan memiliki kewenangan tugas antara lain: menetapkan instruksi-instruksi, melakukan pengusutan peristiwa kejahatan, pemeliharaan integritas bukti.
  3. Tekhnisi Khusus, memiliki kewenangan tugas antara lain : memeliharaan bukti yang rentan kerusakan dan menyalin storage bukti, mematikan(shuting down) sistem yang sedang berjalan, membungkus/memproteksi buktibukti, mengangkut bukti dan memproses bukti. IT forensic digunakan saat mengidentifikasi tersangka pelaku tindak kriminal untuk penyelidik, kepolisian, dan kejaksaan.

Sumber : https://cloudsoftwareprogram.org/

Gaji Guru Honorer Ditunda, Mendikbud Sebut Sedang ”Godok” Peraturan

Gaji Guru Honorer Ditunda, Mendikbud Sebut Sedang ''Godok'' Peraturan

Gaji Guru Honorer Ditunda, Mendikbud Sebut Sedang ”Godok” Peraturan

Gaji Guru Honorer Ditunda, Mendikbud Sebut Sedang ''Godok'' Peraturan
Gaji Guru Honorer Ditunda, Mendikbud Sebut Sedang ”Godok” Peraturan

Pemerintah sedang menyiapkan peraturan terkait penyaluran gaji bagi para guru honorer

yang saat ini masih tertunda akibat pengalihan pengelolaan SMA/SMK dari pemerintah kabupaten/kota ke pemerintah provinsi.

“Kami sedang siapkan peraturannya, mudah-mudahan aktif bulan ini,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (4/2/2017) sore.

Menurut Muhadjir, masih perlu ada harmonisasi peraturan antara peraturan Kemendikbud,

Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan sebelum peraturan tersebut diterapkan.

Di samping itu, perlu ada pula “fatwa” dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) supaya ke depan tidak timbul masalah baru.

“Walaupun niatnya baik, kalau caranya tidak baik, nanti malah jadi masalah. Kalau prinsip saya sebagai Mendikbud, sangat perhatian dan memahami bahwa masalah ini harus segera diselesaikan,” tuturnya.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu pun meminta kepada para guru

untuk bersabar sampai peraturan tersebut selesai “digodok” dan hak-haknya segera terpenuhi.

“Ya, sementara ditunda dulu, sabar dulu sambil berdoa mudah-mudahan segera tuntas,” ujarnya.

Ia menyebut jumlah guru honorer di Indonesia tercatat ada sekitar 160.000 orang. Sebanyak 26.000 di antaranya diangkat oleh masing-masing pemerintah daerah dan sisanya diangkat oleh kepala sekolah.*

 

Baca Juga :

AKBP Donald Happy Ginting: Budaya Tertib Belalu Lintas dan Cegah Dini Radikalisme

AKBP Donald Happy Ginting Budaya Tertib Belalu Lintas dan Cegah Dini Radikalisme

AKBP Donald Happy Ginting: Budaya Tertib Belalu Lintas dan Cegah Dini Radikalisme

AKBP Donald Happy Ginting Budaya Tertib Belalu Lintas dan Cegah Dini Radikalisme
AKBP Donald Happy Ginting Budaya Tertib Belalu Lintas dan Cegah Dini Radikalisme

Menciptakan generasi muda yang lebih baik untuk bangsa dan negara, Sekolah Tinggi Ilmu Adiministrasi

(STIA) Lancang Kuning Dumai melaksanakan kuliah umum kepada mahasiswa dengan tema “Budaya Tertib Belalu Lintas dan Cegah Dini Radikalisme,” Kamis (12/01/2017).

Dalam kegiatan kuliah umum itu, turut yang mengisi materi yakni Kapolres Dumai AKBP Donald Happy Ginting SIK.MSi dan WS. Kasat Binmas Polres Dumai AKP Ahmad Firdaus. S.AP.

Adapun dalam pemaparannya dihadapan mahasiswa, Kapolres Dumai menyampaikan tentang Budaya

tertib berlalu lintas merupakan tingkah laku pemakai jalan yang merupakan sebuah nilai, ketika membiasakan sikap prilaku tertib berlalu lintas maka akan tercipta ketertiban berlalu lintas dan mengajak mahasiswa kembali ke nilai budaya tertib berlalu lintas serta negara mengharapkan mahasiswa menjadi pilar pelopor tertib berlalu lintas dengan nilai-nilai budaya tertib berlalu lintas itu sendiri.

Selain materi tentang tertib lalu lintas, Kapolres Dumai kembali melanjutkan pemaparan tentang pencegahan dini radikalisme di Indonesia khususnya di Kota Dumai.

“Radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan secara drastis dan dilakukan dengan cara kekerasan, Radikalisme tidak bisa menerima perbedaan sehingga menganggap kelompok lain yang berbeda adalah kelompok yang salah, Radikalisme tidak hanya monopoli kelompok keagamaan tetapi juga terjadi pada semua gerakan ideologis,” ujarnya.

Terakhir dihimbau orang nomor satu di lingkup Polres Dumai itu, kepada mahasiswa

diharapkan memahami radikalisme agar dapat membentengi diri apabil ada ajakan atau pengaruh untuk mengikuti paham radikal, memiliki wawasan kebangsaan serta dapat menerima bangsa yang dibangun berdasarkan kemajemukan perbedaan dan keberagaman.

Pantauan dilapangan, Setelah penyampaian materi kuliah umum oleh Kapolres Dumai, kegiatan dilanjutkan sesi tanya jawab dengan peserta yang hadir.

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/kbrINH1ed8

 

 

Al Azhar Kelapa Gading Kembangkan Program Jurnalistik Sekolah

Al Azhar Kelapa Gading Kembangkan Program Jurnalistik Sekolah

Al Azhar Kelapa Gading Kembangkan Program Jurnalistik Sekolah

Al Azhar Kelapa Gading Kembangkan Program Jurnalistik Sekolah
Al Azhar Kelapa Gading Kembangkan Program Jurnalistik Sekolah

Pihak sekolah Al Azhar Kelapa Gading mengembangkan program jurnalistik bagi kalangan siswa SD, SMP, dan SMA

. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa dan keterampilan jurnalistik.

Menurut salah seorang guru Al Azhar Kelapa Gading, Teguh Dwijatmoko, untuk mencapai tujuan itu, salah satu yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah memberikan pelatihan jurnalistik bagi siswa. Di antaranya menghadirkan wartawan media massa nasional, Republika, menjadi narasumber dalam pelatihan.

“Kita menghadirkan salah seorang redaktur Republika sebagai pemateri.

Tujuannya agar pemateri memotivasi siswa untuk menulis dan memberikan pelatihan jurnalistik,” kata Teguh usai acara Pelatihan Jurnalistik Al Azhar Kelapa Gading di Gedung Pusat Kajian Alquran Al Azhar Kelapa Gading, Jakartsa, Sabtu (19/3).

Usai pelatihan, lanjut Teguh yang juga ketua panitia pelatihan jurnalistik itu, siswa sekolah akan membuat organisasi wartawan siswa untuk setiap tingkatan. Siswa dipilih menjadi anggotanya bertugas menjadi wartawan siswa sekaligus koordinator untuk menggerakan teman-temannya menulis. “Tidak hanya tulisan jurnalistik, tapi juga sastra, puisi, cerpen, dan lainnya,” kata Teguh.

Tidak hanya siswa, guru-guru juga mengikuti pelatihan jurnalistik ini. Menurut Teguh

, banyak guru yang memiliki ide-ide dalam dunia pendidikan. Namun, ide tersebut jarang dituangkan dalam sebuah tulisan.

Karena itu, pelatihan jurnalistik ini diharapkan bisa memacu siswa dan guru untuk menyalurkan bakat dan potensinya dalam sebuah tulisan. Pihak Al Azhar Kelapa Gading sendiri saat ini sudah memiliki majalah sekolah yang bernama MASA. “Jadi, nanti siswa dan guru bisa mengirimkan tulisannya di majalah MASA,” kata Teguh.*

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/6cw4E4e293s9JdF

Pengaruh Gadget pada Minat Baca Anak

Pengaruh Gadget pada Minat Baca Anak

Gadget adalahhal yang ketika ini menjadi momok untuk banyak orang tua. Kehadiran teknologi ini sudah menjadi magnet negatif untuk sebagian anak, terutama untuk para orang tua yang tak dapat mengontrol pemakaian gadget pada anaknya. Saat ini lazimnya anak-anak lebih suka bermain gadget dikomparasikan membaca buku.

Buku sudah dirasakan hal yang tidak menarik sebab banyaknya game-game online yang dapat dimainkan lebih seru melewati gadget. Oleh karena itu, semua orang tua perlu menyimak masalah ini. Jangan menyerahkan gadget begitu saja untuk anak bila hendak anak mempunyai Minat baca yang baik, guna mengatasinya saya dan anda butuh melakukan sejumlah hal, yaitu:

Membuat perjanjian dengan anak tentang pemakaian gadget yang dapat ditebus dengan jadwal baca sang anak.
Menyediakan fasilitas kitab digital di dalam gadget yang bisa dibaca oleh anak kapan saja.
Mematikan koneksi data gadget sesudah perjanjian pemakaian gadget bareng anak selesai
Menjelaskan akibat kesehatan pemakaian gadget secara terus menerus untuk mata dan kesehatan tubuh lainnya.
Jika tetap hendak menggunakan gadget maka ajarkan hal-hal urgen yang bermanfaat seperti memakai perangkat pembelajaran online, belajar bahasa, membuka website-website belajar atau kisah online dan sebagainya, yaitu hal-hal yang bermanfaat. Sehingga di dalam gadget pun anda tetap dapat mengembangkan Minat baca anak-anak kita.

Sumber : studybahasainggris.com/

Cara membuat difusher lampu studio

Cara membuat difusher lampu studio

Cara membuat difusher lampu studio

Cara membuat difusher lampu studio
Cara membuat difusher lampu studio

alam studio, lampu memiliki peran yang sangatlah penting. Secara fotografi fros
Fesional, pencahayaan lah yang menjadi kunci keindahan hasil foto. Akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan pencahayaan studio, dibutuhkan dana yang lumayan besar untuk mewujudkannya. Lalu adakah solusi untuk tetap memiliki pencahayaan bagus dalam studio tanpa mengeluarkan uang yg besar bahkan tidak sma sekali?

Membuat difuser DIY lah solusinya. Pengalaman saya membuat DIY difusher lampu studio sangatlah gampang. Apalagi sudah punya lampu LED 10W. Sisanya kita hanya perlu membuat difushernya agar pencahayaan lebih sempurna. Lalu bagaimana caranya?

Berikut alat dan bahan yang diperlukan :
1. Kardus bekas
2. Lem super
3. Selotip
4. Gunting
5. Kertas silver atau aluminium voil
6. Lem kertas

Total dana yang saya keluarkan untuk lighting adalah 150rb. diantaranya :
3 buah lampu LED 10W Rp.120.000
3 buah viting lamp Rp.15.000
1 buah isolasi Rp.5000
beberapa batang pendek kayu bekas. kirakira Rp.10.000

Cara pembuatan :
Untuk lebih jelasnya bisa simak vidio pada link di bawah ini :
DIY lighting studio untuk youtuber pemula

Sekian tutorial daei saya mengenai cara membuat difusher lampu studio. Semoga bermanfaat dan terimakasih telah membaca artikel ini.

Baca Juga : 

Hubungan Moral Kerja dan Produktivitas Karyawan

Hubungan Moral Kerja dan Produktivitas Karyawan

Hubungan Moral Kerja dan Produktivitas Karyawan

Hubungan Moral Kerja dan Produktivitas Karyawan
Hubungan Moral Kerja dan Produktivitas Karyawan

Harris (1984:239) menjelaskan bahwa semenjak moral dilibatkan kedalam sikap-sikap karyawan, adalah penting untuk meninjau akibat dari moral tinggi (dipersepsi dengan kepuasan tinggi) dan moral rendah (persepsi kepuasan rendah).

Satu dari efek atau pengaruh yang tidak dapat diramalkan dari moral adalah dampak pada produktivitas karyawan. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh Kazt dan Vroom memperlihatkan tidak ada hubungan yang konsisten antara tingkat moral kerja yang spesifik dengan kinerja produktif karyawan. Kadang-kadang produktivitas tinggi dan moral juga tinggi, tetapi di lain waktu produktivitas rendah meskipun moral kerja tinggi dan sebaliknya.
Di sisi lain, Drafke & Kossen (1998;296) mengatakan bahwa hubungan langsung antara moral kerja dan produktivitas adalah moral yang tinggi akan berdampak pada produktivitas yang tinggi. Demikian pula jika moral rendah akan mengurangi
produktivitas. Sedangkan Herzberg (dalam Gellerman, 1984:321) meringkaskan berbagai
penelitian yang dipublikasikan mengenai efek moral kerja terhadap produktivitas sebagai berikut:
Dari seluruh survey yang dilaporkan, 54% menunjukkan bahwa moral yang tinggi berkaitan dengan produktivitas yang tinggi; sementara 35% lainnya menunjukkan bahwa moral tidak berhubungan dengan produktivitas; dan 11% lainnya menyebutkan moral tinggi berhubungan dengan produktivitas yang rendah. Hubungan itu tidak mutlak, tetapi terdapat cukup banyak data yang mendukung bahwa memberi perhatian pada karyawan berpengaruh terhadap meningkatnya keluaran karyawan. Korelasi yang rendah itu berarti bahwa selain sikap kerja tentu banyak faktor lainnya yang juga mempengaruhi produktivitas.
Selanjutnya Harris mengatakan bahwa kemungkinan gejala hubungan antara produktivitas dengan tingkat moral harus dipertimbangkan dari tiga persepsi yang mempengaruhi tingkat moral seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu (1) persepsi karyawan terhadap keadaan organisasi yang tidak dapat dikendalikannya, seperti pengawasan, kerja sama dengan rekan sekerja, dan kebijakan organisasi terhadap pekerja.
Bila faktor tersebut dipandang menyenangkan bagi karyawan, moral kerja akan cenderung tinggi (2) persepsi karyawan terhadap tingkat kepuasan yang diperoleh dari imbalan yang diterima (3) persepsi karyawan terhadap kemungkinan untuk mendapatkan imbalan dan masa depan serta kesempatan untuk maju. Harris mencoba menggambarkan keterkaitan antara persepsi karyawan dan tingkat moral kerja serta efeknya pada bagan berikut ini:

Sumber : https://usgsprojects.org/

Pengertian Moral Kerja

Pengertian Moral Kerja

Pengertian Moral Kerja

Pengertian Moral Kerja
Pengertian Moral Kerja

Istilah moral digunakan untuk menerangkan perilaku organisasi. Di dalam organisasi bisnis, tentu saja pengertian moral tersebut dikaitkan dengan aktivitas kerja dan diistilahkan dengan employee morale.
Beberapa pengertian moral kerja dapat kita lihat dari beberapa uraian teoritis di bawah ini:
Drafke & Kossen (1998;295) mendefinisikan:
Morale is employee’s attitudes toward either their employing organizations in general or towards spesific job factors, such as supervision, fellow employees, and financial incentive. It can be ascribed to either the individual or to the group of which he or she is apart.
Dalam hal ini Drafke & Kossen mengatakan bahwa moral kerja mengacu pada sikap-sikap karyawan baik terhadap organisasi-organisasi yang mempekerjakan mereka, maupun terhadap faktor-faktor pekerjaan yang khas, seperti supervisi, sesama karyawan, dan rangsangan-rangsangan keuangan. Ini dapat dianggap berasal baik dari individu maupun kelompok yang merupakan bagian dimana karyawan berada.

Keith Davis (1989:76) mengemukakan bahwa:
When they refer to morale, they usually mean the attitude of individuals and groups toward their work environment and toward voluntary cooperation to the full extent of their ability in the best interest of organization. Emphasis is upon the drive to do good work rather than contentment.
Menurut Keith Davis, berbicara mengenai moral kerja, kita selalu mengartikan moral sebagai sikap perorangan dan kelompok terhadap lingkungan kerjanya dan sikap untuk bekerja sebaik-baiknya dengan mengerahkan kemampuan yang dimiliki secara sukarela. Dalam hal ini lebih menekankan pada dorongan untuk bekerja dengan sebaikbaiknya daripada sekedar kesenangan saja.
Lebih lanjut William B. & Keith Davis (1993:541-549) menghubungakan moral kerja dengan quality of work life effort. Menurutnya, moral kerja bermanfaat dan dapat digunakan untuk berbagai kepentingan yang erat kaitannya dengan usaha membina relasi antar karyawan, komunikasi informal dan formal, pembentukan disiplin serta konseling.

Judith R.Gordon (1991:754) mengungkapkan:
…a predisposition in organization members to put forth extra effort in achieving organizational goals and objectives. Included feeling of commitment. Morale is a group phenomenon involving extra effort, goals communality, and feelings of belonging.
Menurutnya moral kerja adalah suatu predisposisi dari anggota organisasi untuk berupaya keras dalam mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Moral meliputi komitmen terhadap tujuan itu. Moral adalah suatu fenomena kelompok yang meliputi upaya keras, adanya tujuan bersama dan perasaan memiliki.
Harris (1984:238) menyatakan:
Morale is to view it as workers’ perceptions of the existing state of their well being-in order words, the workers’ degree of satisfaction with organizational conditions and circumtances. Morale is said to be “high” when conditions and circumtances appear to be favorable and “low” when conditions are unfavorable.
Menurut Harris, moral kerja dimaksudkan sebagai persepsi karyawan terhadap keadaan yang ada dengan kata lain kesejahteraan, tingkat kepuasan karyawan dengan kondisi organisasi dan keadaan sekitarnya. Moral dikatakan tinggi apabila kondisi dan keadaan sekitarnya nampak menyenangkan dan dikatakan rendah apabila kondisi tidak menyenangkan.
Dari sejumlah pengertian yang dikemukakan di atas, terlihat bahwa moral kerja adalah suatu predisposisi yang mempengaruhi kemauan, perasaan dan pikiran untuk bekerja dan berupaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan sebaik-baiknya.
Moral kerja dapat dilihat dalam kaitannya dengan moral individual dan moral kelompok. Moral individual berarti semangat individu untuk menyumbangkan tenaga maupun pikirannya dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Sedangkan moral kerja kelompok berarti semangat kerja dari kelompok secara bersama-sama untuk menyumbangkan
tenaga dan pikirannya guna mencapai tujuan bersama.

Sumber : https://fascinasiansblog.com/