How Do I Create an ORCID

How Do I Create an ORCID

How Do I Create an ORCID

How Do I Create an ORCID
How Do I Create an ORCID

It’s easy to register for an ORCID.

First head to http://orcid.org. There are three steps to creating an ORCID:

Register for an ORCID
Registration is easy, free and fast — it takes less than a minute to register
Add your information
If you have previously created a ResearcherID in Web of Science or a Scopus ID, you will be able to link to those and import references for your publications using special wizards (see instructions below). You can also add a variety of professional information including current and previous uinstitutional affiliations.
Use your ORCID
Include your ORCID in your email signature file, on your website, and when available, include in your publication submissions
Adding Information to Your ORCID Profile
Import references from Scopus — Import your Identifier, profile and publications. The wizard helps you find the correct Scopus profile and to confirm your publications. You can then import the identifier and list of publications into ORCID. Any changes you make will be submitted to the Feedback team to update your Scopus profile.

Login to your ORCID record.
Click on “Import Works” and then “Scopus to ORCID”.
Follow the on screen prompts to send your Scopus ID and papers to ORCID.
Import references from ResearcherID profile — If you have previously created a ResearcherID, you can import information from that profile into your ORCID profile.

Login to your ORCID record
Click on “Import Works” and then “ResearcherID”
Follow the on screen prompts to send your ResearcherID and papers to ORCID
Import references using CrossRef Metadata Search — import references for books, articles, and any other of your publication registered in the CrossRef system into your ORCID profile.

Login to your ORCID record
Click on “Import Works” and the “CrossRef Metadata Search”
Follow the on screen prompts to select items that are not already in your ORCID profile
For papers that do not appear in any of the above tools, you can add records manually to your ORCID profile.

Login to your ORCID record
Click on “Add Works Manually”
Follow the on screen prompts to enter the information about your papers

Baca Juga : 

ORCID (Open Researcher and Contributor ID)

ORCID (Open Researcher and Contributor ID)

ORCID (Open Researcher and Contributor ID)

ORCID (Open Researcher and Contributor ID)
ORCID (Open Researcher and Contributor ID)

ORCID aims to solve the name ambiguity problem in research and scholarly communication by creating a central registry of unique identifiers for individual researchers and an open and transparent linking mechanism between ORCiD and other current researcher ID schemes. These identifiers, and the relationships among them, can be linked to the researcher’s output to enhance the scientific discovery process and to improve the efficiency of research funding and collaboration within the research community. ORCID is a non-profit organization funded by institutional memberships (UChicago will soon be a member), grant-making organizations, and a wide variety of research organizations and publishers.

An ORCiD identifier, or ORCID id, is a persistent, unique, numeric identifier for individual researchers and creators. It distinguishes you from other researchers with the same (or very similar) name and supports automated linkages between you and your research activities. YourORCID record, which includes your ORCiD identifier, holds non-sensitive information such as name, organization, and research activities.

Since many major publishers and other information producers are integrating ORCID identifiers into their products and tools, having an ORCID identifier may help simplify processes like journal article manuscript submission. Some granting agencies (e.g., NIH) are piloting the use of ORCID identifiers to manage granting information.

Sumber : https://galleta.co.id/

Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi

Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi

Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi

Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi
Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi

1. Dasar Pengembangan Kurikulum

2. Menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS)

3. Panduan Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) 2016

4. Pengertian Pembelajaran

5. Konsep Nomenklatur- Rumpun Iptek

5a. Peta Ilmu

6. SKS – Pemikiran Perhitungan Jumlah SKS Prodi dan Besaran SKS Mata Kuliah

7. BINUS Diploma Supplement – SKPI

8. Langkah Menyusun CP pada KPT

9. Langkah Menyusun Kurikulum Pendidikan Tinggi

10. Form Evaluasi Workshop

11. Rencana Pembelajaran Semester metil

12. Rencana Pembelajaran Semester Generik

13. Panduan Pelatihan Pembuatan Format Tugas Mahasiswa

14. Panduan Latihan Pembuatan Rubrik

15. Panduan Ringkas Menyusun KPT + Judul

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Proses Perangkat Lunak

Proses Perangkat Lunak

Proses Perangkat Lunak

Proses Perangkat Lunak
Proses Perangkat Lunak

Sebuah kerangka kerja proses umum dibangun dengan mendefinisikan sejumlah kecil aktivitas kerangka kerja yang bisa diaplikasikan ke semua proyek perangkat lunak, tanpa melihat ukuran atau kompleksitasnya. Sejumlah task set- tiap koleksi rekayasa perangkat lunak yang mengerjakan tugas – tugas, tonggak proyek, hasil usaha perangkat lunak dan bisa dipesan, serta titik jaminan kualitas- memungkinkan aktivitas kerangka kerja disesuaikan dengan karakteristik proyek perangkat lunak dan kebutuhan tim proyek. Akhirnya, aktivitas pelindung- seperti jaminan kualitas perangkat lunak, manajemen konfigurasi perangkat lunak- lampiran model proses. Aktivitas pelindung tidak tergantung pada satupun aktivitas kerangka kerja dan terjadi pada seluruh proses.

trio1

[gambar 1] Proses Perangkat Lunak

Rekayasa perangkat lunak Institute (SEI) telah mengembangkan model komprehensif yang didasarkan atas sekumpulan kapabilitas rekayasa perangkat lunak yang harus ada sebagai organisasi yang mencapai tingkat kematangan proses yang berbeda. Untuk menentukan keadaan suatu organisasi dalam hal kematangan prosesnya, SEI menggunakan perkiraan kuesioner serta skema gradasi lima poin. Skema gradasi tersebut menentukan pemenuhan dengan sebuah model kematangan kapabilitas yang mendefiniskan aktivitas kunci yang dibutuhkan pada tingkat kematangan proses yang berbeda. Pendekatan SEI memberikan sebuah pengukuran terhadap efektivitas global dari sebuah praktek perekayasaan perangkat lunak perusaahaan dan membangun lima tingkat kematangan proses, yang didefinisikan dengan cara berikut :

a. Level 1

Initial – Proses perangkat lunak yang ditandai sebagai ad hoc, dan bahkan kadang – kadang bersifat kacau.

b. Level 2

Repeatable – Proses – proses manajemen proyek dasar dibangun untuk menulusuri masalah biaya, jadwal, dan fungsionalitas. Disiplin proses yang perlu ada untuk mengulangi sukses – sukses proyek yang terdahulu dengan penerapan yang sama.

c. Level 3

Defined – Proses perangkat lunak, baik untuk aktivitas manajemen atau perekayasaan didokumentasikan, distandarkan, dan diintregasikan ke dalam proses perangkat lunak organisasi besar. Semua proyek menggunakan versi proses organisasi yang didokumentasikan dan disahkan untuk pengembangan dan pemeliharaan perangkat lunak. Tingkat ini menyangkut semua ciri yang didefinisikan pada tingkat 3.

d. Level 4

Managed – Pengukuran detail terhadap proses perangkat lunak dan kualitas produksi dikumpulkan. Produk dan proses perangkat lunak dipahami secara kuantitatif dan dikontrol dengan menggunakan pengukuran secara detail. Tingkat ini termasuk semua karakteristik yang didefinisikan pada tingkat 3.

e. Level 5

Optimizing – Pertambahan proses yang terus – menerus dimungkinkan oleh umpan balik kuantitatif dari prose dan dari gagasan inovatif pengujian serta teknologi. Tingkat ini termasuk semua ciri yang didefinisikan pada tingkat 4.

Lima tingkat yang didefinisikan oleh SEI ini disimpulkan dari sebuah konsekuensi respon evaluasi ke assessment questionnaire yang didasarkan pada CMM. Hasil dari kuesioner tersebut didestilasi menjadi sebuah tingkatan numeric tunggal yang memberikan identifikasi terhadap kematangan proses organisasi.

SEI telah menggabungkan area proses kunci dengan masing – masing tingkat kematangan. KPA menggambarkan fungsi – fungsi rekayasa perangkat lunak yang harus ada untuk memenuhi praktek yang baik pada suatu tingkat tertentu. Setiap KPA digambarkan dengan mengidentifikasikan ciri – ciri sebagai berikut :

a. Tujuan – objektif keseluruhan yang harus dicapai oleh KPA.

b. Komitmen – kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan, dan yang membuktikan dari maksud mencapai tujuan.

c. Kemampuan – hal – hal tersebut harus ada yang akan memungkinkan organisasi untuk memenuhi komitmennya.

d. Aktivitas – tugas – tugas khusus yang dibutuhkan untuk mencapai fungsi – fungsi dari KPA.

e. Metode untuk memonitor informasi – sikap dimana kegiatan dimonitor pada saat dipakai.

f. Metode – metode untuk memverifikasi informasi – sikap dimana praktek yang sesuai untuk KPA diverifikasi.

Baca Juga : 

Rekayasa Perangkat Lunak

Rekayasa Perangkat Lunak

Rekayasa Perangkat Lunak

Rekayasa Perangkat Lunak
Rekayasa Perangkat Lunak

Pengertian dan Tujuan

Menurut IEEE Computer Society : Rekayasa perangkat lunak sebagai penerapan suatu pendekatan yang sistematis, disiplin dan terkuantifikasi atas pengembangan, penggunaan dan pemeliharaan perangkat lunak, serta studi atas pendekatan-pendekatan ini, yaitu penerapan pendekatan engineering atas perangkat lunak.

Rekayasa Perangkat Lunak adalah pengubahan perangkat lunak itu sendiri guna mengembangkan, memelihara, dan membangun kembali dengan menggunakan prinsip reakayasa untuk menghasilkan perangkat lunak yang dapat bekerja lebih efisien dan efektif untuk pengguna.
Tujuan Rekayasa Perangkat Lunak
Secara lebih khusus kita dapat menyatakan tujuan dan Rekaya Perangkat Lunak ini adalah:
Memperoleh biaya produksi perangkat lunak yang rendah.
Menghasilkan pereangkat lunak yang kinerjanya tinggi, andal dan tepat waktu
Menghasilkan perangkat lunak yang dapat bekerja pada berbagai jenis platform
Menghasilkan perangkat lunak yang biaya perawatannya rendah
Kriteria Dalam Merekayasa Perangkat Lunak
Dapat terus dirawat dan dipelihara (maintainability)
Dapat mengikuti perkembangan teknologi (dependability)
Dapat mengikuti keinginan pengguna (robust).
Efektif dan efisien dalam menggunakan energi dan penggunaannya.
Dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan (usability).
Ruang Lingkup Rekayasa Perangkat Lunak
Software Requirements berhubungan dengan spesifikasi kebutuhan dan persyaratan perangkat lunak.
Software desain mencakup proses penampilan arsitektur, komponen, antar muka, dan karakteristik lain dari perangkat lunak.
Software construction berhubungan dengan detail pengembangan perangkat lunak, termasuk. algoritma, pengkodean, pengujian dan pencarian kesalahan.
Software testing meliputi pengujian pada keseluruhan perilaku perangkat lunak.
Software maintenance mencakup upaya-upaya perawatan ketika perangkat lunak telah dioperasikan.
Software configuration management berhubungan dengan usaha perubahan konfigurasi perangkat lunak untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
Software engineering management berkaitan dengan pengelolaan dan pengukuran RPL, termasuk perencanaan proyek perangkat lunak.
Software engineering tools and methods mencakup kajian teoritis tentang alat bantu dan metode RPL.

Sumber : https://cialis.id/

METRIK UNTUK MODEL DESAIN

METRIK UNTUK MODEL DESAIN

METRIK UNTUK MODEL DESAIN

METRIK UNTUK MODEL DESAIN
METRIK UNTUK MODEL DESAIN

Metrik desain untuk perangkat lunak computer, seperti metric perangkat lunak yagn lain, tidaklah sempurna. Perdebatan terus berlanjut mengenai kehandalan metric dan bagaiman metric seharusnya diaplikasikan. Banyak pakar memperdebatkan bahwa diperlukan eksperimen lebih lanjut sebelum pengukuran desain dapat dilakukan.

1. Metrik desain Tingkat Tinggi

Metrik ini berfokus pada karakteristik arsietktur program dengan tekanan pada struktur arsitektur serta keefektifan modul. Metrik-metrik tersebut adalah black – box dalam hal bahwa mereka tidak membutuhkan pengetahuanapapun mengenai kerja inti suatu modul tertentu dengan system.

2. Metrik desain Tingkat Komponen

Metrik desain tingkat komponen berfokus pada kerakteristik internal dari komponen perangkat lunak dan mencakup pengukuran kohesi, perangkaian, dan kompleksitas modul.
Metrik yang direpresentasikan pada bagian ini adalah glass-box dalam hal bahwa metric membutuhkan pengetahuan kerja inti dari modul yagn dipertimbangkan. Metrik desain tingakt komponen dapat diaplikasikan begtu desain procedural dikembangkan. Secara alternatif metric dapat ditunda sampai kode sumber data diperoleh.

Matrik Kohesi
Sekumpulan metric yagn dapat memberikan indikasi mengenai tingakt kohesi sebuah modul.
Metrik ini dapat didefinisikan dalam lima konsep pengukuran:
– Data Silce : adalah perjalanan balik melalui suatu modul yang mencari niali-nilai data yang mempengaruhi lokasi modul dimana perjalanan itu dimulai. Baik program slice (yagn berfokus pada statemen dan kondisi) maupun data slice dapat ditentukan.
– Data Tokens : Variabelyagn ditentukanuntuk sebuah modul dapat ditentukan sebagai data tokens untuk modul itu
– Glue Tokens : Himpunan data token yagn berada pada satu data slice atau lebih
– Superglue Tokens : Data token yang umum bagi setiap data slice pada sebuah modul
– Stickiness : Kelengketan relative dari suatu glue token berbanding lurus dengan sejumlah data slice yagn mengikatnya

Matrik Kompleksitas
Berbagai metric perangakt lunak dapat dihitung untuk mentukan kompleksitas aliran control program. Beberapa dari mereka didasarkan pada representasi yang disebut grafik alir. Graik adalah representasi yagn terdiri dari garis (link, edge) dan simpul. Bila edge ini diarahkan maka gerfik ini menjadi grafik terarah.

3. Metrik Desai Interface

Dalam metric ini kesesuaian layout sebagai metric desain yang signifikan untuk interface manusia mesin. GUI tipical menggunakan entitas layout, grafik, ikon, teks, menu, window dan sebagainya untuk membantu pemakai menyelesaian tugas – tugas. Pemakai harus bergeak dari entitas layout satu ke entitas layout selanjutnya. Posisi relative dan absolut adri masing – masing entitas layout , frekuensi dimana dia digunakan, dan biaya transisi dari entitas layout satu ke entitas layout selanjutnya, kesemuanay akn memberikan kontribusi pada kesesuaian interface.

Sumber : https://forbeslux.co.id/

Macam – Macam Ultrabook

Macam - Macam Ultrabook

Macam – Macam Ultrabook

Macam - Macam Ultrabook
Macam – Macam Ultrabook

Baru-baru ini Apple merilis MacBook Air dengan dua pilihan screen : 11 Åh dan 13Åh. MacBook Air 13Åh digerakkan Intel Core i5-2257 M 1.7 GHz. Apple juga menambahkan Thunderbolt ke kedua Air untuk menggantikan Mini DisplayPort. Seri ini juga sudah ditanami sistem operasi yaitu OSX 10.7 lion.
MacBook Air 13 inci adalah yang terbaru dan menjadi versi terbesar dari seri MacBook Air yang tidak diragukan lagi yang terbaik pada kinerja dan tampilan. Generasi sebelumnya juga menawarkan prosesor yang lebih baik, keyboard backlit dan sebuah konektor Thunderbolt dan yang satu ini adalah yang terbaik dari serinya. Peningkatan MacBook Air mencakup segala sesuatu yang membuatnya lebih cepat dan lebih baik. MacBook Air adalah pilihan yang cocok untuk varian baru yang menjadi pemimpin dalam gaya dan fitur.

MacBook Air Apple

Macbook Air notebook
Meskipun MacBook Air ini telah menjadi pilihan optimal untuk sebuah notebook pada ukuran dan harga senilai kinerjanya. Banyak pengguna dapat mengatakan bahwa MacBook Air adalah gadget yang paling ultraportable. Layar 13 inci dan tidak terlalu kecil seperti 10 inch.
Desain dan kinerja
MacBook Air adalah produk Apple yang cenderung terlihat lebih seperti sebelumnya-gen model yang termasuk sebagai generasi ketiga di super slim seri laptop Apple. MacBook Air baru ini menawarkan model yang 13in prosesor Sandy Bridge terbaru, Bluetooth 4.0 dan keyboard backlit rapi untuk meningkatkan kinerja di setiap aplikasi.

Macbook Air notebook tertipis
Tampilan ramping dan elegan MacBook Air
Tampilan MacBook Air cantik dengan tebal 17mm pada titik paling tebal membuat hampir mustahil untuk meniru oleh merek apapun. MacBook Air adalah produk Apple yang cenderung terlihat lebih seperti sebelumnya-gen model yang termasuk sebagai generasi ketiga di super slim seri laptop Apple. Dengan hanya berat badan 1.34kg menjadi notebook yang menawarkan laptop sensibilitas lebih meyakinkan, berat ini membuat lebih nyaman untuk digunakan di lap. Dengan banyak fitur baru, pengguna ahli banyak direkomendasikan MacBook Air.
Karakteristik MacBook Air
Macbook Air 13 inci :
Ukuran dan Berat :
Tinggi : 0.11-0.68 inci (0.3-1.7 cm)
Lebar : 12.8 inci (32.5 cm)
Berat : 2.96 pound (1.35 kg)1
Kedalaman : 8.94 inci (22.7 cm)
Prosesor dan Memori :
1.7GHz dual-core Intel Core i5 dengan 3MB shared L3 cache Prosesor
4GB of 1333MHz DDR3 memori onboard
Grafik :
Intel HD Graphics 3000 processor dengan 384MB of DDR3 SDRAM shared dengan main memory3
Koneksi :
SD card slot
Thunderbolt port
Two USB 2.0 ports (hingga 480 Mbps)
Camera and Video :
Kamera FaceTime
Mendukung resolusi penuh hingga 2560 by 1600 pixel
Penyimpanan :
128GB flash penyimpanan and 256GB flash .
Macbook Air 11 inci :
Size and Weight :
Tinggi : 0.11-0.68 inci (0.3-1.7 cm)
Lebar : 11.8 inci (30 cm)
berat : 2.38 Pound (1.08 kg)1
Kedalaman : 7.56 (19.2 cm)
Prosesor dan Memori :
1.6GHz dual-core Intel Core i5 with 3MB shared L3 cache
2GB ($999 model) or 4GB ($1199 model) of 1333MHz DDR3 onboard memory
Grafik :
Intel HD Graphics 3000 processor dengan 256MB ($999 model) or 384MB ($1199 model) of DDR3 SDRAM shared dengan main memory3
Koneksi :
Thunderbolt port
Two USB 2.0 ports (hingga 480 Mbps)
Kamera dan Video :
Kamera FaceTime
Mendukung resolusi penuh hingga 2560 by 1600 pixel
Penyimpanan :
64GB flash storage and 128GB flash storage

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Research Identifiers

Research Identifiers

Research Identifiers

Research Identifiers
Research Identifiers

What are ResearcherID and Scopus Author ID?
Because some database providers tried to solve the problem of mulitple authors with the same name before ORCID was developed, you should know about Reseacher ID (Web of Science) and Scopus Author ID, especially if you are publishing in the sciences or medicine.

ResearcherID is a unique identifier to enable researchers to manage their publication lists, track their times cited counts and h-index, identify potential collaborators and avoid author misidentification. In addition, ResearcherID information integrates with the Web of Knowledge and is ORCID compliant.

If your publications are generally indexed by Web of Science, you should probably create a basic ResearcherID account as well as an ORCID. It’s easy to transfer information between the two profiles, including the list of publications from Web of Science. By having a ResearcherID, you can review variants of your author name to collect all of your publications together in Web of Science for inclusion in ORCID.

Scopus Author ID is another identifier used specifically by the Scopus database and has many of the same features as the ResearcherID in that it helps manage publication lists and citations.

Baca Juga : 

Konten yang Dibagikan Secara Gratis Melalui Creative Commons

Konten yang Dibagikan Secara Gratis Melalui Creative Commons

Konten yang Dibagikan Secara Gratis Melalui Creative Commons

Konten yang Dibagikan Secara Gratis Melalui Creative Commons
Konten yang Dibagikan Secara Gratis Melalui Creative Commons

Apa Saja Konten yang Dibagikan Secara Gratis Melalui Creative Commons?
Melalui creative commons, banyak sekai jenis konten yang dibagikan mulai dari gambar (ilustrasi, desain, foto), teks, audio, konten audio visual, software dan berbagai jenis konten lainnya. Creative commons berupaya mempopulerkan budaya “free cultural works” atau budaya berbagi hasil karya sehingga karya-karya dengan ide yang brilian tidak hanya bisa digunakan oleh sang pencipta karya tersebut tapi juga bisa bermanfaat bagi orang lain.

Hingga saat ini jutaan karya yang memiliki lisensi creative commons bisa digunakan oleh para blogger, webmaster dan jurnalis secara gratis.

Empat Bentuk Lisensi Creative Commons
Secara garis besar, ada 4 bentuk lisensi yang dikelompokkan oleh creative commons. Keempat bentuk lisensi tersebut adalah :

BY (Atribusi) : atribusi kepada pemilik karya asli
SA (share alike) : peluang adanya karya turunan dari lisensi yang sama
NC (non commercial) : suakarya tidak boleh digunakan untuk kepentingan komersial
ND (no derivative works) : hanya memperbolehkan penggunaan karya asli tanpa turunan
Perkembangan Konten pada Creative Commons
Perkembangan konten creative commons terbilang sangat pesat dan meningkat drastis terhitung sejak tahun 2006. Pada tahun 2006 jumlah konten yang terdapat pada creative commons berkisar antara 50 juta dan jumlahnya meningkat drastis hingga tahun 2014 sebanyak 882 juta konten.

Sayangnya, peningkatan jumlah konten creative commons tidak diiringi dengan upaya para penggunanya untuk memberikan apresiasi terhadap hak cipta karya tersebut. Bahkan upaya atribusi dengan mencantumkan sumber pun sering dilalaikan oleh para pengguna konten yang bersumber dari creative commons.

Menempatkan atribusi pada konten yang berasal dari creative commons sebenarnya tidak sulit. Kita bisa membuat atribusi tepat di bawah konten atau setelah menyelesaikan post atau artikel. Mencantumkan sumber atau atribusi konten mencerminkan kalau kita menghormati hak cipta yang dimiliki oleh sang pembuat karya dan berterimakasih terhadap lisensi creative commons yang bisa kita gunakan secara leluasa.

Kalau kita adalah seorang #blogger, jurnalis atau profesi lainnya yang sering menggunakan konten gratis, maka pelajaran mengenai creative commons menjadi hal yang sangat berharga bagi kita. Belajar untuk menghargai dan mengakui hasil karya orang lain tentu membuat kita berkembang menjadi pribadi yang lebih santun dan baik lagi. Sebab tentu kita juga ingin menghasilkan karya-karya yang dihargai dan diakui oleh orang lain di kemudian hari.

Sumber : https://andyouandi.net/

Diktator Suharto ist tot

Diktator Suharto ist tot

Diktator Suharto ist tot

Diktator Suharto ist tot
Diktator Suharto ist tot

Jahrzehntelang regierte er Indonesien mit eiserner Hand und führte das Land in die Moderne. Tausende Missliebige und Andersdenkende wurden während seiner Gewaltherrschaft getötet. Heute ist der einstige Diktator Hadji Mohammed Suharto im Alter von 86 Jahren gestorben.

Jakarta – Seit seinem Abtritt von der Macht im Jahr 1998 lebte der “lächelnde General”, wie ihn westliche Medien gerne nannten, zurückgezogen in seiner Residenz in Jakarta. Während seiner jahrzehntelangen Herrschaft prägte er das Land wie kein anderer Politiker. Doch die Zeit des Aufschwungs wurde von den späteren Jahren seiner rücksichtslosen Herrschaft verdunkelt. Suharto wird als brutaler und korrupter Staatschef in Erinnerung bleiben – auch wenn er sich einer Strafverfolgung immer entziehen konnte.

Suharto

Ex-Diktator Suharto: Er führte Indonesien mit harter Hand
Suharto musste in den vergangenen Jahren mehrfach stationär behandelt werden, unter anderem wegen eines Herzleidens. Kritiker hatten jedoch immer wieder darauf hingewiesen, Suharto sei nicht so krank, wie er behaupte, sondern wolle sich nur dem Korruptionsprozess entziehen. Mit einem ärztlichen Attest hatte er im Jahr 2000 erreicht, dass ein Prozess wegen der Veruntreuung von umgerechnet rund 387 Millionen Euro aus öffentlichen Geldern ausgesetzt wurde.

Im September vergangenen Jahres jedoch wurde ein weiterer Prozess gegen ihn eröffnet. Die Justizbehörden forderten umgerechnet knapp eine Milliarde Euro von ihm zurück, die er als Präsident über dunkle Kanäle beiseite geschafft haben soll. Dieses Geld werden sie nun nicht mehr eintreiben können.

Der 1921 als Sohn einer Bauernfamilie auf Java geborene Suharto begann seine Karriere in der niederländischen Kolonialarmee in Indonesien. Während des Zweiten Weltkriegs kämpfte er gegen die japanische Besatzung, nach der Unabhängigkeit des Landes 1945 stieg er rasch in der Militärhierarchie auf. In den sechziger Jahren wurde er General.

Überzeugter Anti-Kommunist

Ins politische Rampenlicht trat Suharto 1965 durch seine maßgebliche Rolle bei der Niederschlagung eines angeblichen Putschversuchs von Kommunisten. In der Folge wurden mehrere Hunderttausend angebliche oder tatsächliche Mitglieder der Kommunistischen Partei hingerichtet. Als Armee-Oberbefehlshaber und Verteidigungsminister verdrängte er mit immer weiterreichenden Befugnissen den kränkelnden Präsidenten Sukarno schrittweise von der Macht.

Nach seinem offiziellen Amtsantritt als Präsident 1967 setzte Suharto stets alles daran, selbst am Schalthebel der Macht in dem riesigen Archipel mit rund 17.000 Inseln zu bleiben. Die Ränge der mächtigen Streitkräfte des Landes besetzte Suharto mit Gefolgsleuten. Über die Grenzen seiner Golkar-Partei hinaus nahm er auf die Führung der oppositionellen Demokratischen Partei Indonesiens (PDI) Einfluss, die Medien wurden strenger Kontrolle unterstellt.

Sympathien im Westen

Mit seiner antikommunistischen Haltung gewann Suharto außenpolitisch die Sympathien der USA. Der zurückhaltend und freundlich auftretende Präsident verschaffte sich auch in anderen Ländern der westlichen Welt Sympathien, in Deutschland gewann er die Freundschaft von Altbundeskanzler Helmut Kohl (CDU). Bei Menschenrechtlern stand Suharto hingegen in der Kritik. Sie warfen ihm im Zusammenhang mit dem Einmarsch in das nach Unabhängigkeit strebende Osttimor im Jahr 1975 Völkermord vor. In dem auf die Besatzung folgenden 25-jährigen Bürgerkrieg starben Schätzungen zufolge 200.000 Menschen.

Unter Suharto erlebte Indonesien auch einen rasanten Wirtschaftsboom, der dem Präsidenten den Beinamen “Vater des Aufschwungs” einbrachte. Er baute die Erdöl- und Gasproduktion sowie die Textilindustrie des landwirtschaftlich geprägten Landes aus. Das Bruttoinlandsprodukt pro Kopf stieg von 50 Dollar bei seinem Machtantritt auf etwa tausend Dollar vor Beginn der Asien-Krise 1997. Doch als der Kurs der Landeswährung Rupiah in der Folge ins Bodenlose stürzte, geriet Suharto unter Beschuss. Nach anhaltenden Studentenprotesten musste er am 21. Mai 1998 zurücktreten.

Baca Juga :