Kasus Kasus Cyber Crime

Kasus Kasus Cyber Crime

Kasus Kasus Cyber Crime

Kasus Kasus Cyber Crime
Kasus Kasus Cyber Crime

KEAMANAN KARTU KREDIT DAN SISTEM PEMBAYARAN ELEKTRONIK (E-PAYMENT)

Kasus Penipuan Kartu Kredit pada Sistem Pembayaran Elektronik

Kemudahan dalam transaksi perdagangan secara elektronik ternyata membawa beberapa masalah serius sehubungan dengan masalah keamanan dalam pembayaran secara elektronik yang diterapkan. Sistem pembayaran secara elektronik telah begitu mendominasi dalam era teknologi seperti sekarang dan banyak menarik minat para pemodal, pebisnis, perusahaan jasa pembayaran elektronik, perusahaan kartu kredit. Namun demikian kemudahan ini diiringi pula oleh resiko yang harus ditanggung dalam menggunakan sistem transaksi perdagangan seperti ini. Masalah utama yang dihadapi adalah begitu banyak penyalahgunaan teknologi untuk kejahatan, mengingat transaksi elektronik umumnya mengandalkan teknologi internet, maka kasus-kasus kejahatan internet secara langsung berhubungan dengan kerentanan transaksi dan pembayaran elektronik yang dilakukan melalui internet ini.  Mengingat transaksi elektronik umumnya dilakukan dengan menggunakan pembayaran melalui kartu kredit sebagai aktivasi atau otentifikasi transaksi, maka tentu saja kejahatan teknologi internet berhubungan pula dengan sistem pembayaran yang dilakukan dengan menggunakan kartu kredit, sehingga muncullah apa yang dinamakan dengan tindak penipuan atau penyalahgunaan kartu kredit (credit card fraud). Kejahatan penyalahgunaan kartu kredit ini muncul dengan berbagai versi. Kasus yang umum terjadi adalah kasus pemalsuan kartu kredit dengan berbagai tehnik terbaru, misalnya dengan teknik “Cardholder-Not-Present / CNP (Si Pemilik Kartu tidak Hadir saat transaksi) yang banyak terjadi di banyak negara akhir-akhir ini. Dengan semakin banyaknya jasa perbankan dan situs dagang yang menawarkan kemudahan jasa pembayaran dan finansial secara elektronik seperti internet banking, phone banking, dan e-commerce diiringi dengan penggunaan kartu kredit sebagai otorisasi transaksi maka para pelaku kejahatan yang mulanya bertindak secara fisik (begal, perampok, pencopet, dsb) kini mulai beralih ke dunia maya dengan harapan memperoleh target sasaran yang lebih besar, lebih menguntungkan dan resiko yang lebih kecil. Dengan berbagai cara mereka berusaha untuk mencari celah dan jalan yang bisa mereka susupi untuk menjalankan aksi-aksi kejahatan mereka.

Ide pembayaran transaksi perdagangan secara elektronik bukanlah hal yang baru. Bahkan sejak tahun 1970-an dan awal 1980-an, berbagai metode dan tehnik pembayaran melalui jaringan komputer dan kartu kredit sudah mulai diperkenalkan, terutama di negara-negara maju. Semakin tidak mengherankan lagi bahwa beberapa tahun terakhir ini para pengguna internet dunia meningkat dengan pesat hingga mencapai 930 juta pengguna dan jumlah ini terus meningkat secara eksponensial dari waktu ke waktu. Sistem pembayaran secara elektronik baru benar-benar mendunia sekitar akhir tahun 1996 dan awal tahun 1997, dimana begitu banyak lembaga komersial maupun lembaga pendidikan mulai berlomba-lomba mengembangkan sistem pembayaran baru ini dengan berbagai cara dan variasi yang unik pula. Beberapa banyak pula yang gagal dalam menerapkan sistem pembayaran elektronik ini. Misalnya sistem cyber cash dan Digi cash yang mengalami kerugian saat memperkenalkan cara pembayaran elektronik dan kemudahan penarikan uang tunai. Sistem pembayaran elektronik (E-Payment) mengandalkan pada sistem pentransferan nilai mata uang melalui jaringan internet dan teknologi komunikasi sebagai sarana lalu lintas data finansial sehubungan dengan sistem perdagangan elektronik yang diberlakukan (e-commerce). Sistem pembayaran elektronik (E-Payment) yang umum dilakukan ada beberapa jenis, yaitu menurut kategori Business to Business (B2B), Business to Consumer (B2C), Consumer to Business (C2B) dan Consumer to Consumer (C2C).

Masalah keamanan masih saja menjadi isyu utama dalam hal sistem pembayaran seperti ini karena resiko penipuan dan pemalsuan data elektronik masih saja ditemui sebagai kendala utama dalam sistem pembayaran elektronik ini. Bahkan dari tahun ke tahun jumlah kejahatan elektronik ini bukannya menurun malah semakin bertambah. Hal ini terutama terjadi karena semakin bertambahnya penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran secara luas, dimana celah ini dimanfaatkan oleh berbagai pelaku kejahatan terorganisir (baca= mafia) yang semakin merajalela melibatkan diri dalam berbagai aksi. Sebagai contoh, lebih dari satu dekade yang lalu kejahatan penipuan dan pemalsuan kartu kredit yang terjadi di Inggris mencapai jumlah kerugian sekitar 96.8 juta poundsterling. Dewasa ini angka itu meledak berkali lipat mencapai 402.4 juta poundsterling per tahun. Ini baru nilai nyata kerugian yang terlihat, belum nilai lain yang tidak langsung tampak seperti biaya yang harus ditanggung untuk pemulihan reputasi suatu lembaga finansial atau perusahaan, juga ongkos yang harus dikeluarkan untuk membiayai berbagai proses hukum sehubungan dengan kasus kejahatan yang menimpa suatu lembaga jasa finansial pembayaran atau perusahaan dagang yang menggunakan jasa pembayaran elektronik dalam transaksinya.

Sistem pembayaran dengan kartu kredit merupakan sistem pembayaran populer yang banyak diterapkan di jasa perdagangan online di internet. Penggunaan sistem pembayaran dengan kartu kredit pertama kali diperkenalkan sekitar antara tahun 1949 (kartu kredit Diner’s Club) dan tahun 1958 (kartu kredit American Express). Kedua kartu kredit ini menggunakan strip atau pita magnetik dengan data yang tidak terenkripsi serta berbagai informasi yang hanya bisa dibaca (read-only information). Namun seiring dengan perkembangan teknologi, jenis-jenis kartu kredit yang ada sekarang merupakan jenis “kartu kredit berteknologi pintar” yang dilengkapi dengan ekripsi data dan kapasitas penampungan data yang lebih besar daripada jenis-jenis pendahulunya.

Pada tahun 1996 Visa dan Master Card mengumumkan bahwa mereka telah bekerjasama mengembangkan sebuah protokol tertentu yang menjamin keamanan transaksi perbankan di internet. Proses ini melibatkan penggunaan teknologi enkripsi digital signature tingkat tinggi, juga sertifikat keamanan yang menyatu dengan proses transaksi itu sendiri sehingga tidak bisa diotak-atik oleh si pengguna sendiri atau bahkan orang lain yang berniat jahat. Biaya keamanan yang harus ditanggung oleh pengguna kartu kredit tentu saja tidak murah akibat adanya penggunaan teknologi yang berbasis keamanan ini, ini tercermin dari biaya transaksi yang tidak kecil setiap kali kartu kredit itu digunakan untuk transaksi.

Setiap kali akan bertransaksi di internet, seorang pengguna kartu kredit haruslah menyediakan data detil pribadinya sebagai salah satu otorisasi transaksi baik untuk layanan jasa maupun jual beli barang yang diaksesnya di internet. Celah keamanan saat pengisian data pribadi yang berisi detil data si pemilik kartu kredit ini tampaknya menjadi semacam senjata makan tuan. Celah inilah yang banyak digunakan oleh para pelaku kejahatan internet untuk memalsukan otorisasi transaksi sehingga seakan-akan transaksi tersebut benar-benar telah valid disetujui oleh si pemilik kartu kredit.

Namun demikian selain berbagai resiko keamanan, penggunaan kartu kredit masih mempunyai beberapa keunggulan seperti antara lain:

Ø  kartu kredit memungkinkan Anda untuk membeli barang atau jasa tanpa harus membawa sejumlah uang secara tunai.

Ø  Setiap transaksi pembelian atau pengeluaran dana akan selalu tercatat dengan baik.

Ø  Anda bisa memesan suatu barang melalui surat (mail-order) dan kemudian dibayar dengan menggunakan kartu kredit.

Ø  Kartu kredit memungkinkan Anda membeli barang berharga mahal dengan cara mencicil setiap bulannya.

Ø  Pada suatu kasus tertentu, Anda bisa menangguhkan pembayaran terhadap suatu barang yang sudah Anda beli bila Anda meragukan keamanan pembayaran yang akan Anda lakukan.

Ø  Memiliki kartu kredit berarti Anda tidak perlu merasa khawatir bepergian dan berbelanja ke luar negeri tanpa membawa mata uang lokal.

Ø  Dengan memiliki kartu kredit akan memudahkan Anda untuk pembayaran tagihan bulanan atau pun tagihan pajak secara otomatis.

Dengan kehadiran cara pembayaran online menggunakan kartu kredit, kemudahan belanja jarak jauh semakin mungkin untuk dilakukan. Anda tidak perlu keluar negeri hanya untuk membeli barang produk buatan luar negeri. Cukup berbelanja melalui internet, dan melakukan pembayaran dengan kartu kredit, maka barang akan diantarkan sampai ke alamat Anda dengan selamat

.Upaya-upaya pendeteksian dan pencegahan terhadap tindak penipuan dan penyalahgunaan kartu kredit semakin perlu dipertimbangkan dalam hal manajemen resiko yang diterapkan di berbagai industri kartu kredit dan perusahaan jasa layanan e-commerce.

Menurut sebuah studi mengenai profitabilitas layanan kartu kredit oleh bank sehubungan dengan aspek Manajemen Kartu Kredit, industri perdagangan online dan jasa pembayaran online mengalami kerugian mencapai satu milyar dolar setiap tahunnya akibat adanya tindak penipuan dan penyalahgunaan kartu kredit. Ini baru dihitung dari besarnya kerugian akibat adanya kartu-kartu kredit yang kebobolan, belum dihitung berapa besar kerugian yang dibebankan kepada para merchant (pedagang) akibat tindak penipuan melalui mail-order atau telephone order ; biasa disebut MOTO (layanan jual beli melalui transaksi surat menyurat; semacam katalog dan jual beli melalui telepon ; biasa dilakukan di negara-negara maju).

Tingkat kerugian ini meningkat dengan drastis dalam beberapa tahun terakhir ini, dimana tindak penipuan dan pemalsuan kartu kredit biasanya menggunakan tehnik terbaru yaitu dengan mengakali sistem pembayaran Cardholder-Not-Present (CNP) yang biasa diterapkan dalam sistem pembayaran transaksi online di internet, kemudian dikenal dengan istilah CNP Fraud. Di Inggris sendiri pada tahun 2004,kejahatan CNP fraud sendiri telah menyebabkan kerugian senilai 116.4 juta poundsterling, sementara itu di Amerika hal yang sama menyebabkan kerugian sebesar 428.2 juta dolar, sementara di Perancis menyebabkan kerugian sekitar 126.3 juta frank dalam periode yang sama. (Financial Times, January 2005; UN World Report on Electronic Fraud, December 2004).

Baca Juga

Pengaruh Gadget pada Minat Baca Anak

Pengaruh Gadget pada Minat Baca Anak

Gadget adalahhal yang ketika ini menjadi momok untuk banyak orang tua. Kehadiran teknologi ini sudah menjadi magnet negatif untuk sebagian anak, terutama untuk para orang tua yang tak dapat mengontrol pemakaian gadget pada anaknya. Saat ini lazimnya anak-anak lebih suka bermain gadget dikomparasikan membaca buku.

Buku sudah dirasakan hal yang tidak menarik sebab banyaknya game-game online yang dapat dimainkan lebih seru melewati gadget. Oleh karena itu, semua orang tua perlu menyimak masalah ini. Jangan menyerahkan gadget begitu saja untuk anak bila hendak anak mempunyai Minat baca yang baik, guna mengatasinya saya dan anda butuh melakukan sejumlah hal, yaitu:

Membuat perjanjian dengan anak tentang pemakaian gadget yang dapat ditebus dengan jadwal baca sang anak.
Menyediakan fasilitas kitab digital di dalam gadget yang bisa dibaca oleh anak kapan saja.
Mematikan koneksi data gadget sesudah perjanjian pemakaian gadget bareng anak selesai
Menjelaskan akibat kesehatan pemakaian gadget secara terus menerus untuk mata dan kesehatan tubuh lainnya.
Jika tetap hendak menggunakan gadget maka ajarkan hal-hal urgen yang bermanfaat seperti memakai perangkat pembelajaran online, belajar bahasa, membuka website-website belajar atau kisah online dan sebagainya, yaitu hal-hal yang bermanfaat. Sehingga di dalam gadget pun anda tetap dapat mengembangkan Minat baca anak-anak kita.

Sumber : studybahasainggris.com/

Menghidupi “Komunitas Global”

Menghidupi “Komunitas Global”

Menghidupi “Komunitas Global”

Menghidupi “Komunitas Global”

Bukan manusia jika hidup hanya sekedar fisik.

Iya, manusia selalu mengejar kehidupan metafisik, kehidupan yang bermartabat. Pertanyaan bagaimana menghidupi “komunitas global”, persis diletakkan dalam konteks etis ini, yang penjelasannya dimulai dari bagaimana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, bagaimana manusia berhadapan dengan beings yang lain dan bagaimana manusia bersama beings yang lain mewujudkan kehidupan yang beradab itu.

 

McLean memberikan fondasi metafisik dan religi

dalam isu globalisasi dengan merujuk pada pemikiran Nicholas Cusa yang melihat kehidupan global sebagai “unity in the whole”, dimana ada empat level unity. Pertama, individual unity dimana setiap being ada secara berbeda dengan yang lain. Kedua, individual within the whole beings unity, yaitu setiap being ada sebagai warga dari komunitas global. Ketiga, unity of the universe, yaitu beings itu bereksistensi dalam keberagaman bukan seperti satu gundukan batu. Keempat, absolute unity atau the One, God or Being, yaitu beings yang hidup dalam kepenuhannya[15]. Dengan demikian, ada dua prinsip yang menggerakkan “komunitas global”, yaitu prinsip individualitas dan prinsip komunitas. Prinsip individualitas maksudnya setiap individu berkontraksi secara unik dengan nilai-nilai yang melekat padanya. Prinsip komunitas maksudnya kontraksi individu yang unik itu saling berelasi dengan gerak unik individu lain, membentuk komunitas yang saling terhubung dalam level ontologis[16]. Komunitas global ini juga dilihat sebagai keberagaman dalam kesatuan (diversity and unity), maksudnya gerak unik setiap individu tidak selalu setara dengan individu yang lain, karena karakter dan kondisinya berbeda-beda.

 

Individu yang unik itu menurut McLain adalah

yang memiliki “subyektifitas” dan “realisasi diri”[17]. Subyektifitas adalah posisi manusia sebagai subyek yang memiliki keunikan sebagai pribadi, makhluk sadar, makhluk eksistensial yang memiliki kebebasan dan martabat. Manusia adalah pusat dan bukan obyek yang bisa diukur dengan ilmu sosiologi maupun psikologi. Manusia lebih kaya dari ukuran yang dikenakan padanya. Sedangkan “realisasi diri” maksudnya mengajak manusia untuk berpikir tentang masa depannya sendiri. Manusia menjadi penentu bagi perkembangan dirinya sendiri. Manusia selalu berada dalam proses “menjadi”, yang itu mengandaikan adanya tujuan, kebebasan dan tanggungjawab. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan eksistensial[18] yang melampaui kebebasan empiris[19]. “Kebebasan eksistensial” dalam proses “menjadi” ini memiliki beberapa makna. Pertama, sebagai tujuan yang memungkinkan dirinya dapat menyadari hidup sebagai sesuatu yang rasional dan bebas. Kedua, sebagai sumber kreatifitas yang memampukan manusia untuk berimajinasi dan melaksanakan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas. Ketiga, sebagai perwujudan atau manifestasi kesadaran manusia yang berusaha menjawab tantangan hidup sesuai dengan kapasitasnya. Keempat, sebagai kriteria bagi manusia untuk mempertimbangkan aksi macam apa yang akan dieksekusi. Kelima, sebagai penentu dan dasar bagi manusia dalam melakukan pilihan, persetujuan/penolakan akal segala hal.

 

Sedangkan Nietzsche menggunakan istilah

“ubermensch” atau manusia otentik. Menurutnya manusia otentik adalah yang menempatkan kepercayaan secara bijaksana, tidak menjadi ketergantungan. Dia berani membuang apapun yang menghalangi keotentikan manusia, membuat manusia terasing dari dirinya sendiri, menjatuhkan manusia dan mematahkan manusia. Dia berani melepas pujaan-pujaannya (mengingat manusia adalah binatang pemuja). Dia juga berani menghidupi tegangan kehidupan (yang mengerikan sekaligus indah). Manusia baru adalah “roh bebas” yang tidak lagi butuh percaya. Dia tahu bahwa kepercayaan itu tetap ada sekaligus ia tahu bahwa ia sedang bermain dengan permukaan-permukaan yang kadang memikat dan kadang mengecewakan[20].

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi

Penyaluran Bantuan Bencana Kelaparan dari Kemensos

Penyaluran Bantuan Bencana Kelaparan dari Kemensos

Penyaluran Bantuan Bencana Kelaparan dari Kemensos
Penyaluran Bantuan Bencana Kelaparan dari Kemensos

BANDUNG – Tim Kementerian Sosial RI secara bertahap telah menyalurkan bantuan bemcana kelaparan terhadap Warga Suku Mausu Ane, Negeri Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI Harry Hikmat mengatakan tim bergerak dari Posko Terpadu Penanganan Wabah Kelaparan di Desa Morokai menuju titik kumpul sementara warga Maneo. Jalan menuju lokasi ditempuh menggunakan kendaraan double cabin melewati medan yang terjal, jalanan tanah dan sungai setinggi lutut orang dewasa.

“Tim ini diterjunkan sebagai respon cepat kejadian bencana kelaparan akibat perkebunan mereka diserang babi dan tikus,”kata Harry dalam keterangan resminya di Bandung, Sabtu (28/7/2018).

Harry mengatakan tugas Tim Kemensos di antaranya mengidentifikasi warga yang sakit,

mendata keluarga korban meninggal, menyusun kronologi kejadian, menyalurkan bantuan logistik, serta mengidentifikasi kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang mereka.

Desa Morokai merupakan desa terdekat dengan lokasi pemukiman warga Negeri Maneo Rendah. Posko Terpadu yang didirikan di desa ini merupakan pusat koordinasi lintas sektor sekaligus titik menurunkan berbagai bantuan untuk disalurkan ke warga Maneo.

Selain Tim Kemensos, juga turut dalam rombongan adalah personel dari TNI,

Polri, BPBD Maluku, berbagai unsur relawan, serta Kepala Desa Morokai yang bertindak sebagai penerjemah bahasa lokal setempat.

Harry mengatakan Tim Kemensos sebanyak tujuh orang terdiri dari beberapa unit kerja yakni Komunitas Adat Terpencil (KAT), Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam, Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, dan Pusat Penyuluhan Sosial. Ditambah personel dari Dinas Sosial Provinsi Maluku, Dinas Sosial Kabupaten Maluku Tengah, serta Taruna Siaga Bencana (Tagana).

“Sebagaimana yang Bapak Menteri Sosial selalu tekankan apabila

terjadi bencana warga terdampak harus mendapat prioritas utama penanganan, maka untuk jangka pendek bantuan logistik sudah disalurkan oleh tim TAGANA Provinsi Maluku bersama dinas sosial setempat. Langkah ini merupakan bantuan jangka pendek,” tegasnya.

Seperti diketahui, sebanyak 10 personel TAGANA Provinsi Maluku bersama Dinas Sosial Provinsi Maluku dan Dinas Sosial Kabupaten Maluku Tengah menyalurkan bantuan logistik. Bantuan berupa 1 ton beras, 190 lembar matras, 270 lembar selimut, 35 paket mainan untuk anak-anak, 60 paket untuk lansia, 45 paket perlengkapan bayi, 90 paket lauk pauk, peralatan dan perlengkapan memasak (panci, wajan, piring, gelas), 45 unit tenda gulung.

“Bantuan logistik dari Kementerian Sosial sudah mulai dibagikan. Kami juga meminta Petugas KAT dari Pusat dan Tagana untuk membimbing dan membantu warga dalam mengolah makanan seperti beras dan lauk pauknya,” tuturnya. (Jo)

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/buku-tentang-tumbuhan-paku/

Melalui Puisi Esai Bangun Karakter Siswa di Sekolah

Melalui Puisi Esai Bangun Karakter Siswa di Sekolah – Guru dan murid di sekolah mempunyai persoalan karakter yang menggambarkan keberagaman, kesetaraan dan kemerdekaan warga negara. Riset survei LSI Denny JA (2018) mengejar semakin tingginya tingkat intoleransi di kalangan murid dan semua guru.

Di luar penelitian itu, diketahui luas isu soal narkoba, pernikahan dini, apatisme atas isu lingkungan, family yang patah (broken home), dan penelusuran identitas diri di kalangan siswa.

Dalam penjelasan yang diterima, Sabtu (17/11/2018), komunitas puisi esai menyerahkan ikhtiar. Disamping edukasi karakter melewati agama dan Pancasila, bagaimana andai digalakkan pula pengajaran puisi esai.

Ini jenis puisi yang panjang, dengan daftar kaki, yang memberi ruang untuk drama moral yang menyentuh. Lima dosen dan guru, dari lima pulau yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua, bareng menyusun kitab panduan soal puisi esai guna sekolah.

“Sastra tidak saja belajar karya baku semua sastrawan. Sastra juga ialah ekspresi semua siswa dan mahasiswa atas lingkungan sosialnya sendiri, kemarahannya, ketakutannya, kegembiraanya, harapannya,” ujar Denny JA dalam penjelasan tertulis.

Berdasarkan keterangan dari Denny dengan tidak banyak riset, kenyataan dan data di lingkungan sosial oleh semua siswa bisa dituliskan dalam daftar kaki. Mereka menambahkan rekaan sehingga cerita nyata tersebut menjadi drama, menjadi cerpen yang dipuisikan.

“Detail soal puisi esai bisa dipelajari semua guru dan dosen melalui kitab di atas: mengenal puisi esai. Pembaca bisa pula membacanya secara daring,” sambungnya.

Sebelumnya, 176 penyair dari 34 provinsi telah menyebutkan kebijaksanaan lokal di provinsinya masing masing dalam 34 kitab puisi esai. Kisah kebiasaan Indonesia di 34 provinsi tersaji di sana.

12 penyair Malaysia dan Indonesia telah pula menyebutkan riwayat hubungan dua negara dalam puisi esai. Mempelajari Hubungan kultural dan batin Indonesia malah lebih terasa dalam format sastra.

“Kini penyair dari Brunei, Thailand, Singapura menyebutkan riwayat kulturnya sendiri, pun dalam puisi esai,” ucap Denny.

Di Malaysia, bahkan dikenalkan lomba mencatat puisi esai di tingkat Asean. Dan sekarang anak anak SMA di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mulai pula mengerjakan riset soal dunia mereka sendiri. Riset tersebut ditambahkan rekaan menjadi puisi esai.

Sumber: sekolahan.co.id